Duka Budaya! Pelestari Wayang Kertas Legendaris Mbah Brambang Wafat

3 hours ago 4

Duka Budaya! Pelestari Wayang Kertas Legendaris Mbah Brambang Wafat

Prosesi pemakaman perajin sekaligus pelestari wayang kertas, Wagiyo Merto Wirejo di rumah duka di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (12/5/2026). (Istimewa/Pemdes Wirun)

Harianjogja.com, SUKOHARJO — Kabar duka datang dari dunia seni tradisi Indonesia. Perajin sekaligus pelestari wayang kertas legendaris asal Mojolaban, Wagiyo Merto Wirejo atau yang akrab disapa Mbah Brambang, meninggal dunia pada usia 95 tahun, Selasa (12/5/2026) dini hari.

Mbah Brambang mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 04.30 WIB di RSI Kustati Solo setelah sempat menjalani perawatan. Kepergian sosok sepuh ini meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi pegiat seni tradisional dan masyarakat pecinta budaya Jawa.

Jenazah almarhum kemudian dibawa ke rumah duka di Dusun Godegan, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo. Rencananya, almarhum dimakamkan pada pukul 11.00 WIB di pemakaman umum Dusun Kebak, Desa Wirun.

Kepala Desa Wirun, Erry Suseo Wibowo, membenarkan kabar wafatnya Mbah Brambang. Ia menyebut usia yang sudah sangat sepuh menjadi faktor kondisi kesehatan almarhum menurun sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Beliau sudah berusia 95 tahun dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum meninggal dunia tadi subuh,” ujarnya.

Dedikasi 60 Tahun Lebih untuk Wayang Kertas

Mbah Brambang dikenal luas sebagai pelestari seni wayang berbahan kertas wondertex—sebuah jenis wayang langka yang kini semakin jarang ditemui. Sejak 1965, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk membuat dan mengembangkan wayang kertas, menjadikannya salah satu perajin terakhir di Indonesia.

Perjalanan panjangnya dimulai saat masih muda, ketika ia memproduksi wayang kertas di kawasan Gedung Wayang Orang Sriwedari, pusat kesenian tradisional di Solo. Seiring bertambahnya usia, aktivitas tersebut dilanjutkan dari rumah dengan bantuan keluarga.

Yang membuat sosok Mbah Brambang begitu istimewa adalah konsistensinya. Bahkan di usia lebih dari 90 tahun, ia masih aktif memproduksi wayang kertas dengan tangan sendiri—sebuah bukti nyata kecintaan terhadap budaya leluhur.

“Perajin wayang kertas itu sangat sedikit, bisa dihitung jari. Ini yang membuat karya beliau sangat bernilai,” kata Erry.

Warisan Budaya yang Tak Tergantikan

Karya-karya Mbah Brambang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga menarik perhatian tokoh nasional, pejabat, hingga pelaku UMKM. Banyak yang datang langsung ke kediamannya untuk menyaksikan proses pembuatan wayang, mulai dari pemotongan bahan hingga pewarnaan detail.

Kepergian Mbah Brambang menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi Indonesia. Sosoknya bukan sekadar perajin, tetapi juga penjaga warisan budaya yang langka dan berharga.

“Beliau adalah simbol ketulusan dalam melestarikan budaya. Kami sangat kehilangan,” tutup Erry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : espos.id

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news