Tarawih Lebih Utama Dilaksanakan Berjamaah, Ini Dalilnya

5 days ago 6
Tarawih Lebih Utama Dilaksanakan Berjamaah, Ini DalilnyaPelaksanaan salat Tarawih jemaah Muhammadiyah di Masjid Subulussalam Al Khoory Universitas Muhammadiyah Makassar (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Salat Tarawih menjadi salah satu ibadah yang paling identik dengan bulan suci Ramadan. Setiap malam, masjid-masjid dipenuhi umat Islam yang datang untuk menunaikan salat sunnah ini dengan penuh kekhusyukan.

Di tengah pelaksanaannya, pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah salat Tarawih lebih utama dikerjakan sendiri di rumah atau berjamaah di masjid.

Mayoritas ulama fikih (jumhur) sepakat bahwa salat Tarawih lebih afdal jika dilaksanakan secara berjamaah. Meski demikian, salat Tarawih yang dikerjakan sendiri tetap sah dan diperbolehkan.

Dilansir dari laman Muhammadiyah.or.id, keutamaan Tarawih berjamaah memiliki landasan kuat dalam hadis Nabi Muhammad saw. Salah satunya diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah melaksanakan salat malam Ramadan di masjid dan diikuti para sahabat.

Pada malam berikutnya, jumlah jamaah semakin banyak. Namun Rasulullah saw tidak keluar pada malam ketiga atau keempat.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa alasan beliau tidak melanjutkan Tarawih berjamaah secara rutin bukan karena tidak dianjurkan, tetapi karena khawatir salat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya.

“Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali aku khawatir salat itu akan diwajibkan atas kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Tarawih berjamaah pernah dilakukan langsung oleh Nabi. Penghentian sementara tersebut bersifat situasional, bukan larangan untuk berjamaah.

Dalil lain yang menegaskan keutamaan Tarawih berjamaah adalah hadis dari Abu Dzar ra. Nabi Muhammad saw bersabda bahwa orang yang salat bersama imam hingga selesai akan memperoleh pahala seperti qiyam satu malam penuh.

“Sesungguhnya siapa yang salat bersama imam hingga imam selesai, maka dicatat baginya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Salat Tarawih berjamaah juga dipandang sebagai bagian dari syiar Islam yang tampak nyata selama Ramadan. Selain memperkuat ibadah, berjamaah juga mempererat ukhuwah dan kebersamaan umat.

Praktik ini kemudian diteguhkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. Umar mengumpulkan kaum Muslimin untuk salat Tarawih di bawah satu imam dan para sahabat menyetujuinya, sehingga menjadi tradisi yang terus berlangsung hingga hari ini.

Dengan demikian, salat Tarawih berjamaah lebih utama untuk dilaksanakan. Meski salat sendiri tetap diperbolehkan, berjamaah menjadi pilihan yang lebih afdal karena menghidupkan syiar Ramadan dan menghadirkan pahala yang lebih besar.

Tahun ini, Jadwal puasa Ramadan 2026 telah ditetapkan. Ada perbedaan awal puasa antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil melalui sidang isbat yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Selasa (17/2/2026).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa secara perhitungan hisab, posisi hilal belum memenuhi standar visibilitas yang ditetapkan oleh MABIMS. Selain itu, tidak terdapat laporan rukyat yang menyatakan hilal terlihat.

“Berdasarkan data hisab dan tidak adanya laporan hilal terlihat, maka disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Nasaruddin Umar dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Bimas Islam Kemenag RI.

Di sisi lain, warga Muhammadiyah telah lebih dahulu memulai ibadah puasa Ramadan pada Rabu, 18 Februari 2026. Mereka juga melaksanakan salat Tarawih perdana pada Selasa malam, 17 Februari 2026, atau satu hari lebih awal dibandingkan keputusan pemerintah.

Penetapan awal Ramadan oleh Muhammadiyah tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang diterbitkan oleh PP Muhammadiyah.

Maklumat itu didasarkan pada hasil perhitungan hisab hakiki yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid, dengan berpedoman pada kriteria dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal yang digunakan Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan Hijriah.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news