Harianjogja.com, JOGJA—Nemesio Rubén Oseguera Cervantes alias El Mencho, bos Kartel Jalisco New Generation (CJNG), tewas dalam operasi militer Meksiko pada Minggu (22/2/2026).
Dalam operasi tersebut, empat anggota kartel tewas di lokasi. Dua tersangka lain ditangkap hidup-hidup, sementara aparat menyita kendaraan lapis baja, roket, serta berbagai jenis senjata api. Otoritas menyebut operasi ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah perburuan terhadap pimpinan CJNG.
Jejak El Mencho: Dari Polisi hingga Raja Fentanil
El Mencho lahir di Michoacán dari keluarga petani alpukat. Sebelum dikenal sebagai buronan paling diburu, ia pernah tercatat sebagai anggota kepolisian. Karier kriminalnya bermula pada dekade 1980-an dengan menanam ganja sebelum merambah jaringan narkotika lintas negara.
Ia kemudian bermigrasi secara ilegal ke Amerika Serikat dan ditangkap di San Francisco. Pada 1994, pengadilan Distrik Utara California menjatuhkan vonis tiga tahun penjara atas kasus konspirasi heroin. Seusai menjalani hukuman, ia dideportasi ke Meksiko pada usia 30 tahun.
Sekembalinya ke Meksiko, ia bergabung dengan Kartel Milenio lalu merapat ke faksi Sinaloa pimpinan Ignacio "Nacho" Coronel. Seusai Coronel tewas, El Mencho bersama Erik Valencia Salazar membentuk CJNG pada periode 2007–2009. Dalam waktu relatif singkat, organisasi itu berkembang menjadi raksasa perdagangan fentanil dan kokain yang menyaingi Kartel Sinaloa.
Di bawah komandonya, CJNG dikenal sebagai kartel paling agresif. Mereka melakukan serangan terhadap aparat dengan drone peledak, ranjau darat, hingga pernah menembak jatuh helikopter militer. Pada 2020, kelompok ini juga dituding mencoba membunuh kepala kepolisian Mexico City menggunakan granat.
Badan Narkotika Amerika Serikat (DEA) menyebut kekuatan CJNG sebanding dengan Kartel Sinaloa, dengan jaringan distribusi fentanil bernilai miliaran dolar yang menjangkau 50 negara bagian di Amerika Serikat.
Operasi Gabungan dan Tekanan Politik
Anadolu menyebut keberhasilan operasi militer ini disebut tak lepas dari dukungan intelijen Amerika Serikat. Pemerintah AS sebelumnya menawarkan imbalan US$15 juta atau sekitar Rp235 miliar bagi informasi yang mengarah pada penangkapan El Mencho.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau menyebut kematian El Mencho sebagai "perkembangan besar bagi Meksiko, AS, Amerika Latin, dan dunia"."
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum berada di bawah tekanan besar, termasuk dari Presiden AS Donald Trump yang kembali menjabat. Trump sebelumnya mengancam intervensi militer langsung serta kenaikan tarif impor apabila Meksiko gagal membendung arus narkoba, khususnya fentanil. Operasi ini dipandang sebagai sinyal keseriusan pemerintah Meksiko dalam memberantas kartel.
Kabar tewasnya El Mencho segera memicu aksi balasan dari anggota CJNG. Sedikitnya 250 titik blokade dengan kendaraan dibakar dilaporkan di berbagai wilayah. Guadalajara berubah menjadi kota lengang seusai warga memilih bertahan di rumah masing-masing.
Pemerintah daerah menutup sekolah, menghentikan transportasi umum, serta membatalkan berbagai agenda publik. Maskapai seperti Air Canada, United Airlines, dan American Airlines membatalkan penerbangan menuju destinasi wisata seperti Puerto Vallarta dan Guadalajara akibat situasi keamanan.
Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan darurat kepada warga negaranya agar segera mencari tempat aman dan tetap berada di kediaman atau hotel hingga situasi dinyatakan kondusif.
Kerusuhan turut berdampak pada dunia olahraga. Empat pertandingan Liga Meksiko ditunda, termasuk laga Queretaro vs Juarez di kategori putra serta Chivas vs America di liga putri. Status Guadalajara sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 pun ikut menjadi sorotan di tengah memburuknya situasi keamanan.
Siapa Pengganti El Mencho?
Seusai kematian El Mencho, kepemimpinan CJNG menjadi tanda tanya besar. Sejumlah nama disebut berpotensi naik menggantikan posisinya, antara lain Gonzalo Mendoza Gaytán alias "El Sapo" yang menguasai wilayah Puerto Vallarta.
Hindustan Times melaporkan, nama Rubén Oseguera González alias "El Menchito" juga mencuat meski saat ini tengah menjalani hukuman. Selain itu, Juan Carlos Valencia González alias "El Pelón" yang dikenal sebagai tangan kanan kartel turut masuk dalam bursa calon penerus.
"Kepala kartel memang penting, tetapi yang lebih krusial adalah membongkar infrastruktur, logistik, pencucian uang, dan lengan bersenjata mereka," ujar Mike Vigil, mantan kepala operasi internasional DEA.
Kematian El Mencho menjadi pukulan telak bagi CJNG, tetapi dinamika perebutan kekuasaan berpotensi memicu babak baru kekerasan. Perkembangan ini akan sangat menentukan stabilitas keamanan Meksiko, terutama di wilayah yang selama ini menjadi basis operasi Kartel Jalisco New Generation (CJNG) dan jalur utama distribusi fentanil ke Amerika Serikat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

7 hours ago
6

















































