Jumali Selasa, 16 Juni 2026 20:07 WIB
Harianjogja.com, JOGJA— FIFA resmi menyatakan asisten wasit video (VAR) asal Australia, Shaun Evans, tidak terbukti melakukan pelanggaran disiplin terkait gestur tangan yang memicu kontroversi pada ajang Piala Dunia 2026.
Keputusan itu diambil setelah Komite Disiplin Independen FIFA menyelidiki rekaman siaran yang memperlihatkan Evans membentuk lingkaran menggunakan ibu jari dan telunjuk di depan tubuhnya sebelum pertandingan Grup E antara Jerman dan Curacao di Houston, Minggu (14/6/2026).
Cuplikan tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memunculkan tuduhan bahwa gestur tersebut menyerupai simbol yang dalam beberapa konteks pernah dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih.
Dalam keterangannya, Evans membantah keras tuduhan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah bermaksud menyampaikan pesan politik, ideologi, maupun afiliasi tertentu melalui gerakan yang terekam kamera.
“Saya tidak sengaja membuat simbol atau gerakan apa pun untuk menyampaikan pesan tertentu. Sejauh yang saya ketahui, itu hanyalah gerakan bawah sadar yang tidak disengaja,” ujar Evans dalam pernyataan resminya.
Evans juga menyebut dirinya kerap melakukan gerakan serupa ketika memegang pena atau sedang berkonsentrasi tanpa menyadarinya.
Setelah menelaah rekaman video, keterangan Evans, dan berbagai informasi pendukung lainnya, FIFA menyimpulkan tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyatakan adanya pelanggaran terhadap Kode Disiplin FIFA.
“Setelah melakukan pemeriksaan terhadap insiden yang melibatkan Shaun Evans, Komite Disiplin tidak menemukan bukti adanya pelanggaran Kode Disiplin FIFA,” demikian pernyataan resmi FIFA.
Meski demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya meredam kontroversi.
USA Today melaporkan, Fare Network, organisasi yang menjadi mitra FIFA dan UEFA dalam pemantauan kasus diskriminasi di sepak bola, tetap menilai gestur yang dilakukan Evans memiliki kemiripan dengan simbol yang pernah digunakan kelompok ekstrem kanan.
Organisasi tersebut bahkan menyatakan Evans seharusnya tidak lagi bertugas pada sisa turnamen karena dinilai berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap komitmen anti-diskriminasi yang selama ini dikampanyekan FIFA.
Kasus ini juga memicu perhatian terhadap siaran dari ruang VAR selama Piala Dunia 2026. BBC melaporkan, dalam beberapa pertandingan setelah insiden tersebut, kamera televisi tetap menampilkan ruang VAR, namun para petugas terlihat langsung fokus ke monitor dan tidak lagi menghadap kamera seperti sebelumnya.
Hingga kini FIFA belum memberikan penjelasan resmi apakah perubahan tersebut berkaitan dengan kontroversi yang melibatkan Evans.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana sebuah gestur yang berlangsung hanya beberapa detik dapat memicu perdebatan global di era media sosial. Di satu sisi, FIFA menilai tidak ada bukti pelanggaran. Di sisi lain, kelompok pemantau diskriminasi menilai konteks simbol tertentu tetap harus mendapat perhatian serius.
Perdebatan mengenai makna simbol, konteks penggunaannya, dan standar penilaian dalam kasus dugaan diskriminasi diperkirakan masih akan menjadi pembahasan panjang sepanjang berlangsungnya Piala Dunia 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
1

















































