Harianjogja.com, JOGJA— Proses penemuan obat yang selama ini bisa memakan waktu hingga 10–15 tahun berpeluang dipercepat berkat inovasi terbaru dari OpenAI. Perusahaan teknologi ini memperkenalkan model kecerdasan buatan bernama GPT-Rosalind, yang dirancang khusus untuk membantu riset ilmu hayati seperti biologi molekuler dan pengembangan obat.
Model ini mengambil nama dari Rosalind Franklin, ilmuwan yang berperan penting dalam mengungkap struktur DNA. Penamaan tersebut mencerminkan ambisi besar teknologi ini: mempercepat terobosan ilmiah yang berdampak langsung pada kesehatan manusia.
GPT-Rosalind memungkinkan peneliti menyaring jutaan data ilmiah dalam waktu singkat. Teknologi ini membantu menentukan target penelitian, menyusun hipotesis yang lebih akurat, hingga merancang eksperimen dengan kualitas lebih tinggi. Dengan pendekatan ini, proses panjang dalam pengembangan obat diharapkan bisa dipangkas secara signifikan.
Menurut laporan yang dirilis melalui blog resmi OpenAI pada 16 April 2026 dan dikutip dari CNET sehari setelahnya, model ini telah diuji dalam berbagai bidang seperti kimia organik, penelitian protein, hingga genetika. Peneliti dapat memanfaatkan GPT-Rosalind untuk menemukan referensi ilmiah relevan maupun menyusun desain eksperimen berbasis data.
Di Amerika Serikat, proses pengembangan hingga persetujuan obat baru saat ini membutuhkan waktu sangat panjang, yakni antara 10 hingga 15 tahun. Kehadiran teknologi ini membuka peluang percepatan, meski belum sepenuhnya menggantikan tahapan uji klinis yang ketat.
Meski menjanjikan, penggunaan AI dalam riset sains juga memunculkan kekhawatiran. Sejumlah ilmuwan menyoroti potensi penyalahgunaan, termasuk risiko dalam pengembangan senjata biologis serta bias data yang dapat memengaruhi hasil penelitian. Menanggapi hal itu, OpenAI menegaskan bahwa GPT-Rosalind telah dibekali sistem pengamanan untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.
Dalam pengembangannya, OpenAI menggandeng sejumlah institusi besar seperti Amgen, Moderna, Allen Institute, dan Thermo Fisher Scientific. Kolaborasi ini bertujuan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja riset obat secara langsung.
Wakil Presiden Senior AI dan Data Amgen, Sean Bruich, menyebut kerja sama tersebut membuka peluang baru dalam percepatan distribusi obat kepada pasien. Menurutnya, pemanfaatan teknologi AI memungkinkan proses penelitian menjadi lebih efisien dan inovatif.
Di sisi lain, persaingan pengembangan AI untuk sains juga semakin ketat. Google DeepMind sebelumnya telah meluncurkan AlphaFold, sistem yang mampu memprediksi struktur protein dan berkontribusi pada penghargaan Nobel Kimia 2024. CEO DeepMind, Demis Hassabis, menilai bahwa AI memiliki potensi terbesar dalam meningkatkan kesehatan manusia dan mempercepat penemuan ilmiah.
Selain itu, perusahaan AI lain seperti Anthropic juga telah merilis Claude for Life Sciences pada awal 2026, menandakan bahwa pemanfaatan AI di bidang kesehatan akan semakin luas.
Saat ini, GPT-Rosalind masih tersedia dalam tahap pratinjau terbatas melalui platform ChatGPT, Codex, dan API bagi pengguna yang memenuhi syarat dalam program akses terpercaya OpenAI. Ke depan, teknologi ini berpotensi menjadi alat penting bagi peneliti, akademisi, hingga mahasiswa di Indonesia untuk mempercepat riset dan inovasi di bidang kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

6 hours ago
6

















































