Monyet Liar Mengintai, Petani Bantul Terancam Rugi

3 hours ago 2

Harianjogja.com, BANTUL—Menjelang musim kemarau, kemunculan monyet ekor panjang di sejumlah wilayah di Bantul mulai meningkat dan mengancam hasil pertanian warga. Serangan ini bukan hal baru, namun dampaknya terus dirasakan petani setiap tahun.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul mencatat wilayah yang berbatasan dengan Gunungkidul seperti di Dlingo, Pundong, dan Imogiri menjadi titik rawan serangan. Pola ini serupa dengan kejadian pada musim kemarau sebelumnya.

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, mengatakan pihaknya masih memantau perkembangan terbaru di lapangan. “Selain daerah Dlingo, Pundong, serangan juga muncul di Imogiri,” katanya, Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, penanganan hama ini tidak mudah. Meski monyet ekor panjang bukan satwa yang dilindungi, statusnya sebagai satwa liar membuat langkah pengendalian tidak bisa dilakukan sembarangan. “Penanganannya belum maksimal, tapi sudah berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Upaya pencegahan pun dilakukan dengan melibatkan kelompok tani dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Salah satunya melalui pemberian pakan alternatif saat musim kemarau, agar hewan tersebut tidak turun ke lahan pertanian.

Selain itu, petani juga diminta memasang pelindung tambahan seperti jaring pada tanaman. Cara ini dinilai cukup membantu meski belum sepenuhnya efektif menahan serangan.

Panewu Dlingo, Marji Hidayat, menjelaskan kemarau membuat sumber makanan di habitat alami berkurang. Kondisi ini mendorong monyet ekor panjang mencari makan hingga ke area pertanian bahkan permukiman.

“Semua tanaman diserang, cabai, jagung, kedelai, kacang, semua diserang,” ungkapnya.

Ia menyebut laporan serangan sudah mulai masuk menjelang musim kemarau tahun ini. Bahkan, di beberapa lokasi, hewan tersebut terlihat mendekati rumah warga.

“Kalau di Dlingo semua kalurahan ada. Namun yang terbanyak itu di wilayah Mangunan, Dlingo dan Jatimulyo,” jelasnya.

Petani kini mengandalkan berbagai cara sederhana untuk bertahan, mulai dari pemasangan jaring hingga penjagaan manual di lahan. Namun, kekhawatiran tetap tinggi karena serangan dinilai lebih merusak dibanding hama biasa.

“Sementara penanganannya begitu, kalau mau dibunuh itu kan menyalahi aturan. Namun di sisi lain sangat mengkhawatirkan, melebihi hama,” pungkasnya. Kondisi ini membuat petani harus terus beradaptasi menghadapi ancaman yang muncul setiap musim kemarau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news