Libur Maulid Nabi Dongkrak Okupansi Hotel di DIY hingga 15 Persen

3 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 ikut mengerek tingkat hunian kamar hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat okupansi hotel selama periode 22-26 Agustus 2026 berada di kisaran 45%-65%, atau naik 5%-15% dibandingkan hari biasa.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan peningkatan reservasi juga terlihat pada 24 Agustus 2026. Kenaikan permintaan kamar tersebut menjadi salah satu dampak dari momentum libur Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Ini bergerak naik reservasi tanggal 24 Agustus bekisar 10%. Dibanding hari biasa kenaikannya 5%-15%," ujarnya, Senin (24/8/2026).

Meski terjadi kenaikan okupansi selama libur panjang, kondisi bisnis perhotelan DIY belum sepenuhnya kembali ke tingkat pendapatan tahun sebelumnya. Deddy menyebut tingkat okupansi hotel sepanjang Januari-Juli 2026 berada di kisaran 60%-70%, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu rata-rata mencapai 60%-75%.

Menurut Deddy, peningkatan biaya operasional menjadi salah satu kondisi yang membuat kenaikan okupansi belum otomatis meningkatkan pendapatan hotel dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, pelaku usaha perhotelan juga menghadapi daya beli masyarakat yang dinilai belum sebaik tahun sebelumnya.

"Tidak berani menyesuaikan harga kamarnya karena daya beli masyarakat yang baru tidak baik-baik saja," jelasnya.

Hotel DIY Siapkan Diskon Jelang Low Season

PHRI DIY memperkirakan tantangan bagi industri perhotelan akan kembali muncul ketika memasuki September-November 2026. Periode tersebut diperkirakan menjadi masa low season bagi kunjungan wisatawan ke DIY.

Untuk menjaga tingkat hunian kamar, hotel-hotel di DIY menyiapkan berbagai strategi. Salah satunya melalui pemberian diskon dan penawaran paket yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.

PHRI DIY juga telah menggelar Table Top Guyub Sesarengan sebanyak 13 kali. Kegiatan terakhir berlangsung di Surabaya pada bulan lalu dengan membawa berbagai penawaran dari hotel-hotel yang ikut serta.

"Sudah ke 13 terakhir di Surabaya bulan lalu dan memberikan paket hemat yang setiap hotel mempunyai cara yang berbeda-beda baik besaran harga dan isi paketnya serta diskon harga kisaran 10%-20% dari harga publish," paparnya.

Strategi tersebut dilakukan ketika industri perhotelan DIY memasuki periode kunjungan yang lebih rendah. Besaran harga dan isi paket disesuaikan oleh masing-masing hotel, sementara potongan harga yang ditawarkan berada pada kisaran 10%-20% dari harga publish.

Asita Catat Permintaan Wisata Naik 5%

Dari sektor perjalanan wisata, DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY juga mencatat adanya peningkatan permintaan selama libur Maulid Nabi Muhammad SAW 2026.

Ketua DPD Asita DIY Trianto Sunarjati mengatakan pantauan sementara menunjukkan permintaan perjalanan wisata meningkat sekitar 5% dibandingkan hari biasa. Besaran pertumbuhan tersebut berbeda-beda bergantung pada segmen pasar, jenis paket perjalanan, serta destinasi yang ditawarkan setiap pelaku usaha.

Peningkatan permintaan paling tinggi tercatat pada 22-25 Agustus 2026. Puncak kunjungan diperkirakan berlangsung pada akhir pekan yang berdekatan dengan periode libur Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Karena momentum tersebut tidak merupakan rangkaian cuti bersama yang panjang, pola perjalanan wisatawan cenderung lebih singkat, terutama dalam bentuk short trip selama dua hingga tiga hari," ujarnya.

Pasar domestik masih menjadi penopang utama perjalanan wisata menuju DIY. Wisatawan yang datang antara lain berasal dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta wilayah DIY dan sekitarnya.

Permintaan perjalanan wisata juga tidak hanya berasal dari wisatawan individu dan keluarga. Rombongan komunitas, sekolah, serta kelompok perusahaan turut menjadi bagian dari pasar perjalanan wisata ke DIY.

