Harianjogja.com, JOGJA— Pemilik mobil listrik perlu memperhatikan cara mengisi daya, suhu kendaraan, kondisi ban, cairan pendukung, hingga pembaruan perangkat lunak agar kendaraan tetap optimal. Perhatian terbesar biasanya tertuju pada baterai karena komponen ini berpengaruh langsung terhadap jarak tempuh dan nilai kendaraan.
Berbeda dari mobil bermesin pembakaran internal (ICE), mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen bergerak dan tidak membutuhkan oli mesin. Namun, bukan berarti kendaraan listrik bebas perawatan. Sistem baterai, pendinginan, pengereman, ban, dan perangkat elektronik tetap perlu diperiksa secara berkala.
Data terbaru Geotab yang menganalisis lebih dari 22.700 kendaraan listrik menunjukkan rata-rata degradasi baterai sekitar 2,3% per tahun. Penggunaan DC fast charging berdaya tinggi menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap percepatan degradasi.
1. Atur Kebiasaan Mengisi Daya
Kebiasaan pengisian daya menjadi salah satu hal penting dalam menjaga kesehatan baterai mobil listrik. Untuk penggunaan sehari-hari, pengisian pada rentang menengah seperti 20% hingga 80% dapat menjadi kebiasaan yang baik, terutama ketika kendaraan akan kembali digunakan dalam waktu dekat.
Namun, angka tersebut tidak perlu dianggap sebagai aturan mutlak. Data Geotab menunjukkan baterai modern tidak otomatis mengalami kerusakan lebih cepat hanya karena sesekali diisi penuh atau digunakan hingga level rendah. Risiko degradasi meningkat ketika kendaraan terlalu lama dan berulang kali berada pada kondisi hampir penuh atau hampir kosong.
Pengisian hingga 100% tetap dapat dilakukan ketika diperlukan, misalnya sebelum perjalanan jauh. Pemilik sebaiknya mengikuti batas pengisian yang direkomendasikan pabrikan karena setiap mobil dapat memiliki karakteristik baterai dan sistem manajemen yang berbeda.
2. Jangan Terlalu Sering Mengandalkan DC Fast Charging
DC fast charging memang memberikan keuntungan ketika pengemudi membutuhkan tambahan daya dalam waktu singkat. Namun, penggunaan pengisian cepat berdaya tinggi secara rutin dapat memberikan beban lebih besar terhadap baterai, terutama karena arus dan panas yang dihasilkan selama proses pengisian.
Dalam analisis Geotab, kendaraan yang banyak mengandalkan DC fast charging berdaya lebih dari 100 kW mengalami tingkat degradasi hingga sekitar 3% per tahun, dibandingkan sekitar 1,5% pada kendaraan yang lebih banyak menggunakan pengisian berdaya rendah.
Karena itu, AC charging di rumah dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan pengisian rutin apabila waktu pengisian bukan persoalan. DC fast charging sebaiknya dimanfaatkan ketika memang dibutuhkan, seperti saat perjalanan jauh.
3. Lindungi Mobil dari Paparan Panas Berlebih
Suhu merupakan faktor lain yang memengaruhi kesehatan baterai. Kondisi panas yang ekstrem dapat mempercepat proses degradasi, sehingga pemilik mobil listrik di Indonesia perlu memperhatikan lokasi parkir, terutama ketika kendaraan tidak digunakan dalam waktu lama.
Jika tersedia, gunakan tempat parkir yang teduh atau berada di dalam ruangan. Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi paparan panas langsung pada kendaraan.
Data Geotab menunjukkan kendaraan yang beroperasi di iklim panas mengalami degradasi sekitar 0,4% lebih tinggi per tahun dibandingkan kendaraan di kondisi iklim yang lebih sejuk.
Meski demikian, sistem manajemen termal pada mobil listrik modern dirancang untuk membantu mengontrol kondisi baterai. Karena itu, pemilik tetap perlu mengikuti prosedur penggunaan dan perawatan yang ditentukan produsen kendaraan.
4. Periksa Cairan yang Tetap Dibutuhkan
Tidak adanya oli mesin bukan berarti mobil listrik sama sekali tidak memiliki cairan yang perlu diperiksa. Sejumlah kendaraan listrik menggunakan coolant untuk membantu mengatur temperatur baterai, inverter, motor listrik, atau komponen terkait lainnya.
Minyak rem juga tetap diperlukan karena mobil listrik tetap menggunakan sistem pengereman mekanis. Sistem regenerative braking memang membantu memperlambat kendaraan sekaligus mengembalikan sebagian energi ke baterai, tetapi tidak menggantikan seluruh fungsi rem konvensional.
Cairan pembersih kaca juga perlu dipastikan tersedia agar visibilitas tetap terjaga. Jadwal pemeriksaan dan penggantian coolant maupun minyak rem sebaiknya mengikuti buku manual masing-masing kendaraan karena spesifikasi dan interval perawatan dapat berbeda.
