
Mi instan - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Mi instan bukan lagi sekadar makanan praktis untuk mengganjal perut. Produk ini telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat di berbagai negara, terutama di Asia.
Data World Instant Noodles Association (WINA) menunjukkan Tiongkok/Hong Kong, Indonesia, dan India konsisten menjadi tiga wilayah dengan konsumsi mi instan terbesar secara total pada periode 2023 hingga 2025.
Besarnya konsumsi tersebut tidak terlepas dari karakter mi instan yang mudah disiapkan, relatif terjangkau, dan tersedia dalam berbagai varian rasa yang menyesuaikan selera masyarakat setempat.
Di sejumlah negara Asia, mi juga sudah lekat dengan budaya pangan. Karena itu, perkembangan mi instan tidak hanya didorong faktor kepraktisan, tetapi juga kemampuan produsen menyesuaikan cita rasa dengan kebiasaan makan masyarakat.
Negara dengan Konsumsi Mi Instan Terbanyak
Tiongkok/Hong Kong menempati posisi teratas dalam konsumsi mi instan berdasarkan jumlah porsi. Indonesia dan India berada di bawahnya.
Tingginya konsumsi di kawasan Asia berkaitan dengan harga, kemudahan mendapatkan produk, serta popularitas berbagai jenis mi dalam budaya makan masyarakat.
Di Indonesia, mi instan juga dikenal luas karena dapat disiapkan dalam waktu singkat dan tersedia dalam banyak pilihan rasa, mulai dari ayam dan sayuran hingga varian pedas dan berbumbu rempah.
Namun, jumlah total porsi tidak otomatis menunjukkan masyarakat negara tersebut paling sering makan mi instan. Jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi angka konsumsi secara keseluruhan.
Vietnam Punya Konsumsi per Kapita Tertinggi
Jika ukurannya diubah menjadi konsumsi per kapita, susunan negara teratas berbeda.
Data WINA menunjukkan Vietnam berada di posisi pertama dengan konsumsi sekitar 81 porsi mi instan per orang dalam setahun.
Artinya, secara rata-rata, konsumsi tersebut setara dengan sekitar satu porsi setiap empat hingga lima hari.
Korea Selatan berada di posisi berikutnya dengan sekitar 79 porsi per orang per tahun. Sementara itu, Thailand mencatat konsumsi sekitar 60 porsi per orang per tahun.
Perbedaan antara peringkat berdasarkan total porsi dan per kapita menunjukkan bahwa tingginya konsumsi suatu negara tidak selalu berarti setiap penduduknya mengonsumsi mi instan lebih sering.
Seberapa Sering Orang Indonesia Makan Mi Instan?
Di Indonesia, mi instan menjadi salah satu makanan yang cukup dekat dengan keseharian masyarakat.
Data yang dikutip GoodStats pada 2023 menunjukkan 60,7% masyarakat Indonesia berusia di atas tiga tahun mengonsumsi mi instan sebanyak 1–6 kali dalam sebulan.
GoodStats juga mencatat kelompok konsumen reguler dengan konsumsi 2–3 kali per bulan mencapai 32%, sedangkan sekitar 4% mengonsumsi mi instan sekali dalam sebulan atau lebih jarang.
Angka tersebut menunjukkan pola konsumsi mi instan di Indonesia cukup beragam. Karena itu, melihat kebiasaan makan mi instan tidak cukup hanya dari jumlah porsi nasional, tetapi juga perlu memperhatikan frekuensi konsumsi setiap orang.
Bukan Berarti Mi Instan Harus Dihindari
Tingginya konsumsi mi instan kemudian memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap pola makan.
Mi instan tidak harus dipandang sebagai makanan yang selalu harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi konsumsi serta komposisi makanan secara keseluruhan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah asupan sodium. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi sodium kurang dari 2.000 miligram per hari dan membatasi makanan olahan yang tinggi sodium.
Karena itu, mi instan dapat dikombinasikan dengan bahan makanan lain agar satu kali makan memiliki komposisi yang lebih beragam.
Telur, ayam, ikan, atau tahu dapat ditambahkan sebagai sumber protein. Sementara itu, sayuran dapat membantu menambah asupan serat dan zat gizi lainnya.
WHO juga menekankan pentingnya pola makan yang beragam, termasuk sayuran, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, dan sumber protein.
Dengan demikian, bagi masyarakat yang tetap mengonsumsi mi instan, persoalannya bukan hanya apakah mi instan boleh dimakan atau tidak. Frekuensi konsumsi dan bahan makanan yang menyertai mi juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

22 hours ago
11

















































