Jika Appi Gabung Demokrat, Pengamat: Bisa Jadi Game Changer

4 hours ago 3
 Bisa jadi Game ChangerPengamat politik Muhammad Asratillah (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar Makassar sekalipun Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi dinilai berpotensi menjadi penguat elektoral bagi Partai Demokrat jika benar bergabung dengan partai tersebut.

Diketahui, Appi dikabarkan akan meninggalkan Golkar usai tak hadir dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel yang dihadiri langsung oleh Ketua Umum (Ketum) Bahlil Lahadalia pada beberapa waktu lalu di hotel Claro.

Kehadiran Appi disebut dapat membuka peluang Demokrat meningkatkan perolehan kursi di DPRD Makassar.

Teranyar Wakil Ketua DPC Demokrat Makassar, Tri Sulkarnain Ahmad menyebut Appi akan bergabung dengan DPD Demokrat Sulsel bukan di DPC, Tri bahkan menyebut Appi akan menjadi amunisi baru Demokrat.

Melihat hal itu, Pengamat politik Asratillah menilai peluang tersebut cukup rasional jika dilihat dari pengalaman politik dan jaringan sosial yang dimiliki Appi. Menurutnya, posisi Appi sebagai kepala daerah sekaligus pengalamannya dalam sejumlah kontestasi politik menjadi modal elektoral yang tidak bisa diabaikan.

“Appi bukan hanya memiliki posisi sebagai Wali Kota Makassar, tetapi juga memiliki pengalaman panjang dalam kontestasi politik dan jaringan sosial yang sudah terbentuk,” kata Asratillah melalui pesan WhatsApp, Senin (24/08).

Ia menyebut kekuatan tersebut dapat menjadi electoral capital bagi Demokrat, khususnya di Kota Makassar. Namun, potensi itu tidak serta-merta menjamin bertambahnya kursi legislatif.

Menurut Asratillah, Demokrat harus mampu mengubah kekuatan personal Appi menjadi kekuatan organisasi. Konsolidasi struktur partai hingga tingkat kecamatan dan kelurahan dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan popularitas Appi dapat berdampak terhadap perolehan suara partai.

“Modal personal seorang figur tetap harus dikonversi menjadi kekuatan partai melalui kerja organisasi yang terukur,” ujarnya.

Asratillah menjelaskan, suara yang diperoleh seorang kepala daerah tidak otomatis berpindah menjadi suara bagi calon legislatif dari partai yang menaunginya. Ada proses electoral transfer yang membutuhkan konsolidasi, komunikasi politik, serta integrasi jaringan.

“Appi memiliki daya tarik elektoral, tetapi suara untuk seorang kepala daerah belum tentu seluruhnya berpindah menjadi suara untuk caleg Demokrat,” katanya.

Menurut dia, peluang efek elektoral di Makassar relatif lebih cepat terlihat karena Appi memiliki basis politik dan jaringan yang telah terbentuk. Pengalaman menghadapi kontestasi langsung serta pemahaman terhadap karakter pemilih perkotaan menjadi modal tambahan.

Jika kekuatan tersebut berhasil dipadukan dengan mesin Demokrat, partai berpotensi memperoleh keuntungan kompetitif dalam kontestasi legislatif berikutnya.

“Jika modal tersebut dipadukan dengan struktur Demokrat sampai tingkat kecamatan dan kelurahan, Demokrat bisa memperoleh keuntungan kompetitif,” ujar Asratillah.

Meski demikian, ia mengingatkan Demokrat agar masuknya figur besar tidak menimbulkan persoalan internal. Integrasi dengan kader lama menjadi pekerjaan penting agar kekuatan Appi tidak berjalan sendiri di luar struktur partai.

Sementara untuk tingkat DPRD Sulsel, Asratillah menilai efek Appi akan lebih kompleks. Popularitas Appi di Makassar tidak cukup untuk secara langsung mendongkrak suara Demokrat di daerah lain.

Demokrat, kata dia, perlu menjadikan Appi sebagai bagian dari strategi memperluas jaringan dan konsolidasi politik di Sulsel.

“Jika Appi diberikan ruang untuk membantu memperluas jaringan partai, membangun komunikasi dengan kelompok masyarakat, dan ikut mendorong regenerasi kader, maka pengaruhnya bisa melampaui basis politik personalnya di Makassar,” tuturnya.

Asratillah pun melihat Appi berpotensi menjadi potential game changer bagi Demokrat. Namun, ia menegaskan Appi bukan satu-satunya faktor yang menentukan peningkatan suara maupun kursi partai.

“Saya cenderung melihat Appi sebagai potential game changer, tetapi bukan pemain yang sendirian menentukan hasil pertandingan,” katanya.

Ia menilai keberhasilan Demokrat memanfaatkan potensi Appi akan sangat ditentukan oleh kemampuan partai mengintegrasikan kekuatan personal dengan kerja kolektif organisasi.

Jika integrasi tersebut berjalan efektif, peluang Demokrat menambah kursi di DPRD Makassar maupun Sulsel dinilai semakin terbuka. Sebaliknya, tanpa konsolidasi organisasi, popularitas figur belum tentu berujung pada peningkatan kursi legislatif.

“Keberhasilan akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan Demokrat mengubah popularitas Appi menjadi kerja kolektif partai. Di situlah kualitas organisasi akan diuji,” tukasnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news