KLIKPOSITIF- Menurunnya kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar) dalam beberapa pekan terakhir mendapat perhatian berbagai instansi.
Selain pemerintah daerah, Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat berkendara di tengah kondisi kabut asap dan polusi udara.
Direktur Lalu Lintas Polda Sumbar, Kombes Pol H. M. Reza Chairul Akbar Sidiq, mengatakan jajaran Satlantas Polres dan Polresta telah diarahkan berkoordinasi dengan dinas atau instansi terkait.
Koordinasi tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan simpatik berupa pembagian masker kepada pengguna jalan.
“Karena kabut asap atau polusi lagi tinggi, jadi keselamatan di jalan juga harus lebih dijaga,” katanya.
Ia mengingatkan pengendara untuk memperhatikan sejumlah hal saat kondisi udara dan jarak pandang menurun.
Pertama, pengendara diminta menggunakan masker saat berkendara.
Kedua, berkendara dengan kecepatan yang aman. Pengendara juga diminta menggunakan lampu kendaraan agar lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan lainnya.
Selain itu, pengendara harus memperhatikan jarak aman dengan kendaraan di depan.
“Kalau kondisi tubuh atau jarak pandang mulai terganggu, istirahat atau menepi,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat tetap menjaga kesehatan sekaligus keselamatan selama berkendara.
“Jaga napas, jaga jarak, jaga keselamatan,” katanya.
Terpisah, Kepala Stasiun GAW Bukit Koto Tabang, Sugeng Nugroho, mengatakan hasil pemantauan Selasa menunjukkan sejumlah wilayah Sumbar yang berbatasan dengan Riau mengalami kualitas udara kategori sedang hingga cenderung tidak sehat.
“Pangkalan, Harau atau Limapuluh Kota relatif antara sedang sampai tidak sehat. Lalu Dharmasraya, karena berbatasan dengan Riau,” katanya kepada Katasumbar.
Khusus Limapuluh Kota, konsentrasi PM2,5 berada pada kisaran 41,5 hingga 48 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut masih berada dalam kategori sedang, namun tergolong cukup tinggi.
Sugeng menjelaskan, kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 masuk kategori baik jika berada pada 0-15 mikrogram per meter kubik.
Sementara kategori sedang berada pada rentang 15-55,4 mikrogram per meter kubik. Adapun kategori tidak sehat berada di atas 55,5 mikrogram per meter kubik.
Selain Limapuluh Kota dan Dharmasraya, wilayah Sijunjung dan Solok Selatan juga berbatasan dengan daerah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kalau yang berbatasan itu Limapuluh Kota, Dharmasraya, Sijunjung, Solsel. Itu berbatasan dengan wilayah karhutla. Jadi wilayah kita yang berbatasan dengan Riau itu kelihatannya lebih ke arah tidak sehat,” jelasnya.
Sementara wilayah pesisir barat Sumbar seperti Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan cenderung berada dalam kategori sedang.
Sugeng menyebut kondisi udara Pesisir Selatan relatif mirip dengan Kota Padang karena sama-sama berada di kawasan pantai bagian barat Sumatera.
“Pesisir Selatan lebih mirip Padang. Karena dia berada di barat pantai,” ujarnya.
Untuk Kota Padang, secara umum kualitas udara masih tergolong baik. Namun, pada waktu tertentu kondisinya dapat berubah menjadi sedang hingga tidak sehat.
“Untuk hari ini Kota Padang hampir seluruh kecamatan kategori sedang. Pantauan kami dari pukul 00.00 WIB sampai jam 23.00 WIB nanti,” katanya.
Ia memperkirakan kualitas udara Kota Padang pada Rabu (9/9/2026) akan lebih baik pada pagi hari.
Namun, memasuki siang hingga malam, kualitas udara diperkirakan kembali berada pada kategori sedang.
Kondisi berbeda terjadi di Dharmasraya. Kualitas udara di wilayah tersebut cenderung lebih buruk pada pagi hari.
“Dari dini hari tadi sampai pukul 10.00 WIB tidak sehat. Setelah siang matahari naik, kondisinya membaik. Namun sore hingga malam kembali tidak sehat,” tuturnya.

6 hours ago
2

















































