Khalifah Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ABA. (Dok: Ist)KabarMakassar.com — Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah terus memicu kekhawatiran global. Mengatasi situasi yang semakin panas, Pemimpin Internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, menyampaikan seruan mendesak bagi negara-negara Muslim untuk bersatu demi menghindari kehancuran yang lebih luas.
Pesan perdamaian tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Mubarak, Tilford, Surrey, Inggris, pada 6 Maret 2026.
Dalam arahannya, ia menekankan bahwa kunci menghadapi krisis global saat ini terletak pada kekuatan persaudaraan umat Islam.
Dalam khutbahnya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengingatkan kembali esensi ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan melalui ibadah, tetapi juga membangun fondasi kemanusiaan yang kokoh.
“Pesan yang dibawa oleh Hazrat Rasulullah SAW memiliki tujuan untuk diberikan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kemudian hidup sebagai satu umat yang bersatu, yang saling bersaudara,” tuturnya.
Namun, beliau menyayangkan kenyataan saat ini di mana dunia Muslim tampak terpecah belah. Meski memiliki landasan kepercayaan yang sama, ego dan perbedaan kepentingan justru menciptakan jarak di antara negara-negara Muslim.
Khalifah menilai bahwa janji negara-negara Muslim untuk bersatu mewujudkan sasaran mereka serangan kekuatan global. Beliau mengarai pentingnya kepentingan besar di balik konflik saat ini yang bertujuan untuk menguasai sumber daya alam di wilayah Muslim.
“Kekuatan-kekuatan ini ingin menguasai sumber daya negara-negara tersebut dan membawa ke bawah kendali mereka,” tegasnya.
Pihaknya menegaskan bahwa tanpa persatuan, negara-negara Muslim akan terus kehilangan kekayaan atas kekayaan mereka sendiri.
Situasi saat ini dinilai telah mencapai titik kritis yang sangat berbahaya. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad memberikan peringatan keras bahwa ketegangan ini bisa memicu konflik berskala global yang sulit dihentikan.
“Kezaliman ini kini semakin meningkat, sehingga tampak bahwa perang besar dalam skala luas akan terjadi. Bahkan, tanda-tanda perang dunia telah dimulai,” ungkapnya.
Selain ancaman jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar, krisis ini diprediksi akan menghancurkan stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara yang menggantungkan diri pada komoditas minyak dan sumber daya alam lainnya.
Langkah konkretnya, Khalifah mendorong para pemimpin negara Muslim untuk berani menjaga ego nasionalisme secara maksimal. Ia meminta agar kebijakan luar negeri setiap negara Muslim beralih fokus pada keselamatan kolektif umat Islam dunia.
“Hendaknya pemerintah-pemerintah Muslim tidak hanya mementingkan kepentingan negara mereka sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan umat Islam,” serunya.
Menutup khutbahnya, ia mengajak seluruh kaum Muslimin untuk kembali ke khittah ajaran Islam, yaitu menjadi pembawa kedamaian bagi sesama. Kekuatan spiritual melalui doa disebut sebagai senjata utama umat di tengah kegentingan ini.
“Dunia Muslim serta kaum Muslimin harus menjadi damai dan hidup sebagai saudara satu sama lain. Inilah ajaran Islam. Pekerjaan kita hanyalah ini, yaitu kita berdoa, semoga kedamaian dapat tercipta di dunia,” tutupnya.


















































