
Petugas PT Pertamina Gas Negara (PGN) melakukan pengecekan stasiun pengaturan tekanan gas jaringan gas (Metering Regulating Station) di sekitar Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa) di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). ANTARA/Umarul Faruq/abs
Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan anggaran jumbo sebesar Rp5,2 triliun untuk memperluas jaringan gas bumi (jargas) rumah tangga pada tahun anggaran 2027. Program ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan hampir satu juta sambungan rumah. Secara rinci, target yang dibidik mencapai 959.232 sambungan rumah (SR) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Program ini merupakan bagian dari skema multiyears contract (MYC) 2026–2028, termasuk pembiayaan konsultan pengawas untuk memastikan pelaksanaan berjalan optimal,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).
Dalam dokumen perencanaan, total pagu indikatif Kementerian ESDM untuk 2027 mencapai Rp27,33 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 82% atau Rp22,48 triliun difokuskan untuk belanja program strategis dan pembangunan infrastruktur fisik di sektor energi.
Selain pengembangan jargas rumah tangga, pemerintah juga mengalokasikan anggaran besar untuk proyek pipa gas bumi. Di antaranya pembangunan ruas Dumai–Sei Mangkei senilai Rp3,9 triliun (MYC 2025–2027), pipa transmisi Semarang–Solo–Jogja sebesar Rp702,3 miliar (MYC 2026–2028), serta ruas Cirebon–Bandung senilai Rp577 miliar (MYC 2026–2028).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah dalam membangun konektivitas jaringan gas nasional yang terintegrasi, khususnya di wilayah Sumatra hingga Jawa.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menilai pemanfaatan jargas di Indonesia masih jauh dari optimal. Saat ini jaringan gas baru menjangkau sekitar 86 kabupaten/kota. Padahal, dari sisi ekonomi, penggunaan jargas dinilai jauh lebih efisien.
“Penggunaan jargas bisa menghemat biaya energi rumah tangga hingga 40 persen dibandingkan LPG tabung,” ungkapnya.
Untuk itu, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur pipa gas strategis seperti Cirebon–Semarang (Cisem) dan Dumai–Sei Mangkei (Dusem) guna mendukung distribusi gas yang lebih merata.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga 2024 jumlah sambungan jargas rumah tangga telah mencapai 943 ribu. Rinciannya, sebanyak 703 ribu sambungan berasal dari pendanaan APBN, sementara 240 ribu lainnya berasal dari skema non-APBN.
Dengan tambahan target hampir satu juta sambungan pada 2027, pemerintah optimistis program jargas akan menjadi solusi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan beban subsidi LPG.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































