Ilustrasi (Dok: Ist).
KabarMakassar.com — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta Rofiul Wahyudi mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak pada cara pandang yang mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan kekayaan, jabatan, nasab, maupun relasi kekuasaan.
Menurutnya, orientasi semacam itu dapat mendorong seseorang mengorbankan integritas dan harga diri demi mengejar keuntungan duniawi.
Pesan tersebut disampaikan Rofiul menyoroti realitas sosial ketika sebagian orang rela mengambil berbagai jalan pintas untuk memperoleh materi dan posisi penting di tengah masyarakat.
“Sebagian orang hari ini rela mengorbankan integritas dan harga diri. Ada yang memilih bermuka dua, menjilat demi kelancaran urusan dengan mengatasnamakan nasab, kedudukan keluarga, atau relasi kekuasaan,” ujarnya, Minggu (09/08).
Menurut Rofiul, praktik tersebut bahkan dapat berkembang menjadi upaya mengatur siapa yang berhak menduduki suatu posisi kekuasaan. Sementara itu, orang-orang yang tidak memiliki relasi atau “orang dalam” berpotensi tersisih meskipun memiliki kemampuan dan integritas.
Ia menilai fenomena semacam ini berbahaya karena secara perlahan dapat mengikis kepercayaan diri seseorang sekaligus merusak pemahaman tentang rezeki. Manusia akhirnya dapat mengira bahwa keberhasilan hidup sepenuhnya ditentukan oleh koneksi, nasab, jabatan, atau kedekatan dengan orang yang memiliki kekuasaan.
Rofiul kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan Surah Az-Zukhruf ayat 31. Dalam ayat itu, kaum musyrikin mempertanyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada seorang laki-laki agung yang memiliki kekayaan dan kekuasaan dari salah satu di antara dua negeri, yakni Makkah dan Thaif.
Menurut Rofiul, ayat tersebut menggambarkan cara pandang masyarakat yang menjadikan kekayaan, kekuasaan, dan privilese sosial sebagai ukuran kelayakan seseorang. Mereka menganggap orang yang memiliki status sosial tinggi lebih layak memperoleh kedudukan yang mulia.
Rofiul menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kuasa mutlak untuk menentukan rezeki orang lain. Allah-lah yang menentukan dan membagikan penghidupan setiap hamba. Karena itu, perbedaan tingkat kekayaan, jabatan, maupun kedudukan dalam kehidupan semestinya dipahami sebagai bagian dari ketetapan Allah yang menghadirkan hubungan saling membutuhkan di antara manusia.
“Perbedaan derajat, jabatan, dan kekayaan yang diciptakan oleh manusia agar manusia saling membutuhkan dan bekerja sama secara harmonis. Bukan untuk ajang tebang pilih, diskriminasi, atau kesombongan,” katanya.
Dalam konteks kehidupan kampus, Rofiul mengajak jamaah melihat setiap pekerjaan dan profesi sebagai bagian dari mata rantai kebaikan. Mahasiswa, misalnya, memiliki peran dengan bersungguh-sungguh menuntut ilmu, menjaga adab dan kejujuran, serta mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang berintegritas.
Begitu pula petugas keamanan memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban dan menghadirkan rasa aman. Pengelola parkir membantu menata kendaraan, menjaga amanah, serta memperlancar mobilitas masyarakat. Petugas kebersihan menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan sehingga aktivitas banyak orang dapat berlangsung dengan baik.
Dosen pun memiliki ruang pengabdian melalui ilmu yang diberikan di kelas, penelitian, seminar ilmiah, pembimbingan mahasiswa, dan pengabdian kepada masyarakat. Sementara mereka yang mendapatkan amanah sebagai pengurus atau pejabat dituntut menggunakan kewenangan secara adil dan menjadikannya sarana untuk melayani.
Karena itu, menurut Rofiul, tidak ada pekerjaan yang layak dipandang rendah selama dijalankan dengan amanah dan memberikan manfaat. Sebaliknya, jabatan tinggi tidak boleh menjadi pembenaran untuk melakukan nepotisme, diskriminasi, maupun tebang pilih.
“Jabatan tinggi bukan alasan untuk berbuat nepotisme. Jabatan tinggi bukan alasan untuk bertebang pilih dan peran sederhana bukan alasan untuk merasa hina. Kita semua adalah satu rantai kebaikan yang saling melengkapi,” tegasnya.
Rofiul menekankan bahwa ukuran nilai seseorang di hadapan Allah bukanlah posisi sosial yang dimiliki, melainkan manfaat dan ketakwaan yang dihadirkan dalam kehidupan. Dengan demikian, seseorang yang memiliki jabatan tinggi tidak otomatis lebih mulia daripada orang yang menjalankan pekerjaan sederhana.


















