Dari sisi tujuan perjalanan, Malioboro dan kawasan pusat Kota Yogyakarta, Prambanan, Kaliurang, serta destinasi pantai di Gunungkidul dan Bantul masih menjadi sejumlah pilihan yang cukup diminati wisatawan.

"Di saat yang sama, pola minat wisatawan mulai mengalami perkembangan. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi ikonik, tetapi semakin tertarik mengkombinasikan perjalanan dengan wisata alam, kuliner, desa wisata, serta aktivitas yang menawarkan pengalaman lokal," lanjutnya.

Wisatawan Mulai Cari Pengalaman Lokal

DPD Asita DIY menilai perubahan pola perjalanan wisata menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pelaku industri. Wisatawan tidak hanya berorientasi pada kunjungan ke destinasi yang sudah dikenal, tetapi juga mulai menggabungkan beberapa jenis aktivitas dalam satu perjalanan.

Kombinasi tersebut mencakup wisata alam, kuliner, desa wisata, hingga kegiatan yang memberikan pengalaman lokal. Perubahan minat itu menjadi bagian dari dinamika permintaan wisata ke DIY sepanjang 2026.

Untuk periode Januari-Juli 2026, DPD Asita DIY menilai permintaan perjalanan wisata menuju DIY masih menunjukkan tren yang cukup positif. Namun, pertumbuhan tersebut belum tentu terjadi secara merata pada setiap bulan maupun setiap pelaku usaha.

"Permintaan wisata ke DIY masih cukup terjaga, terutama pada momentum libur nasional, akhir pekan panjang, libur sekolah, maupun periode tertentu yang memiliki daya tarik khusus. Namun, kita juga perlu melihat kualitas pertumbuhannya, bukan hanya jumlah kunjungannya," jelasnya.

Trianto mengatakan terdapat sejumlah faktor yang menopang kondisi pariwisata DIY. Salah satunya adalah aksesibilitas yang semakin baik melalui jalur udara, kereta api, maupun jalan darat.

DIY juga memiliki keragaman produk wisata yang menjadi daya tarik tersendiri. Pilihannya mencakup wisata budaya, sejarah, alam, kuliner, belanja, hingga berbagai event.

Perkembangan promosi melalui kanal digital dan media sosial turut memengaruhi cara wisatawan menentukan perjalanan. Informasi mengenai destinasi serta pengalaman wisata dapat tersebar dengan cepat dan mendorong keputusan perjalanan, termasuk untuk rencana wisata yang dibuat dalam waktu relatif singkat.

Asita Dorong Wisatawan Tinggal Lebih Lama

Di balik peningkatan permintaan perjalanan wisata, DPD Asita DIY melihat masih terdapat sejumlah tantangan. Pola kunjungan yang semakin pendek, persaingan antar-daerah yang meningkat, serta upaya memperpanjang lama tinggal dan meningkatkan belanja wisatawan menjadi hal yang perlu diperhatikan.

"Yang perlu kita dorong bukan hanya bagaimana wisatawan datang ke Yogyakarta, tetapi bagaimana mereka tinggal lebih lama, melakukan lebih banyak aktivitas, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat serta pelaku UMKM," jelasnya.

Menurut Trianto, pengembangan paket dan pengalaman wisata yang lebih beragam dapat menjadi salah satu cara mendorong wisatawan memperpanjang masa tinggal di DIY.

Wisatawan yang awalnya hanya berencana mengunjungi satu atau dua destinasi dapat diarahkan untuk menikmati pengalaman lainnya. Pilihannya meliputi kuliner lokal, desa wisata, aktivitas budaya, wisata alam, hingga kegiatan berbasis komunitas.

DPD Asita DIY secara umum tetap optimistis terhadap prospek pariwisata DIY. Daerah ini memiliki kombinasi budaya, sejarah, alam, kuliner, kreativitas masyarakat, serta berbagai event yang dinilai menjadi modal untuk mempertahankan daya saing sebagai destinasi wisata nasional.

Karena itu, DPD Asita DIY mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, industri pariwisata, komunitas, masyarakat, dan pelaku UMKM. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan potensi wisata yang tersedia agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

"Tantangannya sekarang adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas menjadi pengalaman yang semakin menarik, berkualitas, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news