KLIKPOSITIF – Metode Big Breakfast Diet atau diet dengan porsi sarapan besar kembali menarik perhatian karena diklaim dapat membantu menurunkan berat badan tanpa harus sepenuhnya menghindari makanan manis. Pola makan ini diperkenalkan oleh ahli endokrinologi, Daniela Jakubowicz, MD, yang menekankan pentingnya waktu makan dalam mengatur berat badan.
Menurut Jakubowicz, hormon yang mengendalikan nafsu makan, energi, dan metabolisme tubuh berubah secara alami sepanjang hari. Oleh karena itu, ia menyarankan agar porsi makanan terbesar dikonsumsi saat sarapan, sekitar 15 menit setelah bangun tidur. Pada waktu tersebut, tubuh dianjurkan memperoleh asupan protein, karbohidrat, lemak, dan sedikit makanan manis sesuai porsi yang telah ditentukan.
Dalam pola makan ini, sarapan terdiri atas tujuh porsi protein, dua porsi karbohidrat, dua porsi lemak, serta satu porsi makanan manis. Pilihan makanan manis dapat berupa sepotong kue, donat, atau permen jeli. Sementara itu, makan siang dan makan malam disarankan memiliki porsi yang lebih kecil dengan menu yang didominasi protein, buah, dan sayuran. Karbohidrat serta makanan manis tidak dianjurkan dikonsumsi pada dua waktu makan tersebut.
Selain mengatur pola makan, diet ini juga memperbolehkan konsumsi minuman bebas gula, permen karet tanpa gula, dan kaldu kapan saja. Setelah menjalani program selama satu bulan, pelaku diet diperbolehkan mengonsumsi minuman beralkohol sesekali saat makan, dengan pilihan minuman rendah gula seperti berbahan dasar vodka atau wiski.
Meski tergolong cukup fleksibel karena hampir semua jenis makanan masih dapat dikonsumsi sesuai aturan porsi, pola makan ini dinilai memerlukan penyesuaian, terutama bagi mereka yang terbiasa melewatkan sarapan atau mengonsumsi makan malam dalam porsi besar. Diet ini juga tetap memperbolehkan makan di luar rumah selama pilihan makanan disesuaikan dengan komposisi nutrisi yang dianjurkan.
Program tersebut turut menekankan pentingnya aktivitas fisik. Pelaku diet dianjurkan bergerak setidaknya 20 menit setiap hari, misalnya dengan berjalan santai, menari, berkebun, atau aktivitas ringan lainnya. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan di pusat kebugaran maupun dengan latihan berintensitas tinggi.
Big Breakfast Diet juga dapat disesuaikan dengan beberapa kebutuhan pola makan khusus. Sumber protein berbasis susu dapat diganti dengan produk kedelai bagi vegetarian, vegan, atau mereka yang memiliki intoleransi laktosa. Sementara itu, individu yang menjalani pola makan bebas gluten disarankan memilih bahan makanan bebas gluten serta memeriksa label produk sebelum dikonsumsi.
Dilansir dari laman WebMd, para ahli mengingatkan bahwa setiap program diet sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi tetap dianjurkan sebelum memulai pola makan tertentu agar manfaat yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan tubuh.

18 hours ago
7


















































