Harianjogja.com, JAKARTA—Ketahanan fisik perempuan aktif tidak hanya ditentukan oleh olahraga rutin maupun pola makan yang seimbang. Proses pemulihan tubuh melalui tidur berkualitas dan waktu istirahat yang optimal justru menjadi fondasi penting untuk menjaga performa, kebugaran, serta daya tahan tubuh dalam jangka panjang.
Pesan tersebut menjadi fokus dalam kegiatan Garmin Meet Your Expert, Women of Endurance: Sleep & Recharge yang menghadirkan Certified Sleep & Recovery Coach, Vishal Dasani. Melalui sesi edukasi ini, peserta diajak memahami bagaimana ritme biologis tubuh memengaruhi kualitas tidur sekaligus mengapa banyak orang mengalami kesulitan beristirahat meski tubuh sudah lelah.
Pola Pikir dan Ritme Sirkadian Jadi Penentu Kualitas Tidur
Vishal Dasani menjelaskan bahwa gangguan tidur pada masyarakat perkotaan umumnya dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama adalah pola pikir (mindset) yang menganggap tidur sebagai aktivitas yang membuang waktu atau meyakini bahwa tidur berkualitas harus selalu berlangsung selama delapan jam dan dimulai sebelum tengah malam.
Faktor kedua berkaitan dengan minimnya pemahaman mengenai Sistem Sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur waktu tidur dan bangun secara alami. Menurut Vishal, sistem ini dipengaruhi oleh faktor genetik, usia, serta gaya hidup masing-masing individu.
"Wah, tubuh kita itu sebetulnya tahu kapan sebaiknya aktivitas, dan kapan sebaiknya kita beristirahat. Okay. Dan pusat kendali ritme sirkadian ini ada di mana? Ada di otak. Dan sangat bergantung pada genetik, usia, dan lifestyle," ungkap Vishal Dasani, Kamis (9/7/2026)
Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki ritme biologis yang berbeda sehingga waktu tidur ideal tidak dapat disamaratakan.
Melatonin Bukan Hormon yang Langsung Membuat Mengantuk
Vishal juga meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat mengenai fungsi melatonin. Menurutnya, hormon tersebut bukanlah hormon yang secara langsung membuat seseorang tertidur, melainkan memberi sinyal bahwa tubuh telah memasuki waktu untuk beristirahat.
Secara biologis, produksi melatonin mulai meningkat sekitar dua hingga tiga jam sebelum waktu tidur normal, mencapai puncaknya pada tengah malam, kemudian menurun menjelang pagi ketika tubuh bersiap kembali beraktivitas. Pola tersebut berjalan berlawanan dengan hormon kortisol yang berkaitan dengan respons stres.
"Dari sini kita bisa lihat pada saat melatoninnya tinggi, kortisolnya rendah. Pada saat kortisolnya tinggi, melatoninnya rendah. Artinya apa? Kalau stres susah tidur. Karena kalau kita sedang stres tinggi, kortisolnya akan spike up. Kortisol sama melatonin berlawanan arah. Nah, kalau kortisolnya terlalu tinggi, dia akan menghalangi melatoninnya naik. Sehingga di malam hari badan sudah capek, tapi Anda gak bisa tidur," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jendela tidur alami akan terbuka ketika kadar melatonin meningkat, kortisol berada pada tingkat rendah, dan suhu tubuh mulai menurun. Menjelang tidur, tubuh secara alami melepaskan panas melalui tangan dan kaki.
Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa perempuan hamil, perempuan yang memasuki masa perimenopause, maupun seseorang yang sedang mengalami demam sering kali menghadapi gangguan tidur akibat perubahan suhu tubuh.
Vishal juga menepis anggapan bahwa seluruh orang harus tidur sebelum pukul 00.00 agar memperoleh kualitas tidur yang baik.
"Kalau kita memiliki persepsi bahwa semua orang harus tidur sebelum jam 12 agar berkualitas, itu ibarat mengatakan ke semua orang, 'Yuk, semua kita pakai ukuran sepatu ukurannya 36.' Untuk sebagian orang bisa, tapi not for everyone," tegasnya.
Sleep Pressure Dipengaruhi Aktivitas Sehari-hari
Selain ritme sirkadian, Vishal menjelaskan terdapat sistem lain yang turut mengatur tidur, yaitu sleep pressure atau tekanan tidur. Tekanan ini mulai terbentuk sejak seseorang bangun di pagi hari dan terus meningkat selama menjalani aktivitas, lalu kembali berkurang ketika tidur.
Menurutnya, aktivitas fisik yang padat membuat sleep pressure lebih cepat terbentuk sehingga tubuh lebih mudah merasa mengantuk pada malam hari. Sebaliknya, gaya hidup yang minim aktivitas (sedentary) membuat akumulasi tekanan tidur berlangsung lebih lambat.
Untuk mempermudah pemahaman, ia mengibaratkan sleep pressure seperti daya baterai telepon pintar. Semakin banyak perangkat digunakan sepanjang hari, semakin besar energi yang terkuras sehingga membutuhkan pengisian ulang. Prinsip serupa berlaku pada tubuh manusia yang memerlukan istirahat setelah beraktivitas.
Garmin Indonesia Kenalkan Pendekatan Holistik Pemulihan Tubuh
Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia, Chandrawidhi Desideriani, mengatakan kegiatan Women of Endurance dirancang sebagai pengalaman terpadu yang membantu perempuan aktif memahami pentingnya pemulihan tubuh melalui tidur berkualitas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi edukasi Sleep Better, Recharge Better, yang membahas kualitas tidur sekaligus pemanfaatan fitur pintar Garmin untuk memantau kondisi tubuh berdasarkan data kebugaran harian.
"Selanjutnya, peserta mengeksplorasi kesehatan dari dalam melalui Jamu Mixology Lab yang meracik minuman tradisional dengan sentuhan modern, disusul dengan latihan kesadaran penuh dan peregangan fisik lewat Garmin Yoga, dan ditutup secara menyeluruh dengan terapi suara Gending Laras Sound Bath untuk memberikan relaksasi total pada pikiran dan tubuh sebelum beristirahat," katanya.
Melalui pemanfaatan data dari perangkat pintar yang dipadukan dengan pemahaman terhadap ritme biologis tubuh, perempuan aktif diharapkan mampu mengatur waktu istirahat secara lebih personal sehingga kebugaran, performa, dan ketahanan fisik dapat terjaga secara optimal dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

6 hours ago
6

















































