Harianjogja.com, BEIJING—China kembali memperkuat ambisinya di sektor antariksa dengan meluncurkan pesawat antariksa berawak Shenzhou-23 pada Minggu (25/5/2026) malam. Dalam misi terbaru ini, salah satu astronot diproyeksikan menjalani eksperimen tinggal di orbit selama satu tahun penuh, lebih lama dibanding pola penugasan enam bulan yang selama ini diterapkan di stasiun luar angkasa Tiangong.
Peluncuran dilakukan menggunakan roket Long March 2F dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Provinsi Gansu , China barat laut. Roket tersebut membawa tiga astronot menuju stasiun luar angkasa Tiangong sebagai bagian dari pengembangan kemampuan antariksa jangka panjang Negeri Tirai Bambu.
Misi Shenzhou-23 juga menjadi catatan sejarah baru karena melibatkan warga Hong Kong pertama dalam program antariksa nasional China. Lai Ka-ying ikut dalam misi tersebut sebagai spesialis muatan dan menjadi perempuan keempat China yang melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Menurut otoritas Hong Kong, Lai sebelumnya dikenal sebagai kepala polisi di wilayah semi-otonom tersebut serta memiliki keahlian di bidang forensik komputer.
Media pemerintah China melaporkan kru Shenzhou-23 akan menjalankan lebih dari 100 proyek penelitian ilmiah dan eksperimen aplikasi selama berada di orbit. Penelitian tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari ilmu hayati, kedokteran kedirgantaraan, hingga pengembangan teknologi antariksa terbaru.
Sebagai bagian dari strategi memperkuat keberadaan manusia di luar angkasa dalam jangka panjang, salah satu anggota kru diperkirakan menjalani eksperimen tinggal selama satu tahun di stasiun luar angkasa Tiangong .
Sejak pembangunan Tiangong rampung pada 2022, para astronot China dalam misi sebelumnya hanya bertugas selama sekitar enam bulan di orbit. Eksperimen terbaru tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk menguji kemampuan manusia bertahan lebih lama di luar angkasa.
Peluncuran Shenzhou-23 berlangsung di tengah persaingan program antariksa antara China dan Amerika Serikat yang sama-sama menargetkan pendaratan manusia di Bulan dalam beberapa tahun ke depan.
Pada April 2026, misi Artemis II milik NASA menandai penerbangan berawak mengelilingi Bulan pertama dalam lebih dari lima dekade. Misi tersebut juga mencatat perjalanan manusia terjauh dari Bumi dalam sejarah eksplorasi antariksa modern.
China sendiri melalui Badan Antariksa Berawak China menargetkan pendaratan manusia pertama di Bulan pada 2030. Sementara itu, NASA berupaya membangun kehadiran manusia permanen di sekitar Bulan dalam dekade mendatang sebagai bagian dari program eksplorasi luar angkasa jangka panjang.
Bulan lalu, China juga mengumumkan dua astronot Pakistan telah dipilih untuk mengikuti pelatihan menuju misi ke stasiun luar angkasa Tiangong pada akhir tahun ini. Setelah seluruh tahapan pelatihan dan evaluasi selesai, salah satu dari mereka diproyeksikan menjadi astronot asing pertama yang bertugas di stasiun luar angkasa milik China tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

1 hour ago
3

















































