Kemenkes menyiagakan antibisa ular di puskesmas rujukan wilayah Baduy untuk mengantisipasi risiko gigitan saat warga beraktivitas di ladang. - Antara.
Harianjogja.com, LEBAK—Kementerian Kesehatan menaruh perhatian khusus terhadap risiko gigitan ular di wilayah adat Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, dengan menyiagakan antibisa di puskesmas rujukan yang memiliki tenaga kesehatan terlatih.
Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan kesiapsiagaan antibisa ular menjadi penting mengingat sebagian besar masyarakat Baduy beraktivitas sebagai petani di ladang dan kawasan hutan yang rawan gigitan satwa berbisa.
Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga layanan kesehatan masyarakat adat, terutama pada kondisi darurat yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.
Menurut Kunta, antibisa ular atau antivenom tidak dapat diberikan secara sembarangan dan harus melalui prosedur medis yang ketat.
“Kalau antibisa kan tidak bisa sembarangan. Itu harus dicek dengan cukup. Antibisa sudah tersedia di puskesmas, tapi memang tidak banyak,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Apabila terjadi kasus gigitan ular, penanganan awal dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran racun sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki antibisa.
Kunta mengakui jarak tempuh menuju puskesmas rujukan dari wilayah Baduy dapat mencapai sekitar satu setengah jam perjalanan. Meski demikian, Kemenkes memastikan koordinasi lintas layanan terus dilakukan agar penanganan dapat diberikan secepat mungkin.
“Minimal diikat dulu supaya tidak menyebar. Nanti puskesmas akan datang memberikan penanganan,” katanya.
Selain kesiapsiagaan antibisa, Kemenkes juga terus memperkuat layanan kesehatan dasar di wilayah Baduy melalui pemeriksaan kesehatan rutin dan edukasi kepada masyarakat.
“Yang paling penting mereka mau cek kesehatan. Dari situ kita bisa tahu betul apa masalahnya,” ujar Kunta.
Aspirasi Warga Baduy
Di sisi lain, masyarakat Baduy menilai ketersediaan antibisa ular masih menjadi kebutuhan penting. Narja, warga Desa Cihuni, Baduy Luar, mengatakan risiko gigitan ular cukup tinggi saat warga bekerja di ladang.
Menurut dia, antibisa tidak diminta tersedia dalam jumlah besar, melainkan sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat.
“Bukan nyediain, tapi buat jaga antisipasi saja. Masalah obat bisa itu, Pak Kapus juga sering nangis, soalnya susah, nggak ada,” tuturnya.
Kesiapsiagaan antibisa ular di wilayah Baduy diharapkan dapat meminimalkan risiko fatal akibat gigitan ular, sekaligus memperkuat perlindungan kesehatan bagi masyarakat adat yang tinggal di wilayah terpencil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara

2 weeks ago
17
















































