Lego-Lego (Dok: Ist).KabarMakassar.com — Direktur Utama PT Sulsel Citra Indonesia (SCI), Asradi, membeberkan sejumlah langkah pembenahan yang dilakukan untuk memperbaiki kinerja perusahaan daerah tersebut.
Salah satu hasilnya, unit usaha Lego-lego yang sebelumnya merugi kini disebut sudah menghasilkan keuntungan.
Asradi mengatakan, sebelumnya Lego-lego mengalami kerugian hingga Rp50 juta per bulan. Namun setelah dilakukan penataan manajemen dan efisiensi operasional, kondisi tersebut berbalik.
“Dulu Lego-lego rugi sampai lima puluh juta per bulan. Sekarang sudah ada penghasilan, bahkan bisa mencapai sekitar dua puluh juta keuntungan setiap bulan,” ujarnya, Minggu (08/03).
Menurutnya, perubahan tersebut tidak lepas dari kebijakan efisiensi besar-besaran yang diterapkan sejak dirinya memimpin perusahaan. Salah satu langkah awal adalah memangkas jumlah direksi dari empat menjadi tiga orang.
“Kami melakukan efisiensi total dalam berbagai bidang. Direksi yang sebelumnya empat kami kurangi menjadi tiga. Kami menilai tugas yang ada masih bisa ditangani tanpa menambah direksi baru,” katanya.
Efisiensi juga dilakukan pada fasilitas operasional perusahaan. Penggunaan mobil dinas hingga perjalanan dinas (SPPD) dipangkas drastis. Bahkan, penggunaan SPPD disebut hanya sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Selain itu, perusahaan juga memaksimalkan sumber daya manusia yang ada. Sejumlah karyawan kontrak yang dinilai tidak optimal tidak lagi diperpanjang, sementara pegawai yang ada diminta menangani lebih dari satu tugas.
“Sekarang rata-rata satu orang memegang paling tidak dua pekerjaan. Tapi bukan berarti kami mengabaikan mereka, jika ada kebutuhan pekerjaan kami tetap bisa memanggil kembali tenaga yang sebelumnya dirumahkan,” jelasnya.
Asradi juga mengungkapkan bahwa sebelumnya beberapa unit usaha PT SCI mengalami kerugian cukup besar. Selain Lego-lego, hotel Grand Sayang bahkan disebut merugi hingga Rp85 juta per bulan.
Namun saat ini, ia mengklaim tidak ada lagi unit usaha yang merugi setelah dilakukan pembenahan manajemen dan operasional.
Di sisi lain, perusahaan juga menindaklanjuti lebih dari 40 temuan hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Temuan tersebut, kata dia, kini sedang dibenahi satu per satu, termasuk terkait kewajiban pajak dan administrasi perusahaan.
“Temuan BPKP itu kami perbaiki semua secara bertahap. Itu yang sebelumnya membuat perusahaan ini dinilai tidak sehat,” katanya.
Selain perbaikan internal, PT SCI juga fokus mengurangi beban utang perusahaan. Sejak 2025, perusahaan diklaim tidak lagi menambah utang dan justru berhasil menurunkan kewajiban sekitar Rp2 miliar.
“Sejak kami mengambil alih, tidak ada penambahan utang. Justru kami sudah berhasil mengurangi sekitar dua miliar rupiah,” ucapnya.
Upaya pembenahan juga menyasar aset perusahaan di berbagai daerah. Di Toraja, misalnya, pihaknya menertibkan lahan milik perusahaan yang sempat dikuasai masyarakat dan bahkan dijadikan ladang, tempat parkir hingga didirikan kios.
Lebih dari sepuluh bangunan kios yang berdiri di atas aset tersebut telah dibongkar. PT SCI juga mengambil kembali lahan yang sempat digunakan masyarakat, meski masih ada satu kasus yang kini berproses di pengadilan karena sudah memiliki sertifikat.
“Kami menggugat pemiliknya termasuk BPN yang menerbitkan dua sertifikat di atas lahan tersebut,” tukasnya.
















































