Krisis Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global, Pasokan Minyak Menipis

2 hours ago 1

Krisis Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global, Pasokan Minyak Menipis

Dana Moneter Internasional (IMF). ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.

Harianjogja.com, WASHINGTON—Ketegangan berkepanjangan di Selat Hormuz kini menjadi sorotan dunia. Sejumlah lembaga internasional terkemuka memperingatkan bahwa krisis tersebut berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk negara-negara di Belahan Bumi Utara.

Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Badan Energi Internasional (IEA), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu dampak luas terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, hingga aktivitas ekonomi lintas negara.

“Perang di Timur Tengah menimbulkan dampak yang besar dan sangat asimetris terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi di berbagai negara dan wilayah,” demikian pernyataan resmi yang dirilis Jumat (29/5/2026).

Lembaga-lembaga tersebut menyoroti bahwa negara-negara rentan menjadi pihak yang paling terdampak, terutama akibat lonjakan harga bahan bakar dan pupuk. Namun demikian, negara maju di Belahan Bumi Utara juga tidak kebal dari efek domino krisis ini.

Salah satu perhatian utama adalah penurunan drastis cadangan minyak global. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia—membuat pasokan minyak menyusut dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Persediaan minyak global sedang berkurang dengan kecepatan mencapai rekor sebagai respons terhadap hilangnya pasokan besar-besaran melalui Selat Hormuz,” lanjut pernyataan tersebut.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena terjadi menjelang puncak permintaan energi pada musim panas di Belahan Bumi Utara. Jika jalur pelayaran tidak segera kembali normal, risiko krisis energi global diperkirakan akan semakin meningkat, termasuk potensi lonjakan harga bahan bakar dan tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Keempat lembaga tersebut menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi serta memperkuat koordinasi global guna menjaga stabilitas ekonomi dan membantu negara-negara yang terdampak paling parah.

Krisis ini tidak lepas dari eskalasi konflik geopolitik. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Situasi sempat mereda setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.

Namun, upaya diplomasi lanjutan belum membuahkan hasil. Perundingan di Islamabad berakhir tanpa kejelasan, sementara Amerika Serikat justru memperketat tekanan dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Jika ketegangan ini terus berlanjut, Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia berisiko mengalami gangguan lebih besar, yang pada akhirnya dapat memperdalam krisis ekonomi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news