KabarMakassar.com — Riset terbaru yang dipaparkan Research Manager BBC Media Action, Rosiana Eko, mengungkap langkah jurnalis Indonesia dalam mengintegrasikan kecerdasan artifisial (AI) untuk pekerjaan sehari-hari.
Temuannya menunjukkan satu hal, yaitu adopsi AI yang sudah meluas, namun tata kelola dan literasinya belum sepenuhnya matang.
Dalam praktiknya, penggunaan AI oleh jurnalis Indonesia bahkan sudah terasa personal. Sebagian jurnalis memasukkan sapaan akrab seperti “Bro” dalam prompt yang mereka berikan kepada mesin. Interaksi dengan AI tak lagi kaku, melainkan menyerupai komunikasi sehari-hari.
Sebagian besar output yang dihasilkan dari AI masih berupa teks, yaitu mencapai sekitar 94 persen. Selebihnya berupa grafis, foto, dan konten multimedia. Ada pula penggunaan dalam skala kecil, sekitar satu persen responden memanfaatkan AI untuk membantu koding dan satu persen lainnya untuk menyusun proposal bisnis klien. Bahkan, kurang dari 1 persen menggunakan AI untuk membuat musik atau jingle iklan.
Dalam hal platform, ChatGPT mendominasi tingkat penggunaan, yang mencapai 86 persen. Disusul Gemini sebesar 63 persen, kemudian Deepseek 12 persen, Copilot 9 persen, dan Notebook LM 6 persen. Di luar itu, beragam aplikasi AI juga digunakan untuk kebutuhan spesifik.
Misalnya Canva dan CapCut untuk desain dan video, Adobe Podcast untuk produksi siniar, SUNO untuk musik, Notion AI untuk ringkasan, hingga berbagai layanan transkripsi dan penerjemahan seperti DeepL dan Transkrip.id.
Dari sisi fungsi, AI paling sering digunakan untuk idea generation. Jurnalis memanfaatkannya untuk mencari topik liputan, menentukan sudut pandang berita, atau menyusun alternatif angle. Editor kerap menggunakan AI untuk menyusun ulang struktur kalimat, memparafrasekan naskah, mengubah gaya bahasa, misalnya menjadi gaya Gen Z, hingga membuat judul lebih ramah mesin pencari (SEO).
Pada level dasar, jurnalis muda umumnya menggunakan AI untuk mencari ide, menerjemahkan, dan mentranskrip. Sementara pada level menengah hingga lanjut, AI dipakai untuk penyuntingan lanjutan dan analisis digital. Beberapa responden bahkan meminta AI menganalisis engagement pembaca dan demografi audiens berdasarkan tautan berita tertentu.
Salah satu praktik yang memantik diskusi adalah penggunaan ekstensi peramban untuk mentranskrip otomatis konten YouTube menjadi teks, lalu mengolahnya menjadi berita naratif dengan bantuan AI. Prosesnya cepat dan efisien, tapi menyisakan pertanyaan etis mengenai kedalaman verifikasi dan orisinalitas pelaporan.
Menariknya, untuk fact-checking, mayoritas jurnalis justru enggan mengandalkan AI. Mereka menilai hasil AI kerap mengandung “halusinasi” dan kurang dapat dipercaya. Untuk verifikasi fakta, mereka lebih memilih menggunakan Google Reverse Image atau langsung menghubungi narasumber di lapangan.
Secara persepsi, 74 persen jurnalis memandang AI sebagai peluang, sementara 45 persen melihatnya sebagai ancaman. Kemudian, lebih dari 50 persen menilai AI berdampak positif terhadap produktivitas dan efektivitas kerja. Seorang editor yang sebelumnya mampu menyunting 25 artikel per hari, dengan bantuan AI dapat menyunting lebih dari 40 bahkan 60 artikel per hari. Produktivitas meningkat, jam lembur berkurang, kualitas hidup pun membaik.
Namun, sekitar 30 persen responden melihat dampak negatif AI. Misalnya, membuat jurnalis menjadi malas, analisis kurang mendalam, potensi disinformasi meningkat, hingga ketergantungan berlebihan yang dapat menurunkan kepercayaan publik. Sebanyak 15 persen lainnya bersikap netral dan cenderung mengikuti kebijakan organisasi masing-masing.
Dari sisi penyedia layanan, 47 persen jurnalis menggunakan AI dari penyedia eksternal. Menariknya, 16 persen media di Indonesia telah mengembangkan sistem AI internal. Pada organisasi yang membangun AI sendiri, umumnya tersedia pelatihan dan aturan yang jelas. Sebaliknya, pada pengguna platform eksternal seperti ChatGPT, banyak jurnalis belajar secara otodidak tanpa pelatihan memadai dan tanpa kebijakan perusahaan yang tegas.
Dalam salah satu wawancara, seorang jurnalis mengaku hasil tulisannya dibantu AI, namun editor tidak menyertakan disclaimer penggunaan AI saat berita diunggah. Praktik ini berbeda dengan media cetak yang cenderung lebih disiplin mencantumkan keterangan penggunaan AI.
