Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman (dok. Syamsi/KabarMakassar)KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menekankan persoalan pengelolaan sampah sebagai salah satu isu utama yang perlu segera dibenahi di Kota Makassar. Hal tersebut disampaikan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dalam Musrenbang RKPD Kota Makassar 2027, di Hotel Claro, Kamis (05/03).
Dalam forum perencanaan pembangunan tersebut, Andi Sudirman menegaskan bahwa persoalan lingkungan, khususnya persampahan, menjadi perhatian penting pemerintah daerah. Ia menilai masalah tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kota, tetapi juga membutuhkan dukungan pemerintah provinsi.
Menurut Sudirman, penanganan sampah harus menjadi agenda prioritas karena berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu, pengelolaan sampah juga berkaitan dengan citra kota sebagai pusat aktivitas ekonomi di Indonesia Timur.
Ia menyampaikan bahwa salah satu fokus utama yang perlu segera diperkuat adalah persoalan lingkungan. Persampahan disebut sebagai tantangan yang tidak mudah untuk diselesaikan tanpa kolaborasi lintas pemerintah.
Sudirman menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan terus mendukung upaya pemerintah Kota Makassar dalam menangani masalah tersebut. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Yang pertama adalah persoalan lingkungan, khususnya masalah persampahan. Saya memahami bahwa ini bukan persoalan yang mudah untuk diselesaikan. Pemerintah provinsi tentu akan terus berupaya membantu karena ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah provinsi telah berkomunikasi dengan pemerintah pusat terkait pengelolaan sampah. Dalam pertemuan dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Makassar disebut masuk dalam prioritas program pengelolaan sampah nasional.
“Beberapa waktu lalu kami bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup, dan Alhamdulillah Kota Makassar termasuk salah satu daerah yang diprioritaskan dalam program pembangunan pengelolaan sampah di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Sudirman, Makassar memiliki posisi strategis sebagai pusat aktivitas di kawasan timur Indonesia. Karena itu, pengelolaan sampah di kota ini dinilai sangat penting untuk menjadi contoh bagi daerah lain.
“Saya sampaikan kepada Pak Menteri bahwa jika tidak dimulai dari Makassar, maka akan sulit untuk menjadikan kawasan Indonesia Timur memiliki pusat pengelolaan yang baik, karena Makassar merupakan hub utama di wilayah ini,” sebutnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi agar program dari pemerintah pusat dapat direalisasikan. Salah satunya adalah kelengkapan dokumen teknis dan administrasi.
“Karena biasanya pemerintah pusat akan sangat ketat dalam menyeleksi program. Jika dokumennya lengkap, maka akan langsung diproses. Namun jika tidak lengkap, biasanya langsung dicoret,” jelas Andi Sudirman.
Andi Sudirman berharap Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dapat memperkuat kesiapan dokumen tersebut. Ia juga memastikan pemerintah provinsi siap membantu proses tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan menugaskan jajaran terkait untuk ikut mendukung proses persiapan tersebut. Kolaborasi antara pemerintah kota dan provinsi dinilai penting agar program dapat berjalan maksimal.
Selain aspek kebijakan, Andi Sudirman menilai perubahan perilaku masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah. Ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
Ia mencontohkan praktik pengelolaan sampah di beberapa negara yang sudah membiasakan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Langkah tersebut dinilai dapat mempermudah proses daur ulang dan pengolahan.
“Misalnya dengan membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah, seperti yang sudah dilakukan di banyak negara. Contohnya dengan membedakan warna tempat sampah, misalnya warna hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah yang dapat didaur ulang, dan merah untuk sampah yang tidak dapat didaur ulang,” tuturnya.
Ia menilai langkah sederhana seperti itu dapat memberikan dampak besar terhadap sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan. Dengan pemilahan sejak awal, proses pengolahan sampah akan menjadi lebih efektif.
Dia juga mencontohkan praktik edukasi pengelolaan sampah yang dilakukan di beberapa negara lain. Di sana, kebiasaan memilah sampah bahkan sudah ditanamkan sejak usia sekolah. Ia menilai pendekatan tersebut bisa menjadi inspirasi bagi Kota Makassar. Namun penerapannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.
“Kita mungkin bisa mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat kita,” pungkasnya.


















































