BMKG Ungkap Awan Cumulonimbus di Maros Saat ATR Dekati Hasanuddin

1 hour ago 1

BMKG Ungkap Awan Cumulonimbus di Maros Saat ATR Dekati Hasanuddin Ilustrasi pesawat jatuh. Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya awan tebal jenis Cumulonimbus (Cb) di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, saat pesawat ATR menuju Bandara Sultan Hasanuddin pada 17 Januari 2026. Informasi tersebut disampaikan sebagai gambaran kondisi cuaca di sekitar jalur penerbangan pada waktu kejadian.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, berdasarkan analisis meteorologi, kondisi cuaca secara umum diperkirakan relatif stabil. Namun demikian, keberadaan awan Cb di wilayah pendekatan pendaratan tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

“Cuaca diperkirakan relatif stabil, tetapi masih terdapat awan Cumulonimbus di wilayah pendekatan saat pendaratan yang perlu diwaspadai,” ujar Faisal dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari hasil analisis laporan meteorologi bandara serta pemantauan citra satelit cuaca. BMKG, lanjut Faisal, menyampaikan data tersebut secara objektif tanpa mengaitkannya dengan penyebab teknis insiden yang terjadi.

“Pemaparan ini murni untuk memberikan gambaran dinamika kondisi meteorologis di sekitar wilayah Maros pada saat kejadian,” katanya.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menegaskan bahwa penyebab insiden pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tengah diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Faisal memaparkan, berdasarkan laporan Meteorological Aerodrome Report (METAR) Bandara Sultan Hasanuddin pada pukul 12.30 WIB, kondisi cuaca di area bandara terpantau relatif kondusif. Jarak pandang mencapai 9 kilometer, angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot, serta suhu dan tekanan udara berada dalam batas normal.

Meski demikian, di wilayah sekitar bandara, khususnya Maros, terpantau adanya awan Cumulonimbus yang berpotensi memengaruhi fase pendekatan pesawat saat hendak mendarat, meskipun cuaca di area bandara tidak menunjukkan gangguan signifikan.

Pemantauan citra Satelit Himawari juga mengonfirmasi keberadaan awan tinggi dan awan tebal di sekitar wilayah Maros. Suhu puncak awan yang terdeteksi menunjukkan karakter awan konvektif, sejalan dengan laporan cuaca yang mencatat adanya awan tebal di wilayah pendekatan Bandara Sultan Hasanuddin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news