Daya Beli di Sulsel Menurun, Nilai Tukar Petani Merosot 1,07 Persen

5 hours ago 1
Daya Beli di Sulsel Menurun, Nilai Tukar Petani Merosot 1,07 PersenData BPS Sulsel terkait Nilai Tukarr Petani Februari 2026 (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan ini mencerminkan melemahnya daya beli petani akibat turunnya harga komoditas yang diterima petani di tengah kenaikan biaya yang harus mereka keluarkan.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Sulsel, NTP gabungan pada Februari 2026 tercatat sebesar 116,86, turun 1,07 persen dibandingkan Januari 2026 yang berada di angka 118,12.

Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun sementara indeks harga yang dibayar petani justru meningkat.

Kepala BPS Sulawesi Selatan, Aryanto, menjelaskan bahwa penurunan tersebut berkaitan dengan perubahan pada dua komponen utama penyusun NTP.

“Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan,” ujarnya.

Pada Februari 2026, indeks harga yang diterima petani (It) tercatat sebesar 144,67, turun 0,54 persen dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 145,45.

Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya harga komoditas pada subsektor tanaman perkebunan rakyat.

Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru meningkat dari 123,13 pada Januari menjadi 123,80 pada Februari 2026 atau naik 0,54 persen.

Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi pertanian.

Dalam komponen konsumsi rumah tangga, beberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 1,26 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat 1,31 persen.

Adapun biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) secara keseluruhan naik 0,07 persen.

Jika dilihat berdasarkan subsektor, NTP tanaman pangan pada Februari 2026 tercatat 111,88, naik tipis 0,01 persen dibanding bulan sebelumnya.

Sementara NTP hortikultura meningkat cukup signifikan menjadi 115,65 atau naik 3,76 persen.

Sebaliknya, penurunan tajam terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang turun 5,60 persen menjadi 134,54.

Selain itu, NTP peternakan juga sedikit menurun sebesar 0,07 persen menjadi 110,36.

Di sisi lain, subsektor perikanan mencatat peningkatan NTP menjadi 119,59, naik 1,09 persen dibandingkan Januari 2026.

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani pada subsektor perikanan tangkap maupun budidaya.

Aryanto menambahkan bahwa secara umum penurunan NTP pada Februari terjadi karena harga komoditas pertanian yang diterima petani menurun sementara biaya yang harus dikeluarkan petani meningkat.

“Penurunan NTP tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan,” jelasnya.

Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) pada Februari 2026 sebesar 122,83, turun 0,61 persen dibandingkan Januari yang mencapai 123,58.

Penurunan NTUP terutama dipengaruhi turunnya kinerja subsektor tanaman perkebunan rakyat.

Meski demikian, empat subsektor lain masih menunjukkan peningkatan NTUP, yakni tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian sektor pertanian di Sulawesi Selatan masih mampu menjaga kinerja usaha di tengah fluktuasi harga komoditas.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news