Tangkapan Layar Pulau Lanjukang (Dok: Ist)KabarMakassar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui Dinas Pariwisata mulai mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar untuk pembangunan infrastruktur dasar di Pulau Lanjukang.
Pulau tersebut diproyeksikan sebagai proyek percontohan (pilot project) pengembangan wisata bahari di wilayah kepulauan.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Makassar, Akhmad Hendra Hakamuddin, mengatakan anggaran tersebut difokuskan pada pembangunan dermaga wisata sebagai fasilitas utama penunjang akses ke pulau.
“Anggaran terbesar memang kita fokuskan ke dermaga sekitar Rp3 miliar. Ini menjadi prioritas karena akses adalah kunci utama pengembangan wisata,” ujarnya, Sabtu (04/04).
Ia menjelaskan, dermaga yang dirancang bukan sekadar fasilitas transportasi, melainkan bagian dari konsep wisata yang terintegrasi. Desainnya disiapkan sepanjang kurang lebih 80 meter agar dapat disandari kapal pinisi, sehingga menambah jumlah wisatawan.
“Dermaga ini kita desain sebagai dermaga wisata, bahkan kapal pinisi bisa bersandar. Jadi bukan hanya fungsi transportasi, tapi juga bagian dari pengalaman wisata,” tegasnya.
Selain pembangunan fisik, Dispar Makassar juga menyiapkan konsep pengembangan kawasan secara menyeluruh, mulai dari akses transportasi, fasilitas pendukung, hingga konten wisata yang akan ditawarkan kepada pengunjung.
“Kita siapkan konsep dari A sampai Z, end-to-end. Mulai dari keberangkatan, aktivitas di pulau, sampai wisatawan kembali,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata dia, akan masuk tahap lelang yang ditargetkan berlangsung pada pertengahan tahun ini, dengan harapan fasilitas dasar dapat mulai terbangun dalam waktu dekat.
Pemilihan Pulau Lanjukang sebagai lokasi pilot project didasarkan pada potensi alamnya yang dinilai masih alami dan belum banyak tersentuh pembangunan.
“Lanjukang ini masih sangat murni. Potensinya besar untuk snorkeling, diving, dan eco-tourism seperti konservasi terumbu karang,” terangnya.
Meski demikian, Hendra menegaskan pengembangan tidak akan dilakukan secara masif. Pemerintah justru membatasi pembangunan fisik guna menjaga kelestarian lingkungan pulau.
“Kita minimalkan konstruksi. Bahkan material dermaga kita pilih kayu, supaya tetap menjaga karakter alami pulau,” tegasnya.
Anggaran lain di luar pembangunan dermaga relatif kecil dan dilakukan bertahap, sejalan dengan konsep pengembangan wisata yang berorientasi pada keberlanjutan.
“Yang besar itu dermaga dulu, sisanya bertahap. Kita ingin tetap menjaga nature di sana,” tukasnya.


















































