Era AI, Begini Cara Tepat Mengambil Keputusan Tanpa Bias

3 hours ago 2

Era AI, Begini Cara Tepat Mengambil Keputusan Tanpa Bias

AI mempermudah pengambilan keputusan, tetapi juga berisiko membuat manusia terlalu bergantung dan kehilangan daya kritis. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Dari mencari informasi, menyusun pekerjaan, hingga membantu mengambil keputusan, AI kini menjadi alat yang digunakan banyak orang. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah AI membuat manusia semakin cerdas atau justru semakin bergantung pada teknologi?

Persoalan itu menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Webinar Informatika Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri UII, Kholid Haryono, mengulas bagaimana manusia dapat mengambil keputusan secara tepat di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan AI yang semakin pesat.

Menurut Kholid, setiap orang membuat banyak keputusan setiap hari, mulai dari persoalan sederhana hingga keputusan yang berdampak besar terhadap masa depan. Namun, manusia pada dasarnya tidak selalu mampu mengambil keputusan secara sepenuhnya rasional.

Ia menjelaskan teori bounded rationality yang diperkenalkan Herbert Simon menunjukkan bahwa keterbatasan waktu, kemampuan berpikir, dan informasi yang tersedia sering kali membuat seseorang memilih solusi yang dianggap cukup baik (satisficing), bukan solusi yang benar-benar paling optimal.

Selain itu, proses pengambilan keputusan juga kerap dipengaruhi berbagai bias kognitif. Salah satunya adalah anchoring bias, yaitu kecenderungan terlalu bergantung pada informasi pertama yang diterima. Ada pula confirmation bias yang membuat seseorang hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki dan mengabaikan fakta lain yang bertentangan.

AI Tak Lagi Sekadar Mesin Pencari

Kholid menilai perkembangan AI telah mengubah cara manusia mengakses dan mengolah informasi. Jika pada masa lalu tantangan terbesar adalah mencari data yang sulit ditemukan, kini persoalannya justru bagaimana menyaring informasi yang jumlahnya sangat melimpah.

AI saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pencari informasi. Teknologi tersebut sudah mampu merangkum data, menganalisis pola, memberikan rekomendasi, hingga mengotomatisasi berbagai keputusan rutin yang sebelumnya dilakukan manusia.

Meski menawarkan efisiensi tinggi, penggunaan AI secara berlebihan juga menyimpan risiko. Kholid mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis apabila pengguna menerima seluruh hasil yang diberikan tanpa proses evaluasi.

"AI sering bekerja seperti black box, sehingga pengguna tidak selalu memahami alasan di balik jawaban atau rekomendasinya," ujar Kholid.

Menurutnya, AI juga berpotensi menghasilkan rekomendasi yang kurang tepat apabila data yang digunakan dalam proses pelatihan mengandung bias sejak awal. Karena itu, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti pertimbangan manusia.

Cara Mengambil Keputusan di Era AI

Untuk mengurangi risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan, Kholid menyarankan masyarakat tetap menerapkan tahapan berpikir rasional. Tahapan tersebut dimulai dari mengidentifikasi masalah secara jelas, mengumpulkan informasi yang relevan, menyusun berbagai alternatif solusi, mempertimbangkan risiko dan manfaat, hingga melakukan evaluasi terhadap hasil keputusan yang telah diambil.

Berbagai metode pengambilan keputusan juga dapat digunakan untuk membantu proses tersebut. Di antaranya decision matrix untuk membandingkan berbagai pilihan berdasarkan kriteria tertentu, decision tree untuk memetakan kemungkinan konsekuensi, hingga metode kuantitatif seperti AHP, TOPSIS, dan SAW yang banyak digunakan dalam sistem pendukung keputusan.

Selain itu, terdapat Eisenhower Matrix yang membantu menentukan prioritas berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensi suatu pekerjaan. Beragam pendekatan tersebut juga banyak dibahas dalam buku The Decision Book karya Mikael Krogerus dan Roman Tschappeler.

Dalam praktiknya, AI dapat memperkuat proses pengambilan keputusan melalui berbagai tingkatan analisis. Mulai dari analisis deskriptif yang menjelaskan apa yang telah terjadi, analisis diagnostik yang mengungkap penyebab suatu peristiwa, analisis prediktif yang memperkirakan kemungkinan di masa depan, hingga analisis preskriptif yang memberikan rekomendasi tindakan terbaik.

Manusia Tetap Memegang Kendali

Kholid menegaskan bahwa masa depan bukan tentang persaingan antara manusia dan AI, melainkan kolaborasi keduanya. AI memiliki keunggulan dalam mengolah data dalam jumlah besar dan menemukan pola yang sulit dideteksi manusia.

Namun, manusia tetap memiliki kemampuan yang tidak dimiliki mesin, seperti memahami konteks sosial, mempertimbangkan aspek etika, menunjukkan empati, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Ia mencontohkan perubahan tersebut juga terlihat pada sistem kuliah jarak jauh. Berkat dukungan teknologi digital dan AI, mahasiswa kini tidak lagi harus memilih antara kuliah atau bekerja. Keduanya dapat dijalankan secara bersamaan dengan lebih fleksibel.

Menurut Kholid, AI seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas pilihan dan mempercepat proses analisis, bukan menggantikan peran manusia dalam menentukan keputusan akhir. Oleh karena itu, setiap rekomendasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi dan dikaji secara kritis sebelum diterapkan.

"Dengan demikian, AI sebaiknya berada 'di tangan' manusia sebagai alat bantu, bukan 'di atas' manusia sebagai pengganti keputusan," pungkas Kholid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news