Akses Kesehatan di Sulsel Belum Merata, RS Menumpuk di Empat Daerah Ini

6 hours ago 5
Akses Kesehatan di Sulsel Belum Merata, RS Menumpuk di Empat Daerah IniUPTD Puskesmas Bantilang, Kecamatan Towuti, Luwu Timur saat memberikan layanan kesehatan di Desa Masiku, Kecamatan Towuti, yang sulit dijangkau. (Dok: Ist)

KabarMakassar.com — Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan mengakui pemerataan layanan kesehatan di wilayahnya masih menjadi tantangan besar hingga 2026. Kondisi geografis yang beragam membuat akses kesehatan di sejumlah daerah kepulauan dan pegunungan belum sepenuhnya merata.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sulsel, Ardadi, mengatakan distribusi fasilitas kesehatan di Sulsel saat ini belum tersebar secara seimbang. Rumah sakit masih banyak terkonsentrasi di beberapa daerah perkotaan dan pusat pertumbuhan.

“Nah memang menjadi tantangan kita saat ini adalah rumah sakit kita memang terkonsentrasi ada di Kabupaten Gowa, kemudian di Kota Makassar, Kota Palopo dan Kota Parepare,” ungkap Ardadi, Senin (25/05).

Menurut Ardadi, kondisi itu membuat sejumlah wilayah di luar pusat kota masih bergantung pada layanan kesehatan di daerah sekitarnya. Pemerintah berharap wilayah yang menjadi episentrum layanan kesehatan dapat menopang kebutuhan daerah di sekelilingnya.

“Nah sehingga kita berharap sebenarnya episentrum-episentrum itu bisa membantu wilayah-wilayah di sekitarnya untuk memastikan ada pelayanan kesehatan tetap bisa kita berikan, tentu dengan standar mutu yang disyaratkan oleh aturan perundang-undangan,” jelasnya.

Ardadi menyebut daerah kepulauan masih menjadi salah satu kawasan dengan tantangan akses kesehatan paling berat di Sulsel. Hal itu dipengaruhi jarak tempuh yang panjang dan keterbatasan akses transportasi menuju fasilitas kesehatan.

“Kami mencatat memang ada beberapa kabupaten-kabupaten yang cukup maju dari sisi jumlah fasilitas pelayanan kesehatannya. Namun ada juga daerah-daerah yang sulit juga, seperti misalkan dua wilayah kepulauan kita, Kabupaten Kepulauan Pangkep dan Kabupaten Selayar,” tuturnya.

Selain wilayah kepulauan, beberapa daerah pegunungan dan kawasan yang jauh dari ibu kota provinsi juga masih menjadi perhatian pemerintah. Infrastruktur dan jarak tempuh masih menjadi kendala warga untuk menjangkau fasilitas kesehatan.

“Kemudian beberapa daerah misalkan seperti Luwu Timur yang cukup jauh dari kabupaten atau ibukota provinsi. Kemudian Toraja, Toraja Utara juga perlu terus kita dorong untuk memastikan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatannya dan hal-hal yang melingkupinya seperti sumber daya tenaga kesehatannya seperti apa,” sebut Ardadi.

Ia menambahkan, tantangan geografis di Sulsel juga terlihat di wilayah kepulauan tertentu yang membutuhkan waktu tempuh sangat panjang. Kondisi itu dinilai berpengaruh terhadap kecepatan masyarakat memperoleh layanan medis.

“Kita mencatat mungkin Pangkep, Pangkep itu wilayah kerjanya yang sangat jauh sampai harus naik kapal 24 jam, kemudian Kepulauan Selayar juga seperti itu,” katanya.

Saat ini Dinas Kesehatan Sulsel mencatat ada sekitar 475 puskesmas, lebih dari 500 klinik, dan 126 rumah sakit di seluruh kabupaten/kota. Meski jumlahnya cukup besar, distribusi layanan dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang terus didorong pemerintah provinsi.

Untuk memperkecil ketimpangan itu, Pemprov Sulsel melanjutkan sejumlah program termasuk pelayanan kesehatan bergerak dan penguatan layanan rumah sakit di daerah. Pemerintah berharap masyarakat di wilayah terpencil tetap mendapat akses layanan dengan standar yang sama seperti di kawasan perkotaan.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news