Litto Jogja Tembus Top 25 WISH 2026, Ini Konsep Wisatanya

5 hours ago 3

Harianjogja.com, BANTUL—Potensi alam perbukitan Dlingo membawa Litto Jogja masuk dalam jajaran Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026. Pencapaian tersebut menjadi bagian dari program akselerasi usaha pariwisata Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sekaligus membuka kesempatan bagi Litto Jogja untuk menguji dan mengembangkan model bisnis berbasis alam dan karakter lokal.

Perjalanan menuju 25 besar tidak mudah. Litto Jogja sebelumnya harus bersaing dengan 570 pelaku usaha pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia.

Setelah berhasil masuk Top 25 WISH 2026, Litto Jogja akan menjalani pendampingan intensif melalui skema one-on-one dan penguatan model bisnis. Tahapan tersebut kemudian berlanjut dengan Demo Day di Jakarta pada 15-17 Oktober 2026.

General Manager Litto Jogja, Agus Setiawan atau Wawan, mengatakan capaian tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana konsep pariwisata yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan.

Bagi Litto Jogja, penginapan tidak sekadar disiapkan sebagai tempat bermalam. Kawasan tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang memadukan pengalaman berwisata, kesehatan, makanan, pembelajaran lingkungan, dan interaksi dengan alam.

Empat Pilar Konsep Litto Jogja

Konsep tersebut diterapkan melalui empat pilar utama, yakni hospitality, wellness, gastronomi, dan eco-learning. Berbagai aktivitas juga dikembangkan berdasarkan pendekatan tersebut.

Sejumlah program yang ditawarkan meliputi corporate & executive wellness retreat, eco-learning day bagi pelajar, serta pengalaman garden-to-table yang mempertemukan wisatawan dengan proses pangan dari lingkungan sekitar.

Wawan mengatakan identitas Litto Jogja turut dipengaruhi gagasan satoyama dari Jepang. Konsep tersebut menempatkan manusia dan alam sebagai bagian dari satu kesatuan, tetapi penerapannya tetap disesuaikan dengan karakter lokal.

"Konsep kami terinspirasi dari prinsip satoyama way of living asal Jepang—hubungan harmonis antara manusia, alam, pangan, dan komunitas. Prinsip ini kami terjemahkan melalui kekayaan alam, budaya, dan keramahan lokal perbukitan Dlingo," jelas Wawan.

Menurut Wawan, karakter perbukitan Dlingo menjadi bagian penting dalam pengalaman yang hendak dibangun Litto Jogja. Alam tidak hanya berfungsi sebagai latar bagi wisatawan, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas yang dapat dinikmati pengunjung.

Pengembangan kawasan tersebut juga diarahkan agar manfaat kegiatan pariwisata tidak hanya berada di dalam area Litto Jogja. Kolaborasi dengan masyarakat sekitar dan penggunaan sumber daya lokal menjadi bagian dari upaya membangun kegiatan wisata yang berjalan beriringan dengan lingkungan serta perekonomian warga.

Top 25 WISH Jadi Momentum Evaluasi

Founder Litto Jogja, Irma Devita, mengatakan keberhasilan masuk Top 25 WISH 2026 justru menghadirkan tanggung jawab baru bagi pengelola. Tahapan berikutnya tidak hanya berkaitan dengan pengakuan, tetapi juga penguatan konsep yang selama ini dikembangkan.

"Masuk Top 25 WISH 2026 bukanlah garis akhir, melainkan validasi sekaligus tanggung jawab untuk membangun Litto dengan konsep yang lebih matang, pelayanan terbaik, serta dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat," ungkap Irma.

Karena itu, pendampingan yang akan dijalani Litto Jogja menjadi ruang untuk mengevaluasi sekaligus mempertajam model usaha. Skema one-on-one dan penguatan model bisnis diharapkan membantu pengelola melihat peluang pengembangan produk tanpa menghilangkan identitas kawasan.

Ke depan, Litto Jogja akan tetap mengembangkan produk wisata yang bertumpu pada alam dan wellness. Pendekatan tersebut dipadukan dengan upaya mempertahankan karakter lokal Jogja sehingga pertumbuhan bisnis tidak berjalan dengan mengorbankan lingkungan maupun identitas masyarakat di sekitarnya.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news