Newswire Selasa, 11 Agustus 2026 18:37 WIB

Seorang pejalan kaku melintas di depan papan nama Kantor Danantara, jakarta. Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA— Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah menggarap 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan total nilai investasi mencapai Rp225 triliun. Rangkaian proyek yang tersebar dari Sumatra hingga Papua itu diperkirakan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja langsung.
Seluruh proyek tersebut dijalankan secara bertahap sejak awal 2026 melalui dua fase groundbreaking. Program ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi sumber daya alam nasional yang merupakan salah satu prioritas pemerintah.
Fase pertama dimulai pada 6 Februari 2026 dengan groundbreaking enam proyek prioritas di 13 lokasi. Investasi pada fase tersebut mencapai Rp109 triliun dengan potensi serapan tenaga kerja sebanyak 11.456 orang.
Beberapa proyek yang menjadi andalan pada fase pertama antara lain smelter alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, fasilitas bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, serta bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur.
Fase Kedua Tambah Investasi Rp116 Triliun
Tahap berikutnya dilaksanakan pada 29 April 2026. Fase kedua mencakup 10 proyek prioritas yang tersebar di 13 lokasi berbeda.
Nilai investasi pada fase kedua mencapai Rp116 triliun. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan menyerap 26.377 tenaga kerja.
Jika digabungkan, kedua fase tersebut menjadi bagian dari rangkaian 26 proyek hilirisasi strategis Danantara dengan total investasi Rp225 triliun dan potensi penyerapan 37.833 tenaga kerja langsung.
Proyek Hilirisasi Membentang dari Sumatra hingga Papua
Dari sisi sektor, proyek yang digarap Danantara memiliki cakupan yang beragam. Pada sektor pertambangan, pengembangan diarahkan pada smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga.
Sementara pada sektor energi dan bioenergi, proyek mencakup produksi bioavtur berbahan used cooking oil serta bioetanol berbasis tebu.
Adapun sektor perkebunan dan komoditas unggulan daerah diarahkan untuk mengolah hasil bumi lokal sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
Sebaran proyek dari Sumatra hingga Papua menunjukkan bahwa agenda hilirisasi tersebut tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Hilirisasi Dorong Ekonomi Daerah
Rangkaian proyek tersebut juga dinilai memberikan dampak langsung terhadap perekonomian daerah. Kehadiran smelter dan fasilitas pengolahan di wilayah penghasil bahan baku membuka lapangan kerja lokal secara langsung.
Aktivitas produksi juga berpotensi menggerakkan perekonomian di sekitar lokasi proyek melalui multiplier effect. Dampaknya mencakup rantai pasok bahan baku hingga jasa penunjang.
Selain membuka lapangan kerja, hilirisasi membuat nilai tambah komoditas dinikmati di dalam negeri. Kondisi tersebut berbeda dengan pola sebelumnya ketika komoditas diekspor dalam bentuk bahan mentah.
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dilihat dari besarnya investasi.
"Hilirisasi harus memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian nasional, tidak hanya dari sisi investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat," ujarnya.
BUMN, Swasta hingga UMKM Dilibatkan
Bagi investor, rangkaian proyek tersebut menjadi sinyal mengenai konsistensi arah kebijakan hilirisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Danantara menegaskan komitmennya membangun ekosistem investasi yang melibatkan BUMN dan swasta secara beriringan. Skema tersebut juga membuka peluang bagi UMKM dan tenant lokal untuk masuk dalam rantai pasok industri hilirisasi.
Dengan demikian, pelaku usaha lokal tidak hanya menjadi penonton dari investasi berskala triliunan rupiah, tetapi memiliki peluang untuk terlibat dalam aktivitas industri yang berkembang di wilayahnya.
Pada akhirnya, realisasi 26 proyek tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai capaian investasi jangka pendek. Danantara menjadikannya bagian dari transformasi struktural ekonomi nasional, dari ketergantungan pada ekspor bahan mentah menuju ekonomi dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi proyek juga dijadikan indikator utama untuk mengukur keberhasilan program hilirisasi ke depan. Indikator tersebut menjadi tolok ukur apakah investasi triliunan rupiah yang digelontorkan benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

1 hour ago
2
















































