
Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak mentah dunia kembali mendekati US$90 per barel pada Rabu (12/8/2026). Kenaikan tersebut terjadi ketika serangkaian serangan terhadap pelayaran di Timur Tengah meningkatkan keraguan pasar terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.
Berdasarkan data Marketwatch, harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober 2026 naik 0,4% menjadi US$89,27 per barel pada pukul 16.29 WIB. Sementara itu, minyak patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga menguat 0,4% ke level US$83,53 per barel.
Pergerakan harga tersebut mencerminkan meningkatnya kembali premi risiko di pasar energi. Pelaku pasar sebelumnya masih berharap negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan untuk membuka jalur pelayaran strategis tersebut, tetapi optimisme itu mulai berkurang.
Harapan Kesepakatan Mulai Tergerus
Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar belum sepenuhnya menutup harapan terhadap tercapainya kesepakatan. Namun, pembicaraan yang berlangsung lama membuat keyakinan terhadap penyelesaian dalam waktu dekat semakin melemah.
“Pasar masih belum sepenuhnya kehilangan harapan terhadap tercapainya kesepakatan, tetapi keyakinan terhadap kesepakatan itu jelas mulai terkikis,” kata Waterer seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, semakin lama negosiasi berlangsung tanpa kemajuan yang terlihat, ditambah tuntutan yang semakin kompleks dalam pembicaraan, semakin besar keraguan bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat.
“Optimisme yang muncul pada awal bulan perlahan bergeser menjadi sikap yang lebih hati-hati karena pasar kembali memperhitungkan premi risiko,” katanya.
Serangan Kapal Perbesar Risiko Pelayaran
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangkaian serangan terhadap kapal komersial kembali meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada Selasa (11/8) menuduh kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menewaskan enam orang dalam serangan rudal terhadap kapal komersial di Selat Bab al-Mandeb.
Dua dari enam korban tersebut merupakan anggota pasukan keamanan yang dikerahkan untuk menjalankan operasi penyelamatan setelah serangan pertama.
Situasi tersebut kemudian diikuti tindakan Amerika Serikat. Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan telah menyerang dan melumpuhkan sebuah kapal kargo berbendera Panama setelah kapal tersebut berupaya menerobos blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Rangkaian peristiwa itu menambah tekanan terhadap upaya membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur strategis perdagangan energi dunia.
Iran Masih Menetapkan Syarat
Selat Hormuz sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Karena itu, ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur tersebut menjadi perhatian pasar minyak global.
Kementerian Luar Negeri Qatar pada Selasa menyatakan pembicaraan antara Oman dan Iran mengenai pembukaan kembali selat tersebut telah memasuki tahap lanjutan. Doha berharap jalur pelayaran itu dapat dibuka kembali sesegera mungkin.
Namun, Iran menyatakan pembicaraannya dengan Oman merupakan isu terpisah dari persoalan pembukaan Selat Hormuz.
Pemerintah Iran juga menegaskan selat tersebut akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk pembayaran kompensasi perang dan pencabutan sanksi.
Lalu Lintas Kapal Masih Jauh dari Normal
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa mengklaim Washington telah menguasai Selat Hormuz sepenuhnya. Klaim tersebut disampaikan ketika lalu lintas kapal di jalur strategis itu masih jauh di bawah kondisi normal.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat hanya 10 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin (10/8), jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 130 kapal per hari sebelum perang.
Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Penutupan efektif jalur tersebut oleh Iran sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel kemudian memicu gangguan pasokan energi global terbesar yang pernah tercatat.
Dengan kondisi lalu lintas pelayaran yang masih sangat terbatas dan pembicaraan pembukaan Selat Hormuz yang belum menghasilkan kepastian, pasar minyak kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan. Kondisi itu turut menjaga harga Brent dan WTI berada pada level tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
5

















































