Megawati Terima Diplomat Irak, Bahas Konflik Timur Tengah

3 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA — Isu konflik Timur Tengah kembali menjadi sorotan dalam pertemuan penting antara tokoh nasional dan perwakilan diplomatik asing di Jakarta. Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia, Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, untuk membahas dinamika geopolitik terkini sekaligus memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Irak.

Dalam pertemuan yang berlangsung di kediamannya di Menteng, Jakarta, Senin, pembahasan tidak hanya menyoroti situasi panas di kawasan Timur Tengah, tetapi juga menelusuri kembali sejarah panjang hubungan diplomatik kedua negara yang telah terjalin sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Al-Khalidy mengawali dialog dengan mengenang kunjungan bersejarah Presiden Soekarno ke Baghdad pada 1961, yang saat itu disambut langsung oleh Perdana Menteri Irak, Mayor Jenderal Abdel Karim Qassim.

“Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut,” kata Al-Khalidy.

Kunjungan tersebut, lanjutnya, memiliki makna strategis dalam mempererat hubungan diplomatik, mempertegas dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, serta memperkuat solidaritas negara-negara dunia ketiga.

Hubungan Indonesia dan Irak sendiri telah terjalin sejak 1950, dengan Irak menjadi salah satu negara yang lebih awal mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure pada 1947. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baghdad kemudian resmi dibuka pada 27 Maret 1950 sebagai simbol penguatan kerja sama bilateral.

“Hubungan Indonesia dan Irak sudah masuk tahun ke-76, kami terus berharap tetap kuat dan hangat, kami juga tahu sikap Ibu Megawati saat menjadi presiden yang menolak serangan terhadap Irak tahun 2003,” ujar Al-Khalidy.

Dalam pembahasan isu terkini, Al-Khalidy menyampaikan sikap pemerintah Irak terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

“Pemerintah kami secara resmi mengutuk serangan AS dan Israel ke Iran, namun juga mengutuk serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangganya. Kami menolak perang ini, kami menjunjung tinggi mekanisme dialog, negosiasi dan perdamaian,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Megawati Soekarnoputri menilai serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara merdeka, karena bertentangan dengan Piagam PBB, hukum internasional, serta prinsip Dasa Sila Bandung.

Ia juga mengingat kembali sikap politiknya saat menjabat sebagai Presiden RI pada 2003 yang secara tegas menolak invasi Amerika Serikat ke Irak.

“Saya ini berteman dengan George W Bush, Presiden AS saat itu, tapi sikap politik kami berbeda, saya menolak serangan AS terhadap Irak tahun 2003 saat saya masih Presiden Indonesia,” kata Megawati.

Megawati juga menyinggung peristiwa serangan 11 September 2001 di World Trade Center (WTC), New York. Ia menegaskan posisinya yang menolak terorisme, namun tidak sepakat jika terorisme dikaitkan dengan agama tertentu.

“Saya presiden pertama yang datang ke AS setelah peristiwa 11 September bertemu Presiden Bush menyampaikan simpati saya dan mengutuk terorisme, tapi saya juga menyampaikan penolakan saya mengaitkan terorisme dengan ajaran Islam,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Megawati menjelaskan bahwa pandangan geopolitiknya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Bung Karno, termasuk dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang melahirkan Dasa Sila Bandung sebagai fondasi Gerakan Non-Blok. Ia juga menyinggung pidato Bung Karno berjudul To Build the World Anew di Sidang PBB yang mempromosikan Pancasila serta gagasan anti-imperialisme dan anti-kolonialisme.

Al-Khalidy merespons bahwa dirinya pernah mempelajari hasil Konferensi Asia-Afrika saat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Baghdad. Ia juga mengaku pernah bersinggungan dengan isu reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat bertugas sebagai diplomat.

“Ternyata Bung Karno sudah melontarkan ide reformasi PBB di tahun 1960 melalui pidatonya, jauh sebelum pembahasan masalah reformasi PBB yang ramai dibahas sejak tahun 1993,” katanya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan sesi pertukaran cinderamata sebagai simbol persahabatan kedua negara. Megawati memberikan sejumlah kenang-kenangan, termasuk buku Bung Karno tentang Pancasila dalam bahasa Inggris, pidato To Build the World Anew, biografi politik Megawati dalam bahasa Arab, miniatur Candi Borobudur, serta kain tenun Endek Bali.

“Harapan saya, kalau Yang Mulia memakai baju ini akan selalu ingat saya dan Indonesia,” kata Megawati.

“Tentu yang Mulia,” jawab Al-Khalidy.

Sebagai balasan, pihak Kedutaan Irak memberikan lukisan khas arsitektur Al-Kadzimiyah di Baghdad serta manisan tradisional Irak al-manna wa salwa. Sejumlah duta besar negara sahabat diketahui juga menjalin komunikasi dengan Megawati dalam beberapa waktu terakhir, terutama pasca meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, yang kini menjadi perhatian global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news