Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah

2 hours ago 2

Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah Sejumlah pengunjung menikmati suasana Nawang Senja di Pantai Glagah kala sore hari, Minggu (22/2/2026). - Harian Jogja - Khairul Ma'arif

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kafe tepi pantai berkonsep outdoor, Nawang Senja di Pantai Glagah menjadi destinasi ngabuburit Ramadan yang menawarkan suasana kafe tepi pantai dengan panorama senja alami di Kulonprogo. Kehadiran tempat ini juga ikut mendorong kunjungan wisata dan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar kawasan pantai.

Menjelang matahari terbenam, hamparan pasir Pantai Glagah berubah menjadi ruang santai terbuka dengan kursi-kursi kayu sederhana menghadap laut. Di tempat inilah Nawang Senja menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu sore sambil menunggu azan maghrib, ditemani suara ombak dan angin laut yang berembus tanpa penghalang.

Spot-spot estetik yang tersusun dari bambu, kayu palet, serta dekorasi sederhana menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang gemar mengabadikan momen. Ketika cuaca cerah, panorama matahari tenggelam langsung terlihat dari bibir pantai sehingga suasana ngabuburit terasa lebih berkesan. Jika waktu berbuka tiba, pengunjung juga dapat langsung menikmati menu makanan dan minuman yang tersedia di lokasi.

Tidak ada bangunan permanen di Nawang Senja. Seluruh area duduk dibuat dari material kayu, bambu, dan palet sehingga menghadirkan kesan alami, bahkan kaki pengunjung dapat langsung menyentuh pasir pantai. Konsep ruang terbuka ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri saat musim hujan karena tidak tersedia atap untuk berteduh.

“Ramadan kita belum tau antusiasnya seperti apa karena malah hujan diawal-awal Ramadan ini. Kita kan terkendala masalah cuaca karena Nawang Senja tempat outdoor terbuka,” ujar Owner Nawang Senja, Irawan Yogo kepada Harian Jogja saat ditemui, Minggu (22/2/2026).

Ia menjelaskan kondisi tanpa atap membuat operasional sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan turun, otomatis kunjungan menjadi nihil karena pengunjung tidak memiliki tempat berlindung. Meski demikian, pria yang akrab disapa Awang tersebut tetap optimistis jumlah pengunjung akan meningkat menjelang Idulfitri.

“Sepekan sebelum Idulfitri sepertinya akan ramai karena banyak pemudik yang sudah sampai kampung halaman,” lanjutnya.

Sebagian pengunjung kerap menyebut suasana Nawang Senja mirip kafe pantai di Bali. Namun Awang menegaskan konsep tersebut tidak berkiblat pada daerah lain, melainkan berkembang secara alami dari kondisi Pantai Glagah. Persepsi kemiripan itu muncul karena adanya bendera poleng yang dipasang sebagai elemen dekoratif suasana.

“Kalau bicara konsep dadakan, karena kita melihat Glagah ini kan terkesan sedikit kumuh, kemarin kita rintis dengan membersihkan sampah di pantai tidak hanya dari pengunjung tetapi sampah dari laut,” tutur Awang.

Menurutnya, perubahan kondisi pantai yang lebih bersih, asri, dan nyaman justru menjadi faktor utama meningkatnya kunjungan wisatawan. Ia mengklaim konsep kafe tepi Pantai Glagah pertama kali dipelopori Nawang Senja pada November 2025 sebelum kemudian muncul tempat serupa di sekitar lokasi.

“Konsep kafe baru saya, setelahnya sebelah saya menyusul dengan menu yang hampir sama tetapi harga bervariatif. Sekarang bebas pilihan pengunjung sesuai selera,” ungkapnya.

Awang menegaskan Nawang Senja akan tetap konsisten beroperasi mulai sore hari meskipun ada permintaan untuk buka sejak pagi. Sebagai warga asli Glagah, ia ingin berkontribusi menghidupkan kawasan pantai agar lebih ramai dikunjungi wisatawan. Dampak kehadiran Nawang Senja bahkan terasa pada operasional pintu tempat penarikan retribusi (TPR) Pantai Glagah.

“Biasanya TPR Glagah tutup jam 5 sore sekarang ada Nawang Senja bisa sampai jam 7 malam,” jelasnya.

Ketua Desa Wisata Glagah, Bayu Puspo Putro Pangaribowo, membenarkan keberadaan Nawang Senja menambah daya tarik wisata Pantai Glagah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat setempat. Aktivitas wisata yang meningkat turut berkontribusi pada pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata Kulonprogo karena kawasan pantai dikelola Dinas Pariwisata Kulonprogo.

“Ke depan perlu ditata agar nyaman dan menjaga kelestarian baik lingkungan maupun budaya karena nilai kelestarian harus di atas nilai ekonomi,” tegasnya. Dengan berkembangnya destinasi seperti Nawang Senja di Pantai Glagah, pengelolaan kawasan wisata diharapkan tetap memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kenyamanan pengunjung, serta kelestarian lingkungan pesisir Kulonprogo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news