Air Terbatas, Petani Bantul Pilih Palawija yang Lebih Hemat

4 hours ago 1

Air Terbatas, Petani Bantul Pilih Palawija yang Lebih Hemat

Pertanian - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, BANTUL—Petani di Kabupaten Bantul mulai menyesuaikan pola tanam mereka seiring memasuki musim kemarau. Setelah menyelesaikan panen padi yang ditanam sejak April lalu, sebagian petani kini bersiap menanami lahannya dengan berbagai komoditas palawija yang membutuhkan air lebih sedikit.

Salah satu pilihan yang banyak dilirik adalah kacang tanah. Tanaman ini dinilai lebih cocok ditanam pada musim kemarau karena kebutuhan airnya relatif rendah dan masa panennya cukup singkat.

Petani di Pringgolayan, Banguntapan, Heru Mulyono, mengaku telah menyiapkan rencana menanam kacang tanah setelah panen padi selesai dilakukan pada akhir Juli mendatang.

Menurutnya, kacang tanah lebih mudah dirawat dibanding sejumlah komoditas lain dan tidak memerlukan pengairan yang intensif selama masa pertumbuhan.

"Kalau kacang tanah itu biasanya mengairi paling dua kali dari awal tanam sampai panen," kata Heru, Kamis (9/7/2026).

Keterbatasan air menjadi salah satu alasan utama petani memilih tanaman tersebut. Di wilayah Banguntapan, petani selama ini mengandalkan pasokan air dari saluran irigasi yang bersumber dari Sungai Gajahwong.

Namun saat musim kemarau, distribusi air kerap tidak berjalan optimal karena kondisi saluran yang tertutup dan sulit dibersihkan. Akibatnya, sebagian petani harus mengandalkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan.

"Mestinya kalau cuman untuk pertanian itu lebih dari cukup. Namun air yang sampai petani itu cuman separuh. Karena di jembatan Tegalgendu sana untuk kolam ikan banyak sekali," ujarnya.

Setelah panen padi rampung, Heru berencana mengeringkan lahan terlebih dahulu sebelum memulai proses penanaman kacang tanah. Tahapan tersebut dilakukan dengan membersihkan sisa batang padi agar tidak memicu pertumbuhan gulma yang dapat mengganggu tanaman baru.

Ia memperkirakan masa panen kacang tanah hanya membutuhkan waktu sekitar 70 hari sejak penanaman.

"Kalau kacang tanah nanti usia 70 hari sudah panen. Biasanya sudah ada yang langsung membeli mulai dari pohon dan kacangnya," kata Heru.

Selain kacang tanah, petani sebenarnya juga dapat menanam jagung pada musim kemarau. Namun menurut Heru, kebutuhan perawatan jagung relatif lebih besar dibanding kacang tanah sehingga banyak petani memilih komoditas yang dianggap lebih praktis.

Ia menilai teknik budidaya tanaman palawija saat ini juga semakin sederhana dibandingkan beberapa tahun lalu.

"Kalau dulu setelah tumbuh sebelum berkembang itu harus dicangkul dulu di sela-selanya, tapi kalau sekarang enggak," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mendorong petani memanfaatkan musim kemarau dengan menanam komoditas berumur pendek agar lahan tetap produktif meski pasokan air terbatas.

Menurutnya, tanaman palawija maupun varietas padi berumur pendek menjadi alternatif yang cukup ideal karena kebutuhan airnya lebih rendah dibanding tanaman lain.

Untuk mengantisipasi potensi kekeringan, pemerintah daerah juga telah menyiapkan ribuan unit pompa yang dapat dimanfaatkan petani di wilayah yang mengalami kesulitan air.

“Kami juga sudah siapkan pompa bagi daerah yang mungkin kekeringan. Sudah hampir 5.000 unit pompa kami sediakan,” kata Joko.

Ia menjelaskan hampir seluruh wilayah di Kabupaten Bantul memiliki potensi yang baik untuk budidaya palawija selama musim kemarau. Karena itu, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca dan ketersediaan air guna menjaga produktivitas sektor pertanian.

Melalui pola tanam yang menyesuaikan musim dan dukungan sarana pengairan, petani diharapkan tetap mampu menjaga hasil produksi meski menghadapi tantangan kekeringan pada pertengahan tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news