Ibadah haji. - Ist/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Penutupan penerbangan dari dan menuju Arab Saudi imbas konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran berdampak langsung pada jamaah umrah asal Indonesia, termasuk dari DIY.
General Manager Operational Sahid Tour, Asep Imam Sudrajat, mengungkapkan saat ini terdapat 16 jamaah umrah beserta satu tour leader yang masih berada di Madinah. Mereka dijadwalkan pulang ke Tanah Air pada 8 Maret 2026.
Asep meminta para jamaah tetap tenang dan fokus beribadah sembari menunggu kepastian jadwal penerbangan. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Riyadh untuk mencari solusi terbaik.
“Kalau tidak salah tadi malam orang KJRI-nya juga sudah mulai terbang ke Madinah dan Jeddah. Karena memang terjadi penumpukan jamaah di airport Madinah dan di airport Jeddah,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Penumpukan Jamaah di Bandara
Menurut Asep, saat ini terjadi penumpukan jamaah di Bandara Madinah dan Jeddah. Mereka tidak dapat kembali ke Indonesia maupun ke negara lain karena belum ada penerbangan keluar dari Arab Saudi.
Tak hanya berdampak pada kepulangan jamaah, keberangkatan umrah berikutnya yang dijadwalkan pada 13 dan 14 Maret 2026 terpaksa dibatalkan. Seluruh penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng) menuju Jeddah dan Madinah disebut sudah ditutup.
“Mulai kemarin semua penerbangan ke Arab Saudi sudah close, tidak bisa berangkat,” tuturnya.
Jamaah yang sedianya berangkat pada pertengahan Maret tersebut terdiri atas dua keluarga dengan total sekitar 11 orang. Mereka mengambil paket umrah akhir Ramadan. Asep memastikan dana yang telah dibayarkan jamaah akan dikembalikan.
Penerbangan Transit Ikut Terdampak
Sebelumnya, jamaah yang kini tertahan di Madinah menggunakan maskapai Qatar dengan rute transit di Doha. Namun kondisi di Arab Saudi maupun Doha dinilai belum kondusif, sehingga pihaknya masih menunggu perkembangan situasi apabila penerbangan kembali dibuka.
Asep menyebut minat umrah selama Ramadan memang sangat tinggi. Meski begitu, Sahid Tour tidak menambah kuota secara signifikan karena harga paket yang meningkat dan keterbatasan hotel di Tanah Suci.
“Minatnya sangat banyak untuk bulan Ramadan, tapi kita batasi,” jelasnya.
Ia menambahkan hingga saat ini belum ada imbauan resmi dari Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri). Namun, asosiasi tersebut dijadwalkan menggelar rapat daring untuk membahas situasi terkini.
Pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan perusahaan asuransi untuk memastikan apakah kondisi force majeure ini masuk dalam cakupan perlindungan, terutama jika jamaah harus memperpanjang masa tinggal di hotel.
Harap Situasi Segera Kondusif Jelang Musim Haji
Ketidakpastian situasi di Timur Tengah membuat biro perjalanan umrah dan haji diliputi kekhawatiran. Terlebih, musim haji 2026 sudah semakin dekat.
Tahun ini, Sahid Tour dijadwalkan memberangkatkan sekitar 495 jamaah haji dengan 25 petugas, sehingga total 520 orang. Mereka akan diberangkatkan dalam tiga penerbangan: 199 orang menggunakan Garuda Indonesia, 145 orang dengan Emirates (transit Dubai), dan sisanya bersama Etihad Airways (transit Abu Dhabi).
“Kita juga masih harap-harap cemas untuk jamaah hajinya. Mudah-mudahan situasinya tidak berlangsung lama,” ujarnya,
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

2 hours ago
1

















































