Jumali Rabu, 27 Mei 2026 15:27 WIB

Sepeda listrik - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah negara bagian New York, Amerika Serikat, menunda pembahasan rencana pengetatan regulasi sepeda listrik atau e-bike akibat proses anggaran yang mengalami keterlambatan. Kondisi ini membuat sejumlah rancangan aturan transportasi, termasuk kewajiban registrasi e-bike, tidak masuk prioritas pembahasan legislatif tahun berjalan.
Dilansir dari Radio WAMC, penundaan ini berdampak pada perdebatan panjang mengenai masa depan mobilitas mikro di kota besar tersebut, di tengah meningkatnya jumlah pengguna e-bike yang kini menjadi tulang punggung pekerjaan pengantaran di New York.
Di balik penundaan tersebut, anggota Majelis Bill Magnarelli selaku ketua komite transportasi menyebut keterlambatan anggaran membuat banyak rancangan undang-undang tersingkir dari agenda utama. Ia bahkan menilai usulan registrasi e-bike kemungkinan baru bisa kembali dibahas sekitar 2027.
Perdebatan dua kubu soal aturan e-bike
Elektrek menyebut, dorongan untuk memperketat aturan datang dari kelompok yang menilai registrasi e-bike diperlukan untuk memudahkan penegakan hukum di jalan. Mereka menyoroti meningkatnya pelanggaran lalu lintas, penggunaan trotoar secara tidak semestinya, hingga keberadaan e-bike berkecepatan tinggi yang dianggap tidak sesuai aturan.
Namun, kelompok advokasi pesepeda dan pekerja pengiriman menolak wacana tersebut. Mereka menilai regulasi yang ada sebenarnya sudah cukup, dan persoalan utama justru terletak pada lemahnya penegakan hukum di lapangan, bukan pada penambahan aturan baru.
Direktur Eksekutif New York Bicycling Coalition, Anne Savage, bahkan menyebut New York perlu berhati-hati dan tidak meniru kebijakan negara bagian lain yang dinilai terlalu membebani pengguna sepeda listrik.
Perdebatan ini terjadi di tengah lonjakan penggunaan e-bike di New York. Data menunjukkan aktivitas pesepeda di sejumlah jalur utama, termasuk penyeberangan Jembatan East River, mencapai puluhan ribu perjalanan setiap hari dan terus meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Di sisi lain, sekitar 80.000 pekerja pengantaran di kota tersebut kini bergantung pada e-bike sebagai alat utama untuk bekerja, menjadikannya bagian penting dari ekosistem ekonomi gig di wilayah perkotaan padat.
Saat ini, e-bike di New York diklasifikasikan dalam tiga kategori, mulai dari Kelas 1 hingga Kelas 3, dengan batas kecepatan dan aturan penggunaan yang berbeda. Kelas 3, misalnya, memiliki batas kecepatan lebih tinggi dan hanya diizinkan di wilayah tertentu di New York City.
Selain itu, terdapat pembatasan tambahan seperti larangan penggunaan di jalan tertentu serta batas usia minimum pengendara. Pemerintah kota juga sebelumnya menetapkan batas kecepatan lebih ketat untuk sebagian wilayah perkotaan demi keselamatan.
Penundaan pembahasan aturan ini membuat masa depan regulasi e-bike di New York belum memiliki kepastian. Sementara itu, negara bagian lain seperti New Jersey justru mulai bergerak dengan rencana penerapan registrasi dan lisensi e-bike yang dijadwalkan berlaku pada 2026.
Situasi ini menjadikan New York sebagai salah satu wilayah yang akan menjadi sorotan dalam menentukan arah kebijakan transportasi mikro di Amerika Serikat, terutama terkait keseimbangan antara keselamatan jalan, mobilitas perkotaan, dan kebutuhan ekonomi para pekerja pengiriman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

10 hours ago
7

















































