
Foto ilustrasi ebola dibuat dengan artificial intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA—Universitas Oxford memulai uji klinis fase 1 vaksin pertama yang dikembangkan khusus untuk melawan strain Bundibugyo dari virus Ebola. Pengembangan kandidat vaksin tersebut berlangsung hanya dalam waktu 57 hari sejak wabah dinyatakan, menjadikannya salah satu respons pengembangan vaksin tercepat terhadap penyakit menular dalam beberapa tahun terakhir.
Didukung Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), vaksin bernama ChAdOx1 BDBV akan diuji pada 50 relawan dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun di Oxford, Inggris. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat keamanan vaksin sekaligus mengukur kemampuannya membentuk respons imun.
Rekrutmen Relawan Sudah Dimulai
Proses perekrutan peserta uji klinis telah berlangsung, sementara penyuntikan vaksin dijadwalkan dimulai dalam beberapa pekan mendatang setelah memperoleh persetujuan regulator.
Program percepatan pengembangan vaksin ini juga melibatkan Serum Institute of India Pvt. Ltd. (SII) sebagai mitra produksi.
Perusahaan vaksin yang berbasis di Pune tersebut berhasil memproduksi sekaligus menyiapkan sekitar 620.000 dosis vaksin eksperimental hanya dalam waktu dua pekan untuk kebutuhan penggunaan darurat. Selain itu, sebanyak 4.000 dosis telah disiapkan untuk mendukung pelaksanaan uji klinis fase 1.
"Selama wabah, kecepatan, kesiapan, dan kolaborasi global sangat penting untuk memajukan kandidat vaksin dengan cepat dan bertanggung jawab," kata CEO Serum Institute of India, Adar Poonawalla.
"Kami bangga dapat berkontribusi pada upaya ini bersama CEPI, Universitas Oxford, dan mitra kami lainnya."
Memanfaatkan Teknologi Vaksin Oxford-AstraZeneca
Vaksin ChAdOx1 BDBV dikembangkan tim ilmuwan dari Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute.
Pengembangannya menggunakan platform vektor adenovirus simpanse (ChAdOx) yang sebelumnya menjadi dasar pembuatan vaksin Oxford-AstraZeneca untuk COVID-19.
Platform tersebut diperkirakan telah membantu menyelamatkan lebih dari enam juta jiwa pada tahun pertama penggunaannya secara global.
Wabah Bundibugyo Dinilai Mendesak
Ketua Imunologi Calleva di Oxford Vaccine Group dan Pandemic Sciences Institute, Profesor Teresa Lambe OBE, mengatakan wabah Ebola Bundibugyo yang masih berlangsung menunjukkan perlunya vaksin dan terapi yang efektif.
"Wabah virus Ebola Bundibugyo yang sedang berlangsung terus menghancurkan komunitas yang terdampak, menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan vaksin dan pengobatan yang efektif," kata Teresa Lambe.
Direktur Eksekutif Kesiapsiagaan dan Respons CEPI, Dr. Nicole Lurie, menilai pengembangan vaksin tersebut menjadi langkah penting dalam mempercepat perlindungan terhadap masyarakat yang berisiko.
Menurutnya, epidemi yang sedang berlangsung kini telah menjadi wabah Ebola terbesar ketiga yang pernah tercatat dengan jumlah kasus yang terus meningkat.
"Setiap langkah membawa vaksin yang aman dan efektif lebih dekat dan memperkuat kemampuan kita untuk melindungi komunitas yang rentan, menyelamatkan nyawa, dan membantu mengendalikan wabah ini," katanya.
Disiapkan Uji Klinis di Uganda
Dua pekan setelah wabah dinyatakan, CEPI bersama Universitas Oxford dan Serum Institute of India meluncurkan kemitraan senilai 8,6 juta dolar AS guna mempercepat pengembangan vaksin hingga memasuki tahap uji klinis pada manusia.
Selain pelaksanaan penelitian di Inggris, persiapan juga dilakukan untuk menggelar uji klinis lanjutan di Uganda bekerja sama dengan Medical Research Council/Uganda Virus Research Institute serta Uganda Research Unit of the London School of Hygiene & Tropical Medicine, menunggu persetujuan regulator.
Menurut CEPI, vaksin tersebut berhasil mencapai tahap uji coba pada manusia hanya 57 hari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola Bundibugyo sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).
Kecepatan tersebut menjadikan pengembangan ChAdOx1 BDBV sebagai salah satu respons vaksin tercepat terhadap kemunculan penyakit menular dalam beberapa tahun terakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
4

















































