KLIKPOSITIF- Kasus dugaan ledakan bom rakitan di lingkungan MAN 3 Padang yang menyeret seorang siswa sebagai terduga pelaku kembali menjadi sorotan. Peristiwa tersebut membuka mata publik terhadap bahaya perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Informasi yang berkembang menyebutkan, dugaan tindakan tersebut dipicu oleh tekanan psikologis akibat perundungan yang dialami pelaku. Namun, dugaan motif itu masih dalam proses penyelidikan kepolisian dan belum ditetapkan sebagai penyebab pasti.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bullying bukan lagi sekadar kenakalan remaja.
Berbagai penelitian menunjukkan perundungan yang terjadi secara terus-menerus dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental anak, mulai dari kecemasan, depresi, penurunan prestasi belajar, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga dalam kondisi tertentu memicu tindakan berisiko.
Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP, menegaskan pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman kepada pelaku. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun budaya sekolah yang aman, saling menghargai, dan penuh empati.
“Bullying tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghukum pelaku. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya empati di sekolah sehingga setiap anak mampu menghargai perbedaan, saling menghormati, dan memahami dampak dari perilaku yang menyakiti teman sebayanya,” ungkapnya.
Ia mengatakan sekolah harus memiliki sistem pencegahan dan penanganan yang jelas, mulai dari kebijakan anti-perundungan, mekanisme pelaporan yang aman bagi korban maupun saksi, hingga layanan konseling dan pendampingan psikologis yang mudah diakses seluruh peserta didik.
“Korban sering kali memilih diam karena takut mendapat intimidasi atau tidak dipercaya. Karena itu, sekolah harus menyediakan ruang yang aman agar siswa berani melapor tanpa rasa takut. Setiap laporan juga harus ditindaklanjuti secara profesional dan tidak dianggap sebagai persoalan sepele,” terangnya.
Ia menekankan pentingnya kehadiran guru di titik-titik yang rawan menjadi lokasi terjadinya bullying, seperti lorong sekolah, kantin, toilet, lapangan, hingga area di luar kelas. Menurutnya, guru tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai sosok yang mampu membangun kedekatan emosional dengan peserta didik.
“Guru perlu menjadi figur yang mudah didekati oleh peserta didik. Ketika hubungan guru dan siswa terbangun dengan baik, anak akan lebih nyaman bercerita jika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan,” ungkapnya.
Selain korban, kata Neny, pelaku bullying juga membutuhkan perhatian. Tidak sedikit pelaku yang memiliki persoalan emosional, pengalaman kekerasan, atau pola asuh yang kurang tepat sehingga memerlukan pembinaan melalui pendekatan psikologis.
“Pendampingan psikologis perlu diberikan tidak hanya kepada korban, tetapi juga kepada pelaku. Korban membutuhkan pemulihan agar tidak mengalami trauma berkepanjangan, sedangkan pelaku perlu dibantu memahami perilakunya dan mengubah pola interaksi yang negatif menjadi positif,” jelasnya.
Menurut Neny, kasus dugaan ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang menjadi pengingat pentingnya deteksi dini terhadap persoalan psikologis peserta didik serta perlunya membangun sistem pencegahan bullying yang efektif di sekolah.
Di akhir keterangannya, ia mengajak seluruh elemen pendidikan tidak menunggu munculnya korban atau tragedi berikutnya sebelum melakukan pembenahan.
“Ketika sekolah, orang tua, dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk menolak segala bentuk perundungan, maka lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh peserta didik akan lebih mudah diwujudkan. Pencegahan harus dimulai hari ini, bukan setelah muncul peristiwa yang kita sesali bersama,” tutupnya.

6 days ago
14


















