Dari keseluruhan temuan, BBC Media Action menyimpulkan bahwa adopsi AI di Indonesia sedang berada pada fase transisi. Mayoritas jurnalis menerima dan memanfaatkan teknologi ini, tetapi masih bergulat dengan isu kepercayaan publik dan kepatuhan etis.
Situasi ini menuntut kerja sama lintas sektor untuk merumuskan kebijakan kolektif yang tidak hanya berlaku bagi media nasional, tetapi juga media di daerah. Transparansi penggunaan AI, penerapan disclaimer yang konsisten, serta peningkatan literasi AI di kalangan jurnalis menjadi kebutuhan mendesak.
Alih-alih berkompromi secara diam-diam dengan teknologi, Rosiana menegaskan, AI seharusnya memperkuat, bukan menggantikan kerja jurnalistik. Di situlah tantangan berikutnya bagi ruang redaksi Indonesia, yaitu untuk menjaga integritas, sembari beradaptasi dengan mesin.
Liputan6.com dan grup Kapanlagi Youniverse telah menggunakan AI selama dua tahun. Sejak pertama kali mengadopsi AI, grup media ini langsung membuat pedoman penggunaan kecerdasan artifisial untuk redaksi.
“Selain menjadi panduan newsroom, juga sebagai guide tim IT untuk membuat AI tools yang dibutuhkan redaksi, dan tidak keluar dari sisi jurnalistiknya,” ujar Redaktur Eksekutif Liputan6.com, Raden Trimutia Hatta.
Tim redaksinya banyak memanfaatkan AI untuk idea generation untuk jurnalisme berkualitas, sekaligus meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, jumlah produksi berita dan trafik tetap terjaga. Sementara itu para jurnalis memiliki banyak waktu untuk memikirkan ide kreatif, termasuk untuk liputan investigatif.
Media lain yang juga sudah mengadopsi AI adalah Seputarpapua. Direktur Seputarpapua, Misbah Latuapo menjelaskan, medianya menggunakan AI sebanyak 50 persen. Sementara itu, 50 persen lainnya merupakan karya orisinal. Para editor memanfaatkan teknologi AI yang dikembangkan internal, bernama Mas AI, untuk menghasilkan breaking news dengan cepat dan tepat.
“Artinya, secara struktur penulisan jurnalistiknya masuk, dan datanya akurat,” ucapnya.
Tak hanya di Indonesia, adopsi AI di media Inggris ternyata memiliki banyak kesamaan dengan tren global, termasuk dalam cara ruang redaksi memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung kerja jurnalistik.
“Implementasinya tidak hanya menyasar efisiensi alur kerja dan peningkatan produktivitas, tetapi juga eksplorasi format dan pendekatan baru,” kata Senior News Editor AI BBC News, Olle Zachrison.
Dalam kerangka strategisnya, BBC memiliki news AI plan yang disusun dalam empat fokus utama, yaitu meningkatkan produktivitas, memformat ulang konten berita, memperkuat praktik jurnalistik, serta mengembangkan inovasi pengalaman pengguna.
Sementara itu, dosen RMIT University, Arsisto Ambyo mengingatkan pertanyaan mendasar tentang penggunaan AI.
“Siapa yang diuntungkan?” ucapnya.
Sebab, di tengah gelombang efisiensi berbasis teknologi, banyak jurnalis justru kehilangan pekerjaan. Situasi ini mendorong refleksi ulang tentang perbedaan antara sekadar aktivitas penerbitan dan praktik jurnalisme. Produktivitas 40 artikel per hari, misalnya, belum tentu identik dengan kualitas.
Dalam konteks global yang diwarnai konflik kemanusiaan, rasisme, serta membanjirnya misinformasi, media dituntut untuk kembali memikirkan perannya. Tantangan bukan hanya soal adaptasi teknologi, tetapi bersama-sama melawan disinformasi dan menjaga integritas informasi publik.
Ia pun menilai, optimisme terhadap AI perlu diimbangi dengan kebanggaan atas tradisi investigasi yang tajam dan kerja jurnalistik yang bermakna.
Tentang Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE)
Kebutuhan akan platform yang menjembatani riset global, keahlian di tingkat internasional, dan praktik media lokal kian mendesak. Oleh karena itu Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan BBC Media Action melalui proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) berupaya menjawab kesenjangan tersebut dengan mendiseminasikan riset terkait AI yang relevan bagi ruang redaksi, sekaligus memfasilitasi dialog mengenai keberlanjutan bisnis media di era AI.
Dengan mempertemukan praktisi media, regulator, asosiasi industri, serta pemangku kepentingan di sektor teknologi, forum ini ditujukan untuk mendorong diskusi yang berbasis informasi, kolaborasi lintas sektor, dan pembelajaran bersama. Pertemuan ini juga menjadi momentum untuk mempererat jejaring dan solidaritas komunitas media Indonesia beserta para mitranya dalam menghadapi tantangan transformasi digital.

















































