Membaca Yogyakarta lewat Buku Merakit Ayodya

1 hour ago 1

Membaca Yogyakarta lewat Buku  Merakit Ayodya

Anggota DPRD DIY Muhammad Syafi ’i (berdiri, kedua dari kiri) memaparkan tentang pentingnya budaya membaca bagi masyaraka./ Harian Jogja-Stefani Yulindriani

JOGJA—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku berjudul Merakit Ayodya di Warungboto, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, Senin (21/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mendorong masyarakat meningkatkan minat baca dan literasi.

Selain meningkatkan minat baca, kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat sehingga berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Penulis buku Merakit Ayodya, Nasrul Khoiri, mengatakan buku tersebut mengulas berbagai sisi kehidupan Jogja dengan berangkat dari sejarah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dia menjelaskan 267 tahun silam Kraton secara resmi berpindah ke lokasi strategis di dekat Umbul Pacethokan dan Hutan Beringharjo. Peristiwa tersebut menandai lahirnya sebuah kerajaan baru yang memiliki cita-cita menjadi sumber kemakmuran.

“Dari sinilah nama Yogyakarta berakar, terinspirasi dari Ayodhya yang melambangkan kedamaian tanpa konflik dan karta yang berarti kebaikan. Jogja diharapkan menjadi kota yang tenang, sejahtera, dan terhindar dari gejolak sosial,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam bedah buku tersebut, Senin.

Menurut dia, perjalanan sejarah tersebut kemudian membentuk identitas Jogja sebagai kota pelajar, budaya, perjuangan, wisata, dan seni. Peran Jogja dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia serta kontribusi tokoh-tokoh pemikirnya juga menjadi bagian yang dibahas dalam buku tersebut.

“Buku ini menyajikan kaleidoskop pandangan dan pemahaman tentang berbagai aspek kehidupan di Jogja,” katanya.

Pembahasan dalam buku tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari sejarah, seni dan budaya, eksistensi batik, pendidikan, sumber daya manusia, kesehatan, tata kota, lingkungan, agama, ekonomi, politik, pariwisata, hingga kehidupan sosial dan tata krama masyarakat.

Tantangan Literasi

Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, mengatakan budaya membaca penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Menurut dia, peningkatan literasi juga dapat berdampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

“Penting bagi masyarakat memiliki budaya membaca. Budaya membaca akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan begitu, saya berharap ekonomi masyarakat juga dapat meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat literasi,” ujarnya.

Praktisi, Budi Wiyarno, mengatakan kegiatan bedah buku dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan dengan masyarakat. Menurut dia, banyak pengetahuan dari masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Dengan program ini, terutama masyarakat yang suka mendongeng dan memiliki ilmu, pengetahuan yang selama ini jarang dimanfaatkan masyarakat bisa lebih berguna,” katanya.

Dia menilai kegiatan literasi juga menghadapi tantangan dari tingginya minat masyarakat terhadap telepon seluler. Karena itu, kegiatan seperti bedah buku dinilai dapat menjadi salah satu sarana untuk kembali memperkenalkan budaya membaca kepada masyarakat.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, mengatakan bedah buku tersebut digelar untuk menarik minat masyarakat meningkatkan literasi. Dia berharap peningkatan literasi membuat masyarakat lebih bijak dalam menyikapi berbagai informasi dan persoalan.

“Bedah buku ini digagas untuk menarik minat masyarakat untuk meningkatkan literasinya, sehingga masyarakat dapat lebih bijak dalam bertindak ketika tingkat literasinya meningkat,” katanya. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news