Menkeu Optimistis IHSG Tembus 10.000 Akhir 2026

2 weeks ago 17

Menkeu Optimistis IHSG Tembus 10.000 Akhir 2026 Warga memantau pergerakan saham melalui gawainya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Antara - Sulthony Hasanuddin

Harianjogja.com, JAKARTA—Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level 10.000 pada akhir 2026, seiring membaiknya fundamental ekonomi dan semakin sinkronnya kebijakan pemerintah.

Purbaya menilai secara fundamental IHSG seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi pada 2025. Namun, pergerakan indeks sempat tertahan oleh dinamika kebijakan serta sentimen pasar global. Ke depan, ia meyakini kebijakan ekonomi yang semakin solid akan mendorong laju penguatan IHSG secara lebih cepat.

Pada penutupan perdagangan akhir 2025, IHSG tercatat menguat tipis 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Capaian tersebut masih berada di bawah proyeksi Purbaya sebelumnya yang menargetkan IHSG mampu menembus level 9.000 pada tahun ini.

“10.000 [IHSG] tahun depan? Oh lebih lah. Lebih kalau tahun depan ya,” kata Purbaya, di Jakarta, Rabu.

Ia menilai, secara fundamental, IHSG 2025 seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi. Namun, realisasi tersebut sempat tertahan oleh dinamika kebijakan dan sentimen pasar. IHSG ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Capaian ini meleset dari prediksi Purbaya sebelumnya yang menyatakan IHSG bisa tembus 9.000.

“Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah 9.000. Tapi kan sudah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan semakin sinkron dan ekonominya semakin bagus, harusnya IHSG akan naik lebih cepat,” ujarnya.

Adapun pada penutupan bursa akhir tahun, IHSG menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Sementara, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan justru turun 5,47 poin atau 0,64 persen ke posisi 846,57.

Pengamat Pasar Modal Indonesia Reydi Octa menilai penguatan IHSG di penghujung 2025 didorong oleh sentimen pemangkasan suku bunga, baik global maupun domestik, yang meningkatkan minat risiko investor terhadap aset di negara berkembang.

“Penguatan IHSG di akhir 2025 didorong oleh sentimen tren pemangkasan suku bunga global dan domestik, sehingga meningkatkan risk appetite investor untuk mulai masuk ke emerging market,” ujar Reydi.

Selain itu, kinerja emiten yang relatif solid, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar, turut menopang pergerakan IHSG. Faktor window dressing juga dinilai meningkatkan aktivitas transaksi di akhir tahun.

Memasuki tahun 2026, Reydi menilai sejumlah faktor masih akan menjadi perhatian utama investor, antara lain arah kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik, serta pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

“Kinerja emiten big cap dan inflow asing yang masif, terutama sejak kepemilikan investor asing menjadi minoritas di IHSG, akan menjadi penentu arah pergerakan indeks ke depan,” ujarnya.

Memasuki 2026, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik global, serta kinerja emiten berkapitalisasi besar dan arus dana asing sebagai faktor penentu arah pergerakan IHSG dalam mencapai target optimistis tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news