Momen Haru di Sekolah Rakyat Sragen, Doa Ibu untuk Masa Depan Anak

6 hours ago 3

Momen Haru di Sekolah Rakyat Sragen, Doa Ibu untuk Masa Depan Anak

Tangis haru pecah di Sekolah Rakyat Sragen saat seorang ibu buruh menyampaikan harapan agar anaknya memiliki masa depan lebih baik melalui pendidikan. /Espos.

Harianjogja.com, SRAGEN—Suasana haru menyelimuti Aula Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sragen saat kegiatan Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) digelar pada Selasa (14/7/2026). Tangis para orang tua tak terbendung ketika mereka dipanggil mendampingi anak-anak yang kini mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, sebuah program yang mereka yakini menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Momen emosional itu berlangsung di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Bupati Sragen Sigit Pamungkas, serta ratusan tamu undangan. Tiga orang ibu yang dipanggil ke atas panggung memeluk erat anak-anak mereka sembari menyampaikan doa dan harapan untuk masa depan sang buah hati.

Harapan Sederhana Seorang Ibu Buruh

Salah satu kisah yang menyentuh datang dari Murni (39), warga Desa Genengduwur, Kecamatan Gemolong. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani sekaligus mencari barang bekas itu memeluk putrinya, Septiana Selfi Safira, siswa baru jenjang SMP di SRT 1 Sragen.

Di hadapan Gus Ipul, Murni menyampaikan harapan yang lahir dari keterbatasan hidup yang selama ini dijalaninya.

"Mugi-mugi Septiana pinter, Pak. Uripe luwih apik. Kula pun boten saget nyambut damel, boten saget nyekolahke, Pak. Matur nuwun kepada Pak Prabowo. Mugi-mugi mboten kados kulo."

Ucapan tersebut membuat suasana aula seketika hening. Sejumlah orang tua tampak mengusap air mata, sementara para tamu memberikan tepuk tangan sebagai bentuk dukungan dan empati.

Berharap Anak Memutus Rantai Kemiskinan

Bagi Murni, kesempatan putrinya bersekolah di Sekolah Rakyat bukan sekadar memperoleh pendidikan, tetapi juga harapan agar kehidupan anaknya kelak lebih baik daripada orang tuanya.

Ia berharap Septiana tumbuh menjadi pribadi yang rajin beribadah, jujur, berbakti kepada orang tua, sekaligus mampu mewujudkan cita-citanya menjadi guru matematika.

Selama ini, keluarga Murni hidup dalam keterbatasan. Mereka belum memiliki rumah sendiri dan masih menumpang di rumah kerabat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Murni mencari barang bekas, sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh bangunan sekaligus buruh tebang tebu.

Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, Septiana tetap dikenal sebagai siswa berprestasi dan kerap meraih peringkat pertama di kelas.

Gus Ipul: Tidak Boleh Ada Pungutan

Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat memang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Ia memastikan seluruh layanan pendidikan diberikan secara gratis tanpa pungutan apa pun.

"Tidak boleh ada yang membayar sepeser pun di Sekolah Rakyat. Tidak boleh ada yang bermain-main dengan program ini. Siapa pun yang terbukti menyalahgunakan akan diberi sanksi," tegasnya.

Siswa Dipetakan dengan Teknologi AI

Gus Ipul juga menceritakan kisah kakak beradik Al Jabar dan Al Fatih yang sebelumnya belum pernah mengenyam pendidikan sebelum akhirnya dijangkau melalui program Sekolah Rakyat.

Selain mengikuti pendidikan formal, para siswa nantinya akan menjalani pemetaan minat dan bakat menggunakan teknologi DNA Talent berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikenalkan oleh Ari Ginanjar.

Menurut Gus Ipul, pemetaan tersebut bertujuan membantu siswa mengenali potensi sejak dini sehingga proses pendidikan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

"Kalau burung jangan disuruh tarik gerobak. Kalau sapi jangan disuruh terbang. Anak-anak memiliki potensi yang berbeda. Kami ingin mengetahui bakat mereka sejak dini agar berkembang sesuai kemampuannya," ujarnya.

Harapan Baru Mengiringi Langkah Para Siswa

Menjelang berakhirnya kegiatan, Septiana, Aliya, Ibnu Majid, dan ratusan siswa lainnya meninggalkan aula dengan seragam baru yang masih rapi dikenakan.

Di sisi lain, para orang tua perlahan melepaskan pelukan terakhir sebelum anak-anak mereka memasuki kehidupan berasrama. Tangis yang semula pecah berganti menjadi harapan bahwa pendidikan di Sekolah Rakyat dapat menjadi jalan memutus rantai kemiskinan sekaligus membuka masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news