5. Perhatikan Tekanan dan Kondisi Ban
Bobot mobil listrik dapat cukup besar karena adanya baterai berkapasitas tinggi. Kondisi tersebut membuat pemilik perlu lebih disiplin memeriksa ban, terutama tekanan udara dan keausannya.
Gunakan tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan yang biasanya tercantum pada label kendaraan atau buku manual. Tekanan yang terlalu rendah dapat meningkatkan hambatan gulir dan berpotensi membuat konsumsi energi lebih tinggi.
Selain tekanan, periksa kedalaman tapak, kondisi dinding ban, serta pola keausan. Rotasi ban dilakukan sesuai rekomendasi pabrikan karena intervalnya dapat berbeda antarjenis kendaraan dan ban.
6. Jangan Abaikan Pembaruan Software
Mobil listrik modern mengandalkan perangkat lunak untuk mengatur berbagai fungsi kendaraan, termasuk sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS), pengisian daya, motor listrik, hingga sejumlah fitur keselamatan.
Karena itu, pembaruan software tidak sebaiknya dianggap sebagai hal sepele. Jika pabrikan menyediakan pembaruan resmi, lakukan sesuai prosedur yang diberikan. Untuk pembaruan atau pemeriksaan yang membutuhkan peralatan khusus, pemilik dapat memanfaatkan bengkel resmi.
Perangkat lunak juga dapat memengaruhi cara kendaraan membaca dan melaporkan kondisi baterai. Bahkan, perubahan jangka pendek pada kapasitas yang terbaca dapat dipengaruhi temperatur dan software sehingga tidak selalu berarti baterai mengalami degradasi permanen.
7. Perhatikan Mobil Saat Disimpan Lama
Mobil listrik yang tidak digunakan dalam waktu panjang sebaiknya tidak dibiarkan terus-menerus dalam kondisi baterai hampir penuh atau hampir kosong. Kondisi penyimpanan yang tepat perlu mengikuti rekomendasi masing-masing pabrikan.
Sebagai prinsip umum, hindari membiarkan kendaraan terlalu lama berada pada kondisi ekstrem. Jika mobil akan ditinggalkan selama beberapa minggu atau lebih, periksa buku manual untuk mengetahui rekomendasi tingkat pengisian daya dan prosedur penyimpanan model tersebut.
Kebiasaan ini lebih penting daripada sekadar mengejar angka persentase tertentu karena karakteristik baterai, sistem manajemen, dan buffer yang digunakan setiap mobil dapat berbeda.
8. Kenali Kondisi Baterai dari Waktu ke Waktu
Degradasi baterai merupakan proses alami. Kapasitas penyimpanan energi secara bertahap akan berkurang sehingga jarak tempuh yang dapat dicapai dalam satu kali pengisian juga dapat berubah.
Geotab mencatat rata-rata degradasi baterai EV dalam analisis terbarunya berada di sekitar 2,3% per tahun, tetapi angka tersebut bukan patokan untuk semua mobil. Model, jenis baterai, pola pengisian, temperatur, serta penggunaan kendaraan dapat menghasilkan tingkat degradasi yang berbeda.
Karena itu, pemilik sebaiknya tidak langsung menyimpulkan baterai bermasalah hanya berdasarkan perubahan jarak tempuh. Pemeriksaan kesehatan baterai melalui sistem kendaraan, diagnostik, atau layanan resmi dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi baterai.
Panduan Singkat Perawatan Mobil Listrik
| Baterai | Hindari terlalu lama pada kondisi hampir penuh atau hampir kosong | Saat penggunaan dan penyimpanan |
| Pengisian daya | Prioritaskan AC untuk kebutuhan rutin dan gunakan DC fast charging sesuai kebutuhan | Setiap pengisian |
| Sistem pendinginan | Periksa coolant dan kemungkinan kebocoran | Sesuai buku manual |
| Ban | Periksa tekanan, tapak, dan keausan | Secara berkala |
| Rem | Periksa minyak rem dan komponen pengereman | Sesuai jadwal servis |
| Software | Pasang pembaruan resmi | Saat tersedia/sesuai servis |
| Baterai saat disimpan | Hindari penyimpanan terlalu lama dalam kondisi ekstrem | Sebelum kendaraan ditinggalkan |
Merawat mobil listrik tidak berarti harus selalu menerapkan aturan pengisian yang kaku. Yang lebih penting adalah menghindari kebiasaan yang memberi tekanan berlebihan pada baterai, membatasi penggunaan fast charging berdaya tinggi ketika tidak diperlukan, memperhatikan temperatur, serta mengikuti jadwal perawatan dari pabrikan.
Dengan memahami pola penggunaan tersebut, pemilik dapat membantu menjaga kesehatan baterai sekaligus mempertahankan performa dan nilai kendaraan dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

6 hours ago
1
















































