Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Gunungkidul mencapai 216 kasus sepanjang Januari hingga September 2026. Dari jumlah tersebut, Kapanewon Ponjong menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak, yakni mencapai 64 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan secara umum jumlah kasus DBD menunjukkan tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan tersebut terlihat terutama sejak memasuki Juli hingga September 2026.
“Dari Juli hingga September kasus juga menurun drastis karena angkanya di bawah sepuluh kasus,” kata Ismono, Rabu (23/9/2026).
Menurut Ismono, DBD merupakan penyakit yang penyebarannya berkaitan dengan kondisi lingkungan dan musim. Kasus cenderung lebih banyak ditemukan ketika musim hujan, sedangkan jumlah kasus pada periode kemarau mengalami penurunan.
Januari Jadi Puncak Kasus DBD
Dari total 216 kasus yang tercatat hingga September, Januari menjadi periode dengan jumlah kasus paling tinggi. Pada bulan tersebut, jumlah warga yang terjangkit DBD mencapai lebih dari 60 kasus.
Pada bulan-bulan berikutnya, jumlah kasus berada di kisaran 30 kasus per bulan. Sementara memasuki Juli, Agustus, dan September, jumlah kasus tercatat kurang dari 10 kasus per bulan.
Meski terdapat ratusan kasus sepanjang tahun berjalan, Ismono memastikan hingga September 2026 belum ada warga Gunungkidul yang meninggal akibat DBD.
Secara keseluruhan, kasus DBD tahun ini juga masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2025, Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat sebanyak 1.167 warga terjangkit DBD.
“Ada tren penurunan kasus dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Ismono.
Data hingga September 2026 tersebut belum dapat dibandingkan secara langsung dengan total tahunan 2025 karena tahun berjalan masih menyisakan tiga bulan. Namun, jumlah kasus yang tercatat hingga September menunjukkan perbedaan cukup besar dibandingkan akumulasi sepanjang tahun sebelumnya.
Ponjong Catat 64 Kasus
Ismono mengatakan kasus DBD hingga September telah ditemukan di 18 kapanewon di Gunungkidul. Dari sebaran tersebut, Ponjong menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling banyak.
Total terdapat 64 kasus di Kapanewon Ponjong. Sebanyak 58 kasus tercatat di wilayah pelayanan Puskesmas Ponjong 1, sedangkan enam kasus lainnya berada di wilayah Puskesmas Ponjong 2.
“Untuk kasus terbanyak berikutnya tercatat di Puskesmas Paliyan dan Wonosari 2, masing-masing ada temuan 22 kasus. Sedangkan sisanya tersebar di 26 puskesmas lain di Gunungkidul,” katanya.
Dengan demikian, kasus DBD di Ponjong menyumbang hampir sepertiga dari total 216 kasus yang tercatat di Gunungkidul hingga September 2026.
Dinas Kesehatan Gunungkidul tetap mendorong masyarakat untuk melakukan pencegahan meskipun tren kasus sedang menurun. Pengendalian lingkungan menjadi salah satu bagian penting untuk menekan perkembangbiakan nyamuk penular DBD.
Dinkes Dorong PSN dan Pemantauan Jentik
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Wanda Abrar, mengatakan edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai kegiatan kesehatan.
Salah satunya melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat kalurahan. Masyarakat juga didorong menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), berolahraga secara rutin, serta mengonsumsi makanan bergizi.
“Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat [PHBS] serta rutin berolahraga dan makan-makanan bergizi sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan sehingga tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Selain menjaga pola hidup sehat, masyarakat diminta aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Upaya ini dilakukan dengan memantau tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk dan memberantas jentik secara rutin.
Dinkes Gunungkidul menargetkan angka bebas jentik (ABJ) setidaknya 95%. Kementerian Kesehatan juga menggunakan ABJ 95% atau lebih sebagai salah satu indikator yang diharapkan dapat membantu mencegah atau mengurangi penularan DBD.
Warga Diminta Terapkan 3M
Wanda menjelaskan pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah. Masyarakat dapat menutup tempat penampungan air, menguras wadah air secara berkala, serta mengubur atau menyingkirkan barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Cara penanggulangan juga dapat dilakukan dengan menutup tempat-tempat wadah air, menguras hingga mengubur benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Aksi nyata ini perlu dilakukan sebagai upaya menekan laju penyebaran sehingga kasusnya bisa lebih terkendali,” katanya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pemberantasan sarang nyamuk atau PSN 3M Plus. Selain menghilangkan tempat perkembangbiakan, pemantauan jentik secara rutin diperlukan untuk mengetahui kondisi lingkungan.
Kementerian Kesehatan menyebut keberhasilan kegiatan PSN 3M Plus dapat diukur antara lain melalui ABJ. Ketika ABJ mencapai minimal 95%, penularan DBD diharapkan dapat dicegah atau dikurangi.
Ovitrap Bisa Menjadi Alternatif Pemantauan
Selain pemberantasan sarang nyamuk, Wanda menyebut masyarakat dapat menggunakan ovitrap secara mandiri. Ovitrap merupakan wadah yang digunakan untuk menarik nyamuk agar bertelur di tempat yang telah disiapkan sehingga keberadaan telur dapat dipantau.
Caranya dengan menempatkan wadah berwarna gelap yang berisi air dan dilengkapi substrat penarik, seperti kasa atau kertas saring.
“Istilahnya untuk menjebak agar nyamuk bertelur di wadah yang disiapkan, makanya butuh penarik dari kasa atau kertas saring. Cara ini efektif menekan populasi nyamuk pencegah terjadinya DBD,” katanya.
Penggunaan ovitrap tersebut menjadi salah satu metode yang disebut Dinkes Gunungkidul untuk membantu pemantauan dan pengendalian nyamuk. Sementara upaya utama di tingkat rumah tangga tetap perlu dilakukan dengan menghilangkan tempat-tempat yang memungkinkan nyamuk berkembang biak.
Dengan tren kasus yang menurun hingga September, Dinkes Gunungkidul tetap meminta masyarakat tidak mengendurkan upaya pencegahan. Sebab, keberadaan tempat penampungan air dan lingkungan yang memungkinkan jentik berkembang tetap dapat menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

1 hour ago
3

















































