Maroko vs Prancis: 6 Pemain Maroko Lahir di Prancis

5 hours ago 1

 6 Pemain Maroko Lahir di Prancis

Prancis vs Maroko/Instagram: equipedumaroc


Harianjogja.com, JOGJA—Laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Maroko yang digelar Jumat (10/7/2026) pukul 03.00 dini hari WIB bukan sekadar perebutan tiket semifinal.

Di balik duel dua negara di atas lapangan hijau, tersimpan cerita panjang tentang sejarah, migrasi, identitas, dan sepak bola diaspora yang menyentuh kehidupan jutaan orang dari kedua negara.

Bagi masyarakat awam yang mungkin hanya melihat pertandingan sebagai adu strategi, laga ini sebenarnya adalah cerminan bagaimana ikatan sejarah dan darah masih terasa kuat hingga generasi sekarang, terutama melalui pemain-pemain Maroko yang lahir dan besar di Prancis namun memilih membela negara leluhur mereka.

Kedua negara memang memiliki hubungan sejarah yang panjang. Maroko pernah berada di bawah protektorat Prancis pada 1912 hingga 1956. Hubungan itu masih terlihat sampai sekarang, mulai dari bahasa, pendidikan, bisnis, komunitas migran, hingga sepak bola. Menariknya, hubungan darah dan pembinaan itu justru lebih kuat terlihat dari sisi Maroko.

Sejumlah pemain Maroko lahir di Prancis dan tumbuh dalam lingkungan sepak bola Prancis, tetapi memilih membela negara leluhur mereka. Fenomena ini menjadi salah satu daya tarik utama pertemuan kedua tim di babak delapan besar kali ini.

Dalam skuad Maroko di Piala Dunia 2026, ada beberapa pemain yang lahir di Prancis. Salah satu nama adalah Ayyoub Bouaddi. Pemain muda ini lahir di Prancis dan berkembang bersama Lille.

Bouaddi sempat berada dalam tim nasional Prancis di level usia muda, bahkan pernah menjadi kapten Prancis U-21 sebelum akhirnya memilih Maroko. Pemain yang kini tengah bersinar dan menjadi salah satu jangkar di lini tengah Maroko.

Selain Bouaddi, ada juga Issa Diop. Bek kelahiran Toulouse itu pernah memperkuat Prancis di level usia muda sampai U-21. Diop juga satu angkatan dengan Mbappe di tim usia muda Prancis. Nama lain yang punya jejak Prancis adalah Neil El Aynaoui.

Ia lahir di Nancy dan menjadi bagian dari generasi diaspora Maroko yang berkembang di Eropa.

Ada pula Samir El Mourabet yang lahir di Strasbourg, Gessime Yassine yang lahir dekat Marseille, serta Redouane Halhal yang lahir di Montpellier. Para pemain Maroko kelahiran Prancis ini nantinya akan melakoni laga yang cukup berat. Mereka akan menghadapi skuad Prancis yang berisi nama-nama bintang besar di hampir setiap lini, seperti Mbappe, Ousmane Dembele, Aurelien Tchouameni, William Saliba, Michael Olise, hingga Rayan Cherki.

Maroko menjadi tim dengan jumlah pemain diaspora paling banyak di Piala Dunia 2026. Dari 26 pemain yang dibawa, hanya tujuh pemain yang lahir di Maroko. Sisanya, sebanyak 19 pemain, lahir di luar negeri.

Komposisinya cukup mencolok. Enam pemain lahir di Prancis, enam pemain lahir di Spanyol, tiga pemain lahir di Belanda, tiga pemain lahir di Belgia, dan satu pemain lahir di Kanada. Tiga pemain kelahiran Belanda dalam skuadnya, mulai dari Noussair Mazraoui yang lahir di Leiderdorp, Sofyan Amrabat yang lahir di Huizen, dan Zakaria Aboukhlal yang lahir di Rotterdam. Selain itu, ada Yassine Bounou, kiper utama Maroko yang lahir di Montreal, Kanada.

Latar belakang banyaknya pemain diaspora di tubuh Timnas Maroko tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang migrasi warga Maroko ke Eropa, terutama sejak paruh kedua abad ke-20. Prancis menjadi salah satu tujuan utama karena hubungan sejarah kedua negara yang panjang. Maroko pernah berada di bawah protektorat Prancis pada 1912-1956.

Setelah periode itu, banyak warga Maroko bermigrasi ke Prancis untuk bekerja, membangun keluarga, dan menetap. Pola serupa juga terjadi di Spanyol, Belanda, dan Belgia. Banyak warga Maroko pindah ke negara-negara tersebut sebagai pekerja migran, terutama ketika Eropa membutuhkan tenaga kerja besar untuk sektor industri dan pembangunan.

Anak-anak serta cucu dari migran itu kemudian tumbuh dalam sistem pendidikan dan akademi sepak bola di Eropa. Dari sinilah Maroko mendapat "durian runtuh".

Banyak pemain berdarah Maroko lahir dan dibesarkan di Eropa, tetapi tetap memiliki ikatan keluarga dan emosional dengan negara asal orang tua mereka. Federasi sepak bola Maroko juga aktif mendekati pemain-pemain diaspora.

Mereka membangun jaringan pencarian bakat di Eropa, hingga membuat Maroko bisa menarik pemain dari akademi-akademi kuat di Prancis, Spanyol, Belanda, dan Belgia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news