Harianjogja.com, JAKARTA—Ancaman infeksi virus human papillomavirus (HPV) pada laki-laki mulai mendapat sorotan serius. Banyak kasus terjadi tanpa gejala sehingga kerap tidak disadari, padahal berisiko berkembang menjadi kanker jika infeksi berlangsung lama di dalam tubuh.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Hanny Nilasari, mengatakan HPV tidak hanya menyerang perempuan, tetapi juga laki-laki dengan pola infeksi yang sering kali tersembunyi.
“HPV tidak hanya menyerang perempuan tetapi juga laki-laki. Banyak laki-laki terinfeksi HPV yang tanpa gejala, tidak disadari,” kata Hanny dalam acara kesehatan bersama MSD Indonesia di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, HPV merupakan infeksi yang menyerang kulit dan organ genital, serta dapat berkembang menjadi kanker. Prosesnya biasanya diawali infeksi lokal yang memicu perubahan sel menjadi lesi prakanker, lalu berpotensi menjadi ganas.
Menurutnya, infeksi HPV pada dasarnya bisa bersifat sementara, tetapi dalam beberapa kasus dapat menetap di dalam tubuh. Kondisi ini berisiko memicu penyakit yang lebih serius.
“Dan HPV infection usually transient, jadi harusnya dia transien (sementara), tetapi bisa menjadi persisten (bertahan di dalam tubuh). Dan kita tidak pernah tahu apakah virus itu bisa persisten di dalam diri kita atau tidak,” imbuhnya.
Data yang disampaikan menunjukkan 1 dari 3 pria berusia di atas 15 tahun dapat terinfeksi HPV. Pada laki-laki, infeksi ini berpotensi menyebabkan kanker penis, skrotum, anus, mulut, hingga tenggorokan. Sementara pada perempuan, HPV dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks dan vulva.
“Risiko kanker tenggorok 4 kali lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan,” kata dia.
Gejala HPV pada laki-laki umumnya ditandai dengan munculnya daging tumbuh menyerupai kembang kol di area genital. Kondisi ini sering tidak menimbulkan nyeri, berukuran kecil, dan bisa muncul satu atau lebih sehingga kerap luput dari perhatian.
Hanny menambahkan, laki-laki yang belum disirkumsisi cenderung lebih sulit mendeteksi gejala karena lesi dapat tersembunyi di dalam lipatan kulit. Hal ini membuat virus berpotensi bertahan lebih lama.
Penularan HPV juga disebut lebih sering terjadi dari perempuan ke laki-laki. Meski banyak pria merasa tidak berisiko karena infeksi kerap bersifat sementara, kondisi bisa memburuk jika terpapar tipe virus berisiko tinggi.
“Karena ternyata perempuan lebih sering menginfeksi laki-laki, lihat angkanya 12,3 persen. Laki-laki merasa tidak apa-apa karena infeksinya biasanya transien. Tetapi kalau HPV yang datang ke kulit itu tipe yang risiko tinggi, infeksinya bisa persisten, makin lama akan semakin berat,” ujarnya.
Minimnya informasi menjadi salah satu penyebab masih tingginya kasus HPV pada laki-laki. Banyak yang mengira virus ini hanya menyerang perempuan, ditambah kekhawatiran berlebihan terhadap efek samping vaksin.
Karena itu, edukasi dan pencegahan dinilai menjadi kunci. Pendekatan kesehatan kini diarahkan pada upaya preventif melalui vaksinasi HPV yang mampu memberikan perlindungan jangka panjang.
“Tidak ada metode screening untuk laki-laki, kalau pada perempuan kan harus pap smear dulu. Jadi ini suatu nilai tambah untuk laki-laki yang akan mendapatkan vaksinasi HPV. Cakupan vaksin yang tinggi ini akan mengurangi infeksi HPV dan lesi prakanker tadi,” ujar Hanny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

5 hours ago
4

















































