
Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan udara milik Amerika Serikat (AS) di Kuwait. Aksi ini disebut sebagai respons atas serangan udara yang sebelumnya dilakukan Washington di sekitar kawasan Bandara Bandar Abbas, Iran selatan, di tengah meningkatnya ketegangan Iran AS dan dinamika keamanan di Timur Tengah.
Mengutip laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, IRGC menyebut operasi balasan tersebut terjadi pada pukul 04.50 waktu setempat (08.20 WIB), hanya beberapa jam setelah insiden yang mereka sebut sebagai serangan AS di dekat bandara kota pelabuhan Bandar Abbas menggunakan proyektil udara.
IRGC menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk peringatan keras kepada pihak lawan.
"Tanggapan ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja, dan jika diulangi, respons kami akan lebih tegas," kata IRGC, Kamis (27/5), sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang disampaikan pihak militer Amerika Serikat terkait klaim serangan tersebut.
Sebelumnya, seorang pejabat AS yang berbicara kepada Anadolu menyebut bahwa pasukan Amerika berhasil menembak jatuh empat drone Iran yang dianggap mengancam di sekitar Selat Hormuz. Dalam peristiwa yang sama, AS juga disebut menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang tengah bersiap meluncurkan drone kelima.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa langkah militer yang dilakukan bersifat defensif.
"Tindakan-tindakan ini terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata," ujarnya tanpa menyebutkan identitasnya.
Ketegangan terbaru ini juga tidak terlepas dari rangkaian operasi militer sebelumnya. Komando Pusat AS (CENTCOM) pada awal pekan telah mengonfirmasi adanya serangan di Iran selatan yang menyasar lokasi peluncuran rudal serta kapal-kapal Iran yang diduga tengah berupaya memasang ranjau.
Pemerintah Iran sendiri mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai "pelanggaran berat terhadap gencatan senjata.” Situasi ini memperkuat sorotan global terhadap konflik Iran AS yang kembali menghangat di kawasan strategis Timur Tengah.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan ketidakpuasan terhadap perkembangan negosiasi damai yang bertujuan mengakhiri ketegangan antara Washington dan Teheran. Ia menilai proses perundingan belum menunjukkan hasil yang memadai.
Escalation di kawasan tersebut bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran. Serangan itu kemudian dibalas Teheran melalui rentetan drone dan rudal yang menghantam sejumlah target di kawasan, sekaligus memicu penutupan Selat Hormuz.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April lewat mediasi Pakistan. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad dilaporkan tidak menghasilkan kesepakatan permanen.
Dalam perkembangan berikutnya, Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, meski tetap memberlakukan pembatasan terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz, yang kembali menjadi titik krusial dalam peta geopolitik kawasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































