Alasan Pemerintah China Minta Pengguna Hapus Claude Code Anthropic

5 hours ago 1

Jumali

Jumali Kamis, 09 Juli 2026 19:27 WIB

Alasan Pemerintah China Minta Pengguna Hapus Claude Code Anthropic

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Badan keamanan siber China melalui China National Vulnerability Database (CNVD) mengumumkan temuan dugaan kerentanan pada Claude Code, perangkat pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Anthropic.

Dalam pemberitahuan yang dipublikasikan melalui kanal resmi CNVD, kerentanan tersebut disebut ditemukan pada sejumlah versi Claude Code yang dirilis antara April hingga Juni 2026.

Dilansir dari Reutres, CNVD menilai mekanisme tertentu di dalam perangkat tersebut berpotensi mengirimkan informasi pengguna tanpa persetujuan yang memadai. Informasi yang disebut berpotensi terdampak meliputi identitas pengguna, lokasi, hingga data lain yang berkaitan dengan aktivitas penggunaan layanan.

Menyusul temuan tersebut, otoritas keamanan siber China meminta pengguna dan organisasi yang menggunakan versi terdampak untuk melakukan pemeriksaan sistem serta memperbarui perangkat lunak ke versi terbaru apabila tersedia.

Selain itu, lembaga tersebut juga mengimbau perusahaan meningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas jaringan dan memperketat akses eksternal terhadap perangkat pengembangan yang digunakan dalam lingkungan kerja.

Di sisi lain, Wall Street Journal mengungkapkan, Anthropic sebelumnya telah membantah tuduhan bahwa sistem tersebut mengandung backdoor. Perusahaan menjelaskan mekanisme yang dipersoalkan merupakan fitur eksperimental yang dirancang untuk mengurangi penyalahgunaan layanan oleh pihak yang tidak berwenang serta melindungi model AI dari praktik pengambilan data secara tidak sah.

Perdebatan mengenai fitur tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan sistem AI generatif yang digunakan dalam pengembangan perangkat lunak.

Laporan mengenai Claude Code juga mencuat setelah sejumlah diskusi di forum teknologi menyoroti mekanisme identifikasi pengguna pada layanan tersebut. Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai privasi, keamanan data, dan pengelolaan akses terhadap model AI.

Dalam perkembangan lain, sejumlah laporan menyebutkan Alibaba membatasi penggunaan Claude Code dalam aktivitas pekerjaan internal. Kebijakan tersebut dikaitkan dengan evaluasi keamanan dan kepatuhan perusahaan terhadap penggunaan perangkat lunak berbasis AI.

Isu ini juga tidak terlepas dari ketegangan persaingan industri kecerdasan buatan antara perusahaan teknologi Amerika Serikat dan China. Sebelumnya, Anthropic menuduh sejumlah perusahaan AI asal China melakukan praktik AI distillation, yakni proses melatih model AI menggunakan keluaran dari model lain.

Meski demikian, fokus utama dalam kasus terbaru ini tetap berkaitan dengan aspek keamanan perangkat lunak dan perlindungan data pengguna.

Claude sendiri tidak tersedia secara resmi di China. Namun, sejumlah peneliti dan pengembang perangkat lunak diketahui tetap mengakses layanan tersebut melalui berbagai metode alternatif untuk keperluan riset dan pengembangan teknologi.

Temuan CNVD diperkirakan akan menjadi perhatian komunitas keamanan siber internasional karena menyangkut penggunaan alat AI yang semakin luas dalam berbagai sektor industri. Hingga kini, diskusi mengenai temuan tersebut masih berlangsung, sementara pengguna menunggu pembaruan teknis maupun penjelasan lanjutan dari pihak terkait.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news