Newswire Minggu, 30 Agustus 2026 05:37 WIB

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific
Harianjogja.com, JAKARTA—Titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali meningkat. Data pemantauan pada Jumat (28/8/2026) mencatat sebanyak 18.065 titik panas, bertambah dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 14.788 titik.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang bersumber dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan peningkatan paling signifikan terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Kalimantan Tengah mencatat kenaikan hotspot dari 5.041 titik pada 27 Agustus menjadi 7.703 titik pada 28 Agustus 2026. Di Kalimantan Barat, jumlah titik panas naik dari 2.165 menjadi 3.384 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan mengalami peningkatan dari 899 menjadi 1.354 titik pada periode yang sama.
Kondisi tersebut membuat Kemenhut mempertahankan status siaga penuh dan memperkuat pengendalian karhutla di enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas.
Enam provinsi tersebut yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau.
Penetapan wilayah prioritas mempertimbangkan perkembangan hotspot, potensi penjalaran api, kondisi bahan bakar, risiko kebakaran di lahan gambut, serta dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan.
Hotspot di Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi Menurun
Meski secara nasional mengalami kenaikan, tidak semua provinsi yang menjadi wilayah prioritas mengalami peningkatan hotspot.
Di Sumatra Selatan, jumlah titik panas justru turun dari 1.281 menjadi 1.036 titik pada 27-28 Agustus 2026.
Penurunan juga terlihat di Riau. Setelah mencapai 491 titik pada 23 Agustus dan 447 titik pada 24 Agustus, jumlah hotspot di provinsi tersebut tercatat 265 titik pada 28 Agustus.
Kondisi serupa terjadi di Jambi. Jumlah hotspot yang sebelumnya mencapai 437 titik pada 23 Agustus dan 361 titik pada 24 Agustus turun menjadi 86 titik pada 28 Agustus.
Kemenhut mengingatkan penurunan titik panas di sejumlah wilayah tidak serta-merta menandakan risiko karhutla telah berakhir. Kondisi kebakaran dapat berubah dengan cepat sehingga pengawasan dan operasi pengendalian tetap dilakukan.
Pengendalian Libatkan Banyak Pihak
Pengendalian karhutla di wilayah prioritas melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan masyarakat.
Operasi diarahkan terutama ke lokasi yang berpotensi membuat api meluas, mendekati permukiman, mengganggu fasilitas publik, maupun menimbulkan dampak asap.
Penanganan di kawasan gambut juga dilakukan secara berulang. Pemadaman dan pendinginan diperlukan untuk memastikan bara yang berada di bawah permukaan tidak kembali menyala.
Selain penanganan melalui jalur darat, pemerintah menyiapkan dukungan udara untuk kegiatan water bombing dan patroli udara.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memiliki kondisi meteorologis sesuai.
Di lapangan, langkah pengendalian mencakup patroli, pengecekan atau groundcheck, pemadaman, penyekatan, mopping up, hingga pendinginan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api kembali muncul setelah proses pemadaman, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran.
Kenaikan hotspot secara nasional menjadi perhatian karena fenomena El Nino yang berlangsung sejak Juli 2026 turut meningkatkan risiko kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan dan pengendalian karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
10

















































