Gelar Pelatihan Khusus, UNICEF-Dinkes Sulsel Perkuat Alarm Deteksi Dini Penyakit Menular di Jeneponto

3 hours ago 1
Gelar Pelatihan Khusus, UNICEF-Dinkes Sulsel Perkuat Alarm Deteksi Dini Penyakit Menular di Jeneponto(Foto : IST)

KabarMakassar.com — Guna memitigasi risiko munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB), Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan bersama UNICEF menggelar kegiatan peningkatan kapasitas petugas kesehatan di Kabupaten Jeneponto, Senin (27/4).

Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Tanggap Respon Petugas dalam Penanggulangan PD3I dan Penurunan Angka Zero Dose” ini difokuskan untuk membekali tenaga medis di garda terdepan, khususnya koordinator imunisasi dan petugas surveilans dari seluruh Puskesmas di Jeneponto.

Health Specialist UNICEF wilayah Sulawesi-Maluku, Badwi M. Amin, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen global dalam rangka memperingati Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) yang jatuh pada 24-30 April.

Badwi menekankan pentingnya kapasitas tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi sinyal awal Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) sebelum berkembang menjadi wabah.

“Nah kalau bisa dicegah, kenapa harus dibiarkan menjadi KLB? Karena apabila sudah terjadi KLB, secara otomatis akan banyak biaya yang dikeluarkan dan lain sebagainya. Kepanikan kasus ini bisa dijadikan alarm sebagai bentuk kehati-hatian bahwa akan ada kejadian. Supaya tidak terjadi, maka kita perlu alarm agar penyakit bisa dicegah dengan imunisasi,” tegas Badwi.

Ia merinci bahwa berbagai penyakit mulai dari campak, polio, difteri, pertusis, tetanus, hingga kanker serviks sebenarnya bisa ditangkal melalui imunisasi. “Kalau memang bisa dicegah, kenapa mesti menunggu mereka sakit?” imbuhnya.

Kabupaten Jeneponto dipilih menjadi salah satu wilayah lokus utama di Sulawesi Selatan atas rekomendasi Dinas Kesehatan Provinsi. Kasi Penyakit Menular Dinkes Sulsel, Siti Hidayah, mengungkapkan bahwa pemilihan Jeneponto didasari oleh besarnya sasaran imunisasi rutin serta tingginya laporan kasus PD3I di wilayah ini.

Namun, Siti Hidayah justru mengapresiasi tingginya angka pelaporan tersebut karena menandakan sistem pengawasan yang berjalan aktif.

“Kami merekomendasikan Kabupaten Jeneponto karena mempunyai sasaran imunisasi rutin yang cukup besar. Terkait dengan banyaknya kasus PD3I, seperti campak, yang dilaporkan, ini justru menandakan bahwa teman-teman di Kabupaten Jeneponto itu bekerja dengan baik dalam melakukan surveilans,” ujar Siti.

Selain deteksi dini, agenda besar lainnya adalah menurunkan angka Zero Dose Children, yakni anak-anak yang belum pernah tersentuh imunisasi dasar sama sekali. Keberadaan kelompok ini dinilai menunjukkan adanya kesenjangan akses layanan kesehatan yang harus dijembatani melalui strategi penjangkauan agresif.

Sebanyak 40 peserta dari Koordinator Imunisasi (Korim) dan Petugas Surveilans Puskesmas, serta 2 perwakilan Dinkes Jeneponto, dilibatkan dalam penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

“Output akhir dari kegiatan ini bukan sekadar peningkatan pengetahuan petugas, melainkan pemetaan masalah yang konkret sehingga angka imunisasi di Jeneponto meningkat dan jumlah anak Zero Dose dapat ditekan secara signifikan,” harap Siti Hidayah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Jeneponto, Mappibaung, S.Kep, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian Dinkes Provinsi dan UNICEF.

Pihaknya berharap agar kolaborasi semacam ini terus berlanjut demi menjaga kualitas layanan kesehatan di daerah.

“Dinas Kesehatan Jeneponto berharap agar kegiatan seperti ini terus berkelanjutan sehingga upgrade ilmu dan skill para petugas di lapangan semakin meningkat,” tutup Mappibaung.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news