PADANG, KLIKPOSITIF- Keberhasilan dalam kehidupan tidak cukup hanya dicapai melalui prestasi akademik dan profesional, tetapi juga perlu diiringi kemampuan membangun keluarga.
Menurut Rektor Unand Efa Yonnedi, keseimbangan antara peran akademik, profesional, dan keluarga merupakan tantangan yang dihadapi banyak orang, termasuk sivitas akademika.
“Menjaga keseimbangan peran di akademik, peran profesional, dan peran keluarga tidaklah mudah. Kita sendiri mengalaminya,” ungkap Efa Yonnedi saat Seminar Spesial Dies Natalis ke-70/Lustrum XIV bertema “70 Tahun Mencerdaskan Bangsa: Menyeimbangkan Peran Akademik, Profesional, dan Keluarga” di Auditorium UNAND, Kamis (20/8).
Kegiatan yang menghadirkan dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI., Praktisi Neuroparenting Skill diharapkan dapat memberikan bekal nyata bagi peserta dalam menjalankan berbagai peran, baik sebagai akademisi, profesional, maupun orang tua.
“Semoga seminar ini memberi bekal yang nyata bagi kita semua untuk menjalankan peran ganda, sebagai ayah, sebagai dosen, sebagai ibu, sebagai dekan, sebagai direktur. Ini merupakan peran yang sangat challenging, tidak mudah menyeimbangkan peran-peran yang kita jalankan,” katanya.
Sementara itu, Ketua TP-PKK Provinsi Sumatera Barat Ny. Harneli Mahyeldi melihat tantangan keluarga di era digital, termasuk berbagai persoalan yang dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Menurutnya, keluarga perlu terus dibangun menjadi ruang yang aman, nyaman, dan harmonis.
“Kita tentunya sangat menginginkan rumah tangga yang selalu romantis, aman dan nyaman. Kita menginginkan bahwasannya rumah tangga kita bukan hanya sampai di dunia saja, tapi sampai akhirat kelak,” ujar Harneli.
Untuk itu, Harneli mengajak peserta untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam seminar di kehidupan sehari-hari. Ia membagikan beberapa praktik yang telah dipelajarinya dari dr. Aisah Dahlan, seperti memperbanyak senyum dan tawa bersama keluarga, melakukan aktivitas fisik, serta memberikan sentuhan kasih sayang.
“Ilmu yang kita dapatkan nanti harus kita sampaikan kepada suami kita di rumah. Nanti insyaallah ilmu itu bisa kita terapkan sehingga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang bahagia, bukan hanya di dunia, tapi juga insyaallah sampai ke surga,” tuturnya.
Dalam materinya, dr. Aisah Dahlan memperkenalkan konsep neuroparenting, yakni pendekatan pengasuhan yang mempertimbangkan cara kerja dan perkembangan otak. Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap perkembangan otak dapat membantu orang tua menentukan cara berkomunikasi dan mendidik anak secara lebih tepat.
Dr. Aisah menekankan pentingnya meninggalkan pola pengasuhan yang mengandalkan kekerasan dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih lembut serta sesuai dengan perkembangan anak.
“Sekarang kita sebaiknya memperlakukan anak dengan lembut sesuai dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya memahami perkembangan prefrontal cortex yang berkaitan dengan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat membantu orang tua menyesuaikan harapan, aturan, dan cara mendisiplinkan anak berdasarkan tahap perkembangannya.
Selain hubungan orang tua dan anak, dr. Aisah membahas perbedaan karakteristik laki-laki dan perempuan dalam berkomunikasi. Pemahaman terhadap perbedaan tersebut dinilai penting agar pasangan tidak mudah mengalami kesalahpahaman yang dapat berkembang menjadi konflik dalam rumah tangga.
Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70/Lustrum XIV Universitas Andalas sekaligus menjadi ruang bagi sivitas akademika untuk memperoleh wawasan mengenai pengasuhan, komunikasi keluarga, dan upaya membangun keseimbangan antara kehidupan akademik, profesional, dan keluarga.

8 hours ago
4

















































