
Jelang Hari Raya Waisak, Arca Unfinished Buddha di Candi Borobudur Dipindahkan ke Lokasi Asal di Lapangan Kenari, Selasa (27/5/2026). Ist/idm
Harianjogja.com, MAGELANG — Menjelang perayaan Waisak 2570 BE, kawasan Candi Borobudur kembali menjadi sorotan. Kali ini, bukan sekadar persiapan ritual keagamaan, melainkan langkah strategis dalam penataan kawasan spiritual melalui pemindahan Arca Unfinished Buddha ke titik baru yang dinilai lebih representatif.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan budaya dunia dan kebutuhan ruang ibadah yang lebih tertata. Pemindahan arca tersebut melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Agama Republik Indonesia, hingga InJourney bersama komunitas lokal dan para Bhikkhu.
Arca yang selama ini dikenal sebagai “Unfinished Buddha” kini ditempatkan di kawasan Lapangan Kenari, tepatnya di sisi barat daya Borobudur. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan, karena memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang kuat bagi masyarakat sekitar.
Kepala Museum & Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menegaskan bahwa proses ini tidak sekadar relokasi fisik, tetapi juga bagian dari visi besar pelestarian.
“Seluruh proses dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pelestarian cagar budaya, menghormati Masyarakat dan adat setempat, guna memastikan tata Kelola Kawasan yang berkelanjutan agar Borobudur tetap terjaga sebagai pusat spiritual dan budaya dunia,” terang Esti Nurjadin melalui keterangan persnya, Kamis (28/5/2026)
Dari sisi pengelolaan destinasi, langkah ini dinilai penting untuk menciptakan pengalaman spiritual yang lebih khusyuk bagi umat Buddha. Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyebut Borobudur tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga pusat spiritual global.
“Pengembangan Borobudur sebagai destinasi spiritual dan budaya berkelas dunia harus berjalan selaras antara pelestarian warisan budaya, penguatan nilai spiritual, dan pengembangan ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," tutur Maya Watono.
"Melalui kolaborasi bersama pemerintah, tokoh agama, dan komunitas lokal kami ingin memastikan Borobudur tetap lestari sekaligus relevan sebagai spiritual and pilgrimage destination kelas dunia yangg memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat luas,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, yang menilai penempatan arca di Lapangan Kenari akan mendukung pengaturan alur kegiatan ibadah.
“Penempatan arca di area penyangga ritual diharapkan dapat mendukung terciptanya sirkulasi kegiatan spiritual yang lebih tertata, menghadirkan ruang ibadah yang lebih representatif bagi umat, sekaligus menjaga kualitas pengalaman pengunjung,” jelas Febrina Intan.
Prosesi pemindahan arca turut diiringi doa bersama dan ritual adat, sebagai simbol harmoni antara budaya, spiritualitas, dan masyarakat lokal. Momentum ini sekaligus menegaskan arah baru pengelolaan Borobudur sebagai destinasi spiritual kelas dunia yang tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.
Dengan penataan ini, kawasan Borobudur diharapkan tidak hanya menjadi magnet wisata, tetapi juga ruang refleksi spiritual yang lebih tertib, sakral, dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































