Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sleman sedang memotong pohon tumbang di salah satu ruas jalan di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Kamis (10/4/2025). - ist - BPBD Sleman
Harianjogja.com, SLEMAN—Status siaga darurat bencana cuaca ekstrem di Sleman resmi diperpanjang hingga akhir Mei 2026. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengambil langkah ini sebagai antisipasi ancaman hidrometeorologi yang diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Haris Martapa, menyampaikan status siaga darurat bencana cuaca ekstrem yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 28 Februari 2026 kini diperpanjang setelah mempertimbangkan dinamika atmosfer dan potensi risiko di wilayah Bumi Sembada. Perpanjangan ini diproyeksikan berlaku hingga akhir Mei 2026.
Selain ancaman cuaca ekstrem, Sleman juga masih berada dalam payung hukum Siaga Darurat Erupsi Gunung Merapi. Status kedaruratan aktivitas vulkanik tersebut telah berlangsung lebih dari lima tahun tiga bulan dan belum dicabut.
Dua status kedaruratan tersebut membuat seluruh komponen penanggulangan bencana di Sleman harus bersiaga 24 jam. BPBD memastikan koordinasi lintas bidang tetap berjalan optimal dengan dukungan 3.573 relawan yang tersebar di seluruh Desa Tangguh Bencana (Destana) se-Kabupaten Sleman.
“Kalau anggaran kedaruratan di BPBD, kami pakai yang rutin saja di tiap bidang. Nanti tinggal saling support antarbidang,” kata Haris dihubungi via Whatsapp, Senin (23/2/2026).
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan perpanjangan masa berlaku SK Siaga Darurat Bencana Cuaca Ekstrem masih diproses di Bagian Hukum Setda Sleman.
“Kalau ditanya apa bisa diperpanjang hingga akhir tahun, ya kami bergantung pada situasi,” kata Bambang.
Ia menegaskan kebutuhan perpanjangan status Siaga Darurat Bencana Cuaca Ekstrem tidak lepas dari masih terjadinya dampak kerusakan akibat hujan lebat dan angin kencang. Pada Rabu (18/2) pukul 16.50 WIB, sejumlah rumah dilaporkan rusak, dengan dampak paling banyak terjadi di Kapanewon Berbah.
Di Padukuhan Kadisono, Kalurahan Tegaltirto, pohon tumbang menimpa rumah Rohadi sehingga sekitar 100 genteng hancur, empat usuk dan delapan reng rusak, serta tembok rumah retak. Di lokasi yang sama, atap seng rumah Yudantoro terangkat angin dengan kerusakan delapan lembar spandek galvalum, delapan usuk, dan satu gording. Rumah semi permanen milik Kusbiyantoro juga roboh pada bagian dinding dengan kerusakan 35 batako, delapan usuk, sepuluh lembar seng fiber, dan empat lembar seng.
Kerusakan juga dilaporkan pada talud Kali Tepus di Sompilan, Tegaltirto yang longsor dan masih dalam penanganan. Di Jogotirto, atap kandang ternak di Bercak terangkat angin serta 12 lembar asbes di RT 04 RW 25 beterbangan. Di Pucung–Kranggan II, atap dan teras rumah milik Suyatmi rusak dengan rincian 12 lembar asbes pecah, sepuluh wuwung, dan 30 genteng pres.
Di Kapanewon Gamping, pohon tumbang sempat menutup akses jalan di Gamping Kidul, Ambarketawang dan telah ditangani. Talud makam di Ngaran, Balecatur juga longsor akibat tergerus arus sungai dan masih dalam proses penanganan.
Di Kapanewon Kalasan, tepatnya di Kedulan, Tirtomartani, tebing longsor menyebabkan pohon rungkat. Di Kapanewon Minggir, pohon jati tumbang menimpa rumah Suratiyem di Sendangrejo sehingga sekitar 100 genteng dan 10 reng bambu rusak.
Di Kapanewon Moyudan, sedikitnya empat titik terdampak pohon tumbang, baik menimpa rumah maupun melintang di jalan di Sumberarum dan Sumbersari, dan seluruhnya telah terkondisi.
Sementara itu, di Kapanewon Pakem, pohon cemara di area makam Jamblangan, Purwobinangun tumbang menimpa kabel listrik. Di Kapanewon Prambanan, tanah bergerak terjadi di Watukangsi, Wukirharjo serta longsor di tebing setinggi kurang lebih 10 meter dengan panjang sekitar tujuh meter di Lemahbang, Gayamharjo hingga merusak bagian belakang rumah warga. Kedua titik tersebut masih dalam penanganan.
Di Kapanewon Sleman, pohon tumbang menimpa gazebo dan penginapan di kawasan Floating Resto, Jalan Rorojonggrang, Beran, Tridadi dan telah berhasil ditangani.
Sejumlah unsur terlibat dalam penanganan kejadian, mulai dari personel BPBD Sleman, relawan Destana Sumbersari, pemerintah kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, SAR DIY UFM, Tirto Rescue Berbah, KSB Tirta Sembada, petugas Floating Resto, hingga warga setempat. BPBD Sleman juga telah melakukan asesmen dampak, koordinasi lintas pihak, serta distribusi logistik kepada warga terdampak, dan hingga laporan terakhir tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut sehingga status Siaga Darurat Bencana Cuaca Ekstrem di Sleman masih menjadi instrumen penting mitigasi risiko di Bumi Sembada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

9 hours ago
7

















